Mualaf di Persimpangan Syariat-Nya (Kisah Nyata)

11 Sep

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat email dari salah seorang sahabat saya. Dia juga seorang mualaf sama seperti saya, Sharen namanya. Dulu Kami bertemu di sebuah lembaga pelatihan pramugari di Jogja.

Sharen mahasiswi Atmajaya, gadis cantik keturunan Tionghoa. Kalau mau banding-bandingkan kecantikan dengan Sharen, saya mending tutup muka. Udah pasti kalah jaaauuhhh. Sharen, si gadis Tionghoa ini bukan hanya fasih bahasa Mandarin, tapi juga fasih bahasa Inggris dan bahasa Jawa. maklum Cina Semarang.

Kami sama-sama pramugari waktu itu, bedanya Sharen lebih dahulu diterima jadi pramugari reguler Garuda Indonesia, sementara saya cukup puas di Airline swasta.
Baca lebih lanjut

5 Jawaban Terbaik Wawancara Kerja Saat Ditanya Mengapa Resign

12 Jun

Jika Anda sedang menghadapi tahapan wawancara kerja, dan anda telah mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, tentunya akan ada satu pertanyaan wajib yang akan ditanyakan kepada Anda, yaitu, “Mengapa Anda meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya?”

Satu pertanyaan yang tampaknya mudah untuk dijawab. Namun, berhati-hatilah karena jawaban Anda mungkin saja menjadi salah satu penyebab gagalnya Anda pada tahapan ini. Untuk itu, persiapkanlah dengan sebaik mungkin jawaban-jawaban terbaik dari semua kemungkinan pertanyaan yang ada.

Berikut adalah lima alasan dan jawaban terbaik mengapa Anda meninggalkan pekerjaan sebelumnya, seperti dilansir dari laman JobStreet.com.
Baca lebih lanjut

Antara Mertua dan Menantu

9 Mar

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua.

Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Urainab sering dikritik ibu mertua karena perbedaan sikap dan prinsip mereka dalam semua perkara.

Pertengkaran sering terjadi. Urainab dan ibu mertua selalu berselisih. Yazid, suami Urainab merasa sedih melihat hal itu. Namun, dia tidak mampu menyelesaikan persoalan antara istri dan ibunya.

Jika dia membela ibunya, bagaimana dengan istrinya. Jika dia membela istrinya, tentu akan membuat ibunya sakit hati.

Baca lebih lanjut

Dulu dan Sekarang

8 Mar

Dulu…Aku sangat kagum pada manusia yang cerdas, kaya, berhasil dalam karier, hidup sukses, dan hebat.

Sekarang …Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan manusia yang selalu bersyukur kepada-Nya sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.

Dulu … Aku memilih marah ketika merasa ‘harga diriku’ dijatuhkan oleh orang lain yang berlaku kasar kepadaku dan menyakitiku .. .

Sekarang …Aku memilih untuk banyak bersabar & memaafkan karena aku yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan & bersabar.

Baca lebih lanjut

Aku Mencintaimu Karena Kamu Cerewet

8 Mar

“Ibu, Bapak,” begitu aku memulai pertanyaan di seminar parenting lalu, “Siapa yang di sini baru punya anak satu?”

Hampir semuanya mengancungkan jari.

“Punya anak dua?”

Masih banyak yang ngacung.

“Anak tiga?”

Wuih, masih banyak aja.

“Anak empat?”

Beberapa sudah turun tangan, tapi masih banyak emak-emak yang ngacung. Sambil nyengir lagi.

“Oke, anak enam?”

Yang tadi nyengir mulai ketawa. Tapi tetap ngacung. Subur bener.

“Oke, anak delapan?”

Semua tangan sudah turun. Kecuali satu di pojokan sana. Ternyata bapak-bapak.

“Anak Sembilan?”

Sudah tidak ada yang ngancung.

Baca lebih lanjut

Talkin

7 Mar

“Buk, tolong ibu saya. Tolong talkinkan ibu saya. Tolong …,” pinta Ipung, anak tetanggaku, wajah memelas dalam nafas terengah-engah.

Mungkin untuk menuju kemari, ia harus berlari-lari.

Aku kaget bukan kepalang mendengar ucapan Ipung. Memang Bu Min, ibunya Ipung, sudah sakit sejak lama. Penyakit diabetes yang dideritanya terus menggerogoti daya tahan tubuh.

Terakhir kali, beliau sudah tidak bisa berjalan. Jika kebetulan lewat dan melihatnya terduduk di kursi roda di teras rumah, biasanya aku akan menyapa dan bercengkrama sebentar.

Bahkan, tadi pagi pun, sepulang belanja sayur, aku masih menyapanya. Tak dinyana, sore hari harus mendengar kabar ini.

Baca lebih lanjut

Memuhammadiyahkan NU Secara Singkat

6 Mar

Pak AR Fachrudin mengagumi Gus Dur dan Gus Dur pun mengagumi Pak AR.

Suatu saat, Pak AR diminta mengisi kultum di sebuah masjid di Jawa Timur, pada saat bulan Ramadhan.

Seusai salat Isya’, pak AR naik ke mimbar dan mengisi tausiah, dengan waktu yang singkat. Hadirin terkesima.

Ketika tiba shalat tarawih, para sesepuh masjid meminta Pak AR, sekalian mengimami. Pak AR tidak bisa menolak.

Beliau lantas bertanya ke hadirin, “Biasanya tarawih plus salat witir berapa rakaat?”

Hadirin menjawab, “Duaaa puluuuh tigaaa rakaaat…”

Pak AR sebagai orang Muhammadiyah tulen, yang biasa salat tarawih plus witir sebelas rakaat pun, mengangguk santai.

Mulailah beliau mengimami shalat tarawih dengan khusyuk.

Baca lebih lanjut