5 Jawaban Terbaik Wawancara Kerja Saat Ditanya Mengapa Resign

12 Jun

Jika Anda sedang menghadapi tahapan wawancara kerja, dan anda telah mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, tentunya akan ada satu pertanyaan wajib yang akan ditanyakan kepada Anda, yaitu, “Mengapa Anda meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya?”

Satu pertanyaan yang tampaknya mudah untuk dijawab. Namun, berhati-hatilah karena jawaban Anda mungkin saja menjadi salah satu penyebab gagalnya Anda pada tahapan ini. Untuk itu, persiapkanlah dengan sebaik mungkin jawaban-jawaban terbaik dari semua kemungkinan pertanyaan yang ada.

Berikut adalah lima alasan dan jawaban terbaik mengapa Anda meninggalkan pekerjaan sebelumnya, seperti dilansir dari laman JobStreet.com.
Baca lebih lanjut

Iklan

Antara Mertua dan Menantu

9 Mar

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua.

Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Urainab sering dikritik ibu mertua karena perbedaan sikap dan prinsip mereka dalam semua perkara.

Pertengkaran sering terjadi. Urainab dan ibu mertua selalu berselisih. Yazid, suami Urainab merasa sedih melihat hal itu. Namun, dia tidak mampu menyelesaikan persoalan antara istri dan ibunya.

Jika dia membela ibunya, bagaimana dengan istrinya. Jika dia membela istrinya, tentu akan membuat ibunya sakit hati.

Yazid hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga persoalan antara istri dan ibunya segera selesai dan mereka hidup damai bersama.

Hari pun terus berlalu, suasana panas di rumahnya tak berubah. Yazid sempat terpikir untuk membawa istrinya pindah dari rumah ibunya. Namun, dia belum memiliki tempat lain untuk ditinggali, apalagi ibunya yang beranjak tua, tak tega dia tinggalkan.

Keadaan semakin memburuk, pertengkaran terus teijadi, dan tidak ada satu pun yang mau disalahkan atas setiap pertengkaran.

Akhirnya, Urainab memutuskan untuk melakukan sesuatu demi mengakhiri pertengkaran dengan ibu mertuanya. Dia berencana akan meracuni mertuanya.

’’Kalau Ibu meninggal, tidak ada lagi yang akan mengganggu hidupku!” pikir Urainab.

Urainab lalu mengunjungi Sufyan bin Umar, seorang ahli obat di sebuah kota. Dia menceritakan masalahnya dan meminta Sufyan bin Umar untuk memberinya racun.

Aku mengerti masalahmu dan betapa kamu menderita karenanya. Aku akan membuatkan racun yang paling ampuh untukmu, asal kamu mendengarkan semua saranku,” kata Sufyan bin Umar.

Urainab mengangguk. Jauh di dalam hatinya, dia merasa berdosa karena memiliki niat yang buruk atas mertuanya. Bukankah dalam Islam telah diajarkan bahwa mertua adalah orangtua juga. Ibu mertua adalah ibunya juga. Namun, rasa sakit hati dan marah telah membakar dirinya.

’Sebelum racun ini diberikan, selama satu bulan menurutlah pada apa yang diperintahkan dan diinginkan oleh ibu mertuamu,” saran Sufyan bin Umar.

Urainab mengangguk setuju.

Urainab lalu pulang dengan lega. Racun yang diberikan Sufyan bin Umar disimpannya dalam dompet.

Hari demi hari berlalu, Urainab menuruti apa yang diperintahkan ibu mertuanya. Dia membersihkan rumah, memasak, menyapu halaman, mendengarkan ibu mertua ketika sedang berbicara dan melakukan banyak perbuatan baik padanya. Dia tidak lagi berdebat dan melayani ibu mertua bagai ibu kandungnya sendiri.

Awalnya, hati Urainab berontak. Namun, dia teringat pesan Sufyan untuk menuruti semua keinginan dan perintah ibu mertua selama satu bulan. Sesudah itu, ibu mertuanya akan dia racun hingga mati. Hari demi hari berlalu, tidak ada lagi pertengkaran di rumah itu.

Yazid sangat bahagia melihat perubahan sikap istri dan ibunya. Istrinya tidak lagi mendebat dan lambat laun ibunya tak bersikap keras lagi.

Suasana rumah menjadi hangat dan nyaman. Urainab merasa senang dan nyaman. Ia dan ibu mertuanya menjadi sepasang sahabat baik.

Satu bulan tiba. Sudah waktunya Urainab meracuni ibu mertuanya. Urainab membuka dompetnya, tiba-tiba dia menangis hebat. Hatinya terasa sakit. Kali ini bukan karena perlakuan ibu mertuanya, melainkan karena niat buruknya.

Kini, dia mengerti kalau ibu mertuanya melakukan semua itu karena ingin mengajarinya menjadi istri yang baik bagi suaminya.

Satu bulan telah mengajarkan banyak hal pada Urainab. Sekarang Urainab bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasak, dan melayani suami dengan baik.

Sayup terdengar di ruang tengah, ibu mertuanya sedang berbincang dengan tamu.

Aku sungguh beruntung memiliki menantu seperti Urainab. Dia adalah menantu terbaik yang kumiliki. Dia sangat patuh, rajin, dan salihah,” ujar ibu mertuanya dengan bangga.

Dada Urainab semakin sesak, ’Ya Allah, maafkan semua salah dan niat burukku.

“Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. “
(HR Tirmidzi dan Ahmad)

Dulu dan Sekarang

8 Mar

Dulu…Aku sangat kagum pada manusia yang cerdas, kaya, berhasil dalam karier, hidup sukses, dan hebat.

Sekarang …Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan manusia yang selalu bersyukur kepada-Nya sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.

Dulu … Aku memilih marah ketika merasa ‘harga diriku’ dijatuhkan oleh orang lain yang berlaku kasar kepadaku dan menyakitiku .. .

Sekarang …Aku memilih untuk banyak bersabar & memaafkan karena aku yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan & bersabar.

Dulu …Aku memilih mengejar dunia dan menumpuknya sebisaku….
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah makan dan minum untuk hari ini.

Sekarang … Aku memilih untuk bersyukur dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa mengisi waktuku hari ini dengan apa yang bisa aku lakukan/perbuat dan bermanfaat untuk sesama.

Dulu …Aku berpikir bahwa aku bisa membahagiakan orang tua, saudara, dan teman-temanku jika aku berhasil dengan duniaku… Ternyata yang membuat mereka bahagia bukan itu melainkan ucapan, sikap, perilaku, sapaanku kepada mereka.

Sekarang …Aku memilih untuk membuat mereka bahagia dengan apa yang ada padaku karena aku ingin ke-manfaat-anku ditengah-tengah mereka…
[Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya]

Dulu … Fokus pikiranku adalah membuat rencana-rencana dahsyat untuk duniaku…Ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-Nya.

Sekarang … Yang menjadi ‘fokus pikiran’ dan ‘rencana-rencana’ ku adalah bagaimana agar hidupku dapat berkenan di mata-Nya dan sesama jika suatu saat nanti diriku dipanggil oleh-Nya.

Τak ada yang dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati ‘hangatnya matahari esok pagi’

Ada yang bisa memberikan jaminan kepadaku bahwa aku masih bisa menghirup udara besok hari?

Jadi apabila hari Ini dan esok hari aku masih hidup, itu adalah karena kehendak-Nya semata, bukan kehendak siapa-siapa.

Renungan ini mengintropeksi kita agar lebih mawas diri bahwa dulu aku ini siapa? Dan sekarang aku mau ke mana?

Semoga di tahun ini, kita menjadi lebih baik, dan bisa merealisasikan visi misi kita bersama. Aamiin…

Aku Mencintaimu Karena Kamu Cerewet

8 Mar

“Ibu, Bapak,” begitu aku memulai pertanyaan di seminar parenting lalu, “Siapa yang di sini baru punya anak satu?”

Hampir semuanya mengancungkan jari.

“Punya anak dua?”

Masih banyak yang ngacung.

“Anak tiga?”

Wuih, masih banyak aja.

“Anak empat?”

Beberapa sudah turun tangan, tapi masih banyak emak-emak yang ngacung. Sambil nyengir lagi.

“Oke, anak enam?”

Yang tadi nyengir mulai ketawa. Tapi tetap ngacung. Subur bener.

“Oke, anak delapan?”

Semua tangan sudah turun. Kecuali satu di pojokan sana. Ternyata bapak-bapak.

“Anak Sembilan?”

Sudah tidak ada yang ngancung.

“Oke, deal ya? Bapak yang anaknya delapan tadi boleh maju? Saya mau kasih hadiah buku buat Bapak.”

Bapak itu berdiri. Menggendong anak usia tiga tahunan. Cewek. Lantas berjalan ke arahku.

“Bapak bener anaknya delapan?”

Beliau mengangguk.

“MasyaAllah. Dari satu istri saja kah, Pak?”

Yang lain pada ketawa.

“Iya dari satu istri,” katanya.

“Yakin? Bohong dosa loh, Pak.”

Eh, si bapak ketawa. “Iya, gak bohong.”

Tapi kan aku belum kenal si bapak. Butuh dibuktikan dong, kalau anaknya benar-benar delapan. Jadi aku tanya-tanyalah beliau.

“Pak, anak nomor lima namanya siapa?”

Si Bapak langsung mikir. Nampak jari-jarinya berhitung. Susah bener beliau mengingat nama anaknya.

“Abdullah Fatih,” jawabnya semenit kemudian.

“Yakin?”

Wajah si Bapak kelihatan ragu,

“Bentar,” beliau menghitung-hitung lagi. Dan itu bikin emak-emak gemes.

Ini nih akibat cuma iuran, tapi gak ikut ngerawat. Begitu mungkin batin emak-emak. Hehehe.

“Iya, bener, Tadz. Abdullah Fatih, namanya.”

“Oke,” tapi aku harus tes lagi, “Ukuran sepatunya ananda Abdullah Fatih berapa, Pak?”

Kelimpungan lagi tuh si Bapak.

Beliau garuk-garuk kepala. Waduh, ngerti gitu gak usah ngaku punya anak banyak. Gitu paling ucap hatinya. Cuma buat dapet buku gratis doang ribet bener.

Si bapak nyengir, “Gak tahu. Yang beliin sepatu Uminya.”

Emak-emak langsung nyinyir, “Tuh, kan.”

Maksudnya, ‘Tuh kan iuran doang.’

“MasyaAllah,” aku tersenyum. Menyerahkan buku Cinta yang Tersambung hingga ke Langit buat beliau.

“Titip salam buat istri, ya, Pak. Dia pasti wanita sabar. Sabar menghadapi tingkah suami. Hehehe.”

Si bapak tertawa. Mengangguk. Balik kanan. Kembali ke kursi.

Setelah itu aku sampaikan kepada semua peserta seminar, bahwa tak mudah menjadi orang tua dari delapan anak. Sebab ibuku juga punya delapan anak. Dan aku melihat sendiri bagaimana lelahnya ibu mengurus anak-anaknya.

Jangankan delapan, aku sama istri yang anaknya baru dua aja, rasanya pingin sholat taubat kalau lihat bocah-bocah sudah mulai rewel dan gak jelas maunya apa. Tapi insyaAllah, jika dilewati dengan sabar, dibekali ilmu agama yang mumpuni, anak-anak itu akan menjadi penyelamat kita di hari kiamat nanti.

Lantas, aku kembali bertanya,

“Bu, Pak. Kira-kira anak mana yang bikin ibu dan bapak sering istighfar lihat kelakuannya? Yang paling sulit diatur. Yang mana, Bu?”

Mereka pun menjawab, “Yang keduaaaa…”

Sisi kiri jawab, “Iya, nomor duaaa!”

Barisan tengah diem. Gak mau jawab. Rupanya itu barisan murid-murid SMA yang jadi panitia acara. Jelas mereka belum punya anak.

“Anak yang mana?”

“Nomor duaaa!!!”

“Nomor dua?”

Mereka mengangguk.

Sejurus kemudian aku berkata, “Kok beda ya jawaban orang Surabaya sama di Bekasi ini. Soalnya orang-orang Surabaya bilang anak yang paling sulit diatur itu bukan anak nomor dua, tapi ANAKNYA MERTUA.”

Dan meledaklah tawa emak-emak. “Iya bener! Bener! Anaknya mertuaku pun gak bisa diatur. MasyaAllah.”

Aku lihat sisi bapak-bapak, “Gimana, Pak?”

Dijawab, “Bener, Tadz. Anaknya mertuaku juga sama. Bikin sering wudhu saking panasnya kepala lihat cerewetnya dia.”

Setelah sekian lama, akhirnya mereka bersepakat juga. Bahwa, anak yang paling susah diatur adalah anaknya mertua. Fix.

***

Memang benar, dalam berkeluarga yang paling susah diatur itu ya anaknya mertua. Bukan anak kandung. Dan inilah tantangannya memang. Sebab bila anak mertua beres, maka anak kandung pasti ikut beres.

Cobalah tengok keluarga Nabi Ibrahim. Ketika Bunda Hajar dan Bunda Sarah beres didikannya, lahirlah anak-anak sholih macam Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.

Atau keluarga Nabi Muhammad. Bunda Khadijah-nya beres, maka hadirlah dari rahimnya seorang putri nan cantik jasmani rohaninya; Fatimah Azzahrah.

Tapi bila anak mertuanya tak beres, anak kandung juga tak beres. Maaf, Nabi Nuh dan Nabi Luth contohnya.

Bahkan seorang Nabi pun tak bisa menyelamatkan anak kandungnya dari kemurkaan Allah, tersebab pasangannya tak beres.

Itulah mengapa di Al-Quran surat Al-Furqan ayat 74, diajarkan siapa dulu yang harus didoakan dalam keluarga,

“… Duhai Tuhan kami, anugerahkanlah pada kami PASANGAN dan ANAK-ANAK kami sebagai penyejuk mata kami. Dan jadikan kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.”

Simak baik-baik. Ustadz Adi Hidayat mengatakan bahwa Al-Quran itu sistematis. Termasuk tentang penyebutan perintah. Dalam Al-Quran disebutkan ‘dirikanlah sholat dan tunaikan zakat’. Artinya sebelum berzakat, sholatnya benerin dulu.

Sama seperti surat Al-Furqan ayat 74, ayat yang selalu menjadi doa ‘wajib’ setiap habis sholat ini. Yang pertama kali harus disebut dalam doa itu siapa?

Right, PASANGAN dulu. Baru anak-anak.

Karena kalau pasangan beres, anak pasti beres. Yakin. Sebab mereka adalah peniru terbaik di alam semesta ini. Mereka akan cepat meniru perilaku orang tua di rumah.

Lebih lanjut, di ayat yang sama sebenarnya Allah berpesan agar kita jadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.

Catat, jadi pemimpin. Bukan jadi orang-orang biasa saja.

Inilah visi kedua dalam berumah tangga versi Al-Quran; ‘VISI 25.74.’ Surat kedua puluh lima, ayat ke tujuh puluh empat.

Hanya saja step by step-nya harus dilalui; BERESIN DULU PASANGAN — ANAK — BARU JADI PEMIMPIN.

Maka, jika kita ingin punya pemimpin yang baik, hayuk berjuang bersama di ranah keluarga ini. Tanamkan baik-baik pendidikan Tauhid di keluarga. Sebab musykil rasanya keluarga pecinta Al-Quran akan memilih pemimpin yang menistakan Al-Quran. Begitu pula sebaliknya.

“Tapi susah banget, Fit, ngurus istri. Cerewetnya itu loh. Pingin aku kasih rem cakram, dah.” Mungkin ada pak suami yang bilang seperti itu.

Iya, aku paham. Tapi istri juga mengaku sama, “Susah banget ngatur bocah kumisan itu. Ya Allah kudu sering istighfar pokoknya kalau lihat kelakuan dia. Pingin aku bawa dia ke Kyai buat diruqyah.”

Karena laki-laki dan perempuan memang BEDA. Dari sononya udah beda memang.

Aku boleh cerita dikit, ya? Eh, gak dikit, ding. Agak panjang dikit. Eh, maksudnya panjang banget. Jadi kalau memang mau nyeduh teh hangat dulu silakan. Sekalian bikin dua, buat aku yang nulis biar gak ngantuk. Jangan lupa cemilannya juga. Tambah mie goreng Aceh juga gak apa, buat aku.

Aku tunggu lima menit, ya… bentar aku juga mau ambil minum dulu.

Lima menit kemudian…

Sruput…

Oke, aku lanjutkan. Sampai mana tadi? Oh, iya. Sampai nambah mie goreng Aceh. Eh, maksudku sampai bahwa laki-laki dan perempuan emang beda. Dari sononya.

Begini, berdasarkan riset pakar neurologi ditemukan fakta, bahwa manusia memiliki otak tengah atau bahasa gaulnya Corpus Callosum.

Perlu diketahui, jika diibaratkan secara sederhana, Corpus Callosum ini adalah jembatan yang menghubungkan ‘kendaraan-kendaraan’ yang melintas dari otak kiri menuju otak kanan. Atau sebaliknya, dari otak kanan ke otak kiri. Nah, kendaraan itu adalah informasi.

Setelah diteliti, Corpus Callosum perempuan ternyata lebih tebal 30 persen dari laki-laki. Itulah sebabnya perempuan bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Mau bukti?

Lihat saja emak-emak di rumah. Dalam satu waktu dia bisa menyuci piring sambil masak. Nyuapin anak makan sambil lipat-lipat baju. Tangan balesin WA di grup, kaki ngepel lantai sekaligus.

Jadi jangan heran emak-emak bisa lakukan itu. Otak tengahnya tebel!

Bandingkan dengan laki-laki. Kalau sudah mengerjakan sesuatu selama 10 menit. Otomatis daya pendengarannya jadi turun drastis. Pikirannya gak bisa dipecah. Bahkan butuh sampai tiga kali dipanggil baru noleh tuh kepala suami.

Itulah yang menyebabkan sering ada cekcok dalam rumah tangga. Istri menganggap suami gak peka. Gak perhatian. Sedangkan suami sendiri bingung kenapa setiap istri manggil dia, pasti wajahnya bak monster. Padahal aslinya, si bapak noleh itu udah panggilan ketiga.

Saat suami baca koran, istri manggil, “Papa ganteng,” manggil dengan tersenyum penuh cinta. Mirip orang yang baru dijanjikan beli gorengan di Mekkah.

Tapi suami gak noleh. Masih fokus baca koran.

“Papa sayang,” masih senyum, tapi mulai kecut.

Akhirnya hilang sudah kesabaran emak-emak berdaster. Tak lama kemudian ia berubah wujud menjadi asli seasli-aslinya. Gigi taring seketika nambah tiga centi.

“PAPAAAH!!!”

Sang suami menoleh, menatap wajah istri sambil refleks baca ayat kursi.

***

Karena otak tengah laki-laki lebih tipis 30 persen dari perempuan itulah juga yang membuat suami gak bisa dimintai tolong beli barang lebih dari satu.

“Abi, popoknya adek habis, nih,” begitu ucap istri, “Tolong belikan popok di toko kampung sebelah, ya.”

Sang suami pun mengangguk. “Oke sayangku. Apa sih yang enggak buat kamu?”

Wajah istri bersemu merah muda, “Gombal.”

“Tapi seneng kan digombalin? Pake pel-pelan.”

Wajah istri yang tadi warna merah muda langsung jadi merah tembaga. “Berangkat!”

Dan berangkatlah si suami. Hanya saja ketika ia baru akan keluar pagar, si istri teringat sesuatu,

“Abi, aku juga titip beli rinso ya. Buat cuci baju. Sekalian susu coklat deh, pingin banget yang seger-seger. Sama kacang kulit gapapa.”

Suami mengangguk ragu. Dia baru mau jalan. Eh, dipanggil lagi.

“Abi, titip beliin kerupuk juga, ya. Dua ribu aja. Buat makan malam.”

Si Suami berucap lemah, “Oke.”

Setelah lima belas menit kemudian suami pulang. Istri membukakan pintu, sambil tersenyum. Tapi saat tahu apa yang dibawa suaminya, senyum si istri berubah jadi seringai serigala lapar.

“Kok Abi bawa kerupuk doang, siiiiiih?!!! Allahu Akbar. Ya Allah ampuni hamba. Ampuni dosa suami hamba. Berilah kami petunjuk-Mu…”

Si suami malah menimpali polos, “Aamiin.”

Padahal awalnya tadi kan titip popok si kecil. Endingnya malah dibawain kerupuk doang. Apes, dah.

***

Perbedaan lain antara laki-laki dengan perempuan terletak pada ‘Otak Bicara’. Diketahui bahwa fungsi otak bicara laki-laki yang aktif adalah sebelah kiri saja. Sedangkan perempuan otak kiri ditambah otak kanan depan. Maka jangan heran bila perempuan lebih bawel dari laki-laki.

Berdasar riset, laki-laki normal punya potensi bicara 5000 kata per hari. Sedangkan laki-laki yang suka bicara paling mentok 9000 kata per hari. Sedangkan emak-emak, punya potensi memuntahkan 20.000 kata per hari. Ngeri! Dan 20.000 kata itu harus dikeluarkan, agar dia gak kena kram otak dan berakibat stroke.

Jadi, bagi perempuan CEREWET itu FITRAH. Sedangkan bagi laki-laki itu KUTUKAN.

Ya sudahlah, Pak. Biarkan istrimu bawel. Jangankan bapak, Umar bin Khotob aja sering diomelin istri. Dan beliau diem aja waktu kena gitu. Siapalah diri kita dibanding khalifah Umar?

Jadi biarkan istri bawel di rumah. Meski panas kuping ini dengerin celotehnya yang itu-itu saja. Kalau gak ngobrolin sinetron Adzab Viral pasti ngobrolin Double Azab. Itu artinya istri Anda masih normal dan sehat. Apa Bapak mau istri sering diem tapi tiba-tiba kena stroke?

Maka setelah mengerti riset tentang otak ini, diharapkan suami istri dapat menghindarkan diri dari percekcokan karena sudah saling memahami tentang ‘fitrah’ otak lelaki dan perempuan.

Jadi diharapkan suami bisa nahan diri menghadapi cerewetnya istri. Sedangkan bagi istri, bisa terus sabar menemani buto ijo dengan segala kelakuannya.

Akhir kata, semoga yang baca tulisan ini sampai tuntas Allah berkahi keluarganya sampai ke Jannah. Dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah. Juga aku doakan semoga emak-emak segera lunas cicilan pancinya.

Indramayu, 30 Desember 2018
01.39 WIB

Fitrah Ilhami

Talkin

7 Mar

“Buk, tolong ibu saya. Tolong talkinkan ibu saya. Tolong …,” pinta Ipung, anak tetanggaku, wajah memelas dalam nafas terengah-engah.

Mungkin untuk menuju kemari, ia harus berlari-lari.

Aku kaget bukan kepalang mendengar ucapan Ipung. Memang Bu Min, ibunya Ipung, sudah sakit sejak lama. Penyakit diabetes yang dideritanya terus menggerogoti daya tahan tubuh.

Terakhir kali, beliau sudah tidak bisa berjalan. Jika kebetulan lewat dan melihatnya terduduk di kursi roda di teras rumah, biasanya aku akan menyapa dan bercengkrama sebentar.

Bahkan, tadi pagi pun, sepulang belanja sayur, aku masih menyapanya. Tak dinyana, sore hari harus mendengar kabar ini.

“Inna lillahi … oh iya, Pung. Hayuk. Eh, bentar dulu,” tukasku.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Menyimpan sendok nasi yang masih tergenggam di tangan. Tadi, gedoran keras dari luar membuatku terburu-buru membuka pintu.

Tanpa sempat berganti baju, aku dan Ipung berjalan cepat menuju rumah Bu Min.

Di komplek ini, entah apa alasannya, aku sudah beberapa kali dipanggil untuk menalkinkan orang. Profesi? Bukan.

Mengiyakan permintaan bantuan para tetangga untuk menalkinkan orang dalam kondisi darurat seperti itu, banyak pelajaran yang bisa kudapat.

Meski, seringkali ada tanya yang menghampiri, “Bagaimana kelak kondisiku saat di situasi seperti itu? Adakah yang bersedia membimbingku? Apakah aku bisa lolos dalam ujian itu?”

Ngeri! Terkadang muncul rasa ngeri membayangkan pertanyaan-pertanyaan ini.

Sampai di sana, beberapa tetangga sudah datang terlebih dulu. Aku bergegas menuju pembaringan Bu Min dan segera duduk di sampingnya.

Wanita itu berusia hampir sama denganku, enam puluh tahunan, dalam kondisi sakaratul maut. Kini badan tambunnya tergeletak tak berdaya.

Mulutnya terbuka. Suara nafas terdengar kencang. Kusentuh kulit Bu Min, sudah mulai dingin. Mungkin inilah yang bernama detik-detik perjuangan.
Seketika hati ikut trenyuh.

Setelah mendekat ke telinganya, perlahan kubisikkan dua kalimat syahadat. Lalu kuulangi perlahan untuk menuntunnya. Bu Min terlihat kepayahan mengikuti. Atau mungkin konsentrasinya sudah separuh pergi.

Kucoba lagi. Kali ini kutuntun dengan kalimat yang lebih pendek, kalimat tauhid.

“Laa Ilaaha illallah ….”

Bu Min tidak bereaksi. Ku usap kepalanya seraya kembali menuntun kalimat tauhid. Ku ulangi, lagi dan lagi. Sesekali kuselipkan kalimat penyemangat, bahwa ia akan memenangkan pertarungan ini.

“Ayo, Bu. Bisa. Ayo kita coba lagi ….”

Hampir setengah jam berlalu. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Bersyukur, kerja keras Bu Min mulai membuahkan hasil. Lidahnya makin bisa mengikuti apa yang ku tuntunkan. Terbata-bata. Penuh kepayahan. Namun bisa sampai tuntas.

Jangan tanya lagi air mataku. Tumpah ruah saat menyaksikan kesungguhan perjuangan seorang manusia, untuk terakhir kalinya.

Sampai … Perjuangan itu mencapai puncaknya. Setelah rampung mengucap kalimat tauhid, rampung pula deru nafas di dada.

Bu Min berpulang pada pemilik sejati.

Dua anak Bu Min, Ipung dan Yana, menangis tergugu. Ratapan mereka terasa menyayat hati.
Begitupun aku, mata ini terus membasah. Sekalipun wajah tenang Bu Min menjadi mimik terakhir, tetap saja, seindah apapun sebuah kematian, kesedihan tetap menggelora. Bersebab fisik tak lagi bisa bersua, untuk selama-lamanya.

Sore menjelang maghrib,
Urusan pemandian jenazah telah usai. Aku pamit pada Ipung untuk pulang ke rumah.
Menurutnya, malam ini juga jenazah almarhumah akan dimakamkan.

“Pung, Ibuk pulang dulu sebentar, ya. Mau angkat jemuran yang tadi masih diluar. Nanti ba’da maghrib Ibuk balik lagi,” ucapku pada anak sulung Bu Min.

Ipung berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ia menawariku untuk mengantar, tapi langsung kutolak. Nenek enam cucu ini Alhamdulillah masih diberi kesehatan.

Aku langsung melangkah pulang.

Sesampainya di rumah, lekas mengangkat jemuran, bebersih badan, lantas sholat maghrib.

Seusai sholat, tanpa diminta memory berputar mundur sejenak.

Saat menalkinkan, konsentrasiku sempat agak oleng. Beberapa kali harus menyaksikan realita yang … akh! Membuat hati ini miris.

Beberapa tetangga yang menengok Bu Min, sesekali mengarahkan handphone bagus untuk memotretnya.

Cekrek!.
Dalam kondisi Bu Min yang tengah kepayahan.

Duhai … untuk apa?
Kenang-kenangan?
Bukankah masih banyak cara untuk mengenang?
Bukankah lebih baik memberi kenanganan yang utama, dengan menyokong perjuangannya?
“Mari ikut mendo’akan.” Seru hatiku kala itu

Argh … Astaghfirullah

Hatiku kian menangis, saat menyaksikan Yana, putri bungsu Buk Min, sepanjang aku menalkin, sepanjang itu pula ia sibuk dengan handphone-nya. Membuat video di menit-menit terakhir sang bunda, seraya satu tangan berkali-kali menyeka air mata.

Duhai, Sayang …
Ini ibumu sedang berjuang.
Tak inginkah kau memompa kekuatan?
Setidaknya agar beliau mampu bertahan, dari serangan syetan yang akan terus membelokkan lidah, di kesempatan terakhirnya
Ambil posisiku, Sayang …

Sadarkah, Nak …
Hanya untuk sebuah kenangan yang bertahun kemudian akan menghilang, kau tukar dengan sesuatu tak tergantikan. Kesempatan.

Kesempatan berbakti sepenuh hati, saat raganya masih bisa kau lihat.
Kesempatan mewujudkan cinta, menuntunkan kalimat tauhid sebagai bekal kehidupan alam selanjutnya.
Yah … nak,
Berilah bekal itu,
Tuntunlah ibumu,

Tapi … akh, iya, dia bukan anakku.


Kini aku memiliki satu pesan untuk kalian, anak-anakku …
Jika saat agung itu tiba,
Talkinkan aku, hingga ujung waktu

Percayalah …
Aku lebih membutuhkan itu
Aku sangat membutuhkan itu
Aku ingin lisanmu yang menuntunku

Tangan berlekas melipat mukena, lalu menyeka bulir bening yang membasahi pipi berkulit keriput.
Malam ini, aku berniat menelpon Gina dan Rumi, untuk menyampaikan permintaan ini.

“Talkinkan aku, anakku …”

Mosleem Watashiwa

Memuhammadiyahkan NU Secara Singkat

6 Mar

Pak AR Fachrudin mengagumi Gus Dur dan Gus Dur pun mengagumi Pak AR.

Suatu saat, Pak AR diminta mengisi kultum di sebuah masjid di Jawa Timur, pada saat bulan Ramadhan.

Seusai salat Isya’, pak AR naik ke mimbar dan mengisi tausiah, dengan waktu yang singkat. Hadirin terkesima.

Ketika tiba shalat tarawih, para sesepuh masjid meminta Pak AR, sekalian mengimami. Pak AR tidak bisa menolak.

Beliau lantas bertanya ke hadirin, “Biasanya tarawih plus salat witir berapa rakaat?”

Hadirin menjawab, “Duaaa puluuuh tigaaa rakaaat…”

Pak AR sebagai orang Muhammadiyah tulen, yang biasa salat tarawih plus witir sebelas rakaat pun, mengangguk santai.

Mulailah beliau mengimami shalat tarawih dengan khusyuk.

Di masjid itu, biasanya untuk mengerjakan shalat tarawih plus witir 23 rakaat butuh waktu sekitar sejam saja.

Sementara saat Pak AR mengimami sudah hampir 1,5 jam masih belum selesai 8 rakaat. Lama sekali bagi jamaah di sana.

Begitu rakaat kedelapan rampung, Pak AR membalikkan badan dan berkata dalam bahasa Jawa halus, “Nyuwun sewu, menika kados pundi, dilajengaken 23 rakaat, menapa langsung salat witir kemawon?” (Mohon maaf, ini bagaimana, dilanjutkan 23 rakaat atau langsung shalat witir saja).

Para jamaah kompak berseru “Wiiitiiiir mawon, Paaaak!” (witir saja pak).

Pak AR melanjutkan shalat witir tiga rakaat. Total jadi 11 rakaat.

Kasus itulah yang membuat Gus Dur sering bergurau, “Di dunia ini, hanya Pak AR, yang sanggup memuhammadiyahkan orang NU secara massal dan singkat.”

Sedekah Si Mbok

5 Mar

Suatu hari di sebuah warung sederhana, di Kepatihan Wetan, Solo, aku mengamati dialog di dalamnya.

“Gratis Mbok?“si Parjo bertanya heran.

“Ya, kenapa? makan aja apa yg kamu suka.”

“Wah…. terima kasih mbok…terima kasih…”

Si Mbok tersenyum riang ketika memperhatikan Parjo, langganannya yang biasa berutang di warungnya, sekarang menyantap makanan dengan lahapnya.

Mungkin kali ini pria itu dapat menikmati makanannya dengan tanpa beban. Keringat meleleh di keningnya.

” Jo…“

“Ya, Mbok. Ada apa? Apa ini hanya guyonan saja Mbok?” Parjo melongo ke arah si Mbok dengan bingung dan mulut yang masih terisi nasi.

Tapi si mbok tetap tersenyum.

“Ini catatan bon kamu ya?” tanya si Mbok dengan tersenyum.

“Ya Mbok. Tapi aku ndak ada duit sekarang.”

“Ya, aku tahu. Kamu memang selalu ndak ada uang akhir-akhir ini. Ya sudah, bon kamu aku hapus..“ jawab simbok dengan senyum.

“Hapus???“ teriak Barjo dengan bengong.

“Wah, lelucon apa lagi ini Mbok. Jangan bikin aku jantungan Mbok. Gratis saja aku sudah bingung…lah sekarang bonku malah dihapus, lagi.“

“Ya ..kamu ndak perlu jantungan. Terima aja. Aku senang kok” Jawab si mbok.

Hari itu ada hampir 40 orang yang datang makan di warung mbok Mijah.

Mereka semua adalah supir angkot, tukang becak, pemulung, pedagang asongan, pengamen jalanan dan tukang minta-minta yang biasa nongkrong di sudut jalan.

Semua menikmati makanan dengan gratis. Bahkan sebagian dari mereka yang punya catatan utang dinyatakan dihapus oleh si mbok.

Kebahagiaan jelas sekali terpancar di wajah si Mbok.

Pemandangan tersebut aku saksikan sendiri sambil asyik menikmati es teh manis.

Mereka yang datang seakan tidak memperdulikanku.
Tapi tidak ada satu pun ekspresi wajah dari mereka yang luput dari perhatianku.

Hari itu memang aku sengaja datang ke warung si Mbok yang jadi langgananku ketika aku mahasiswa dulu.

Si Mbok hampir tidak percaya ketika aku datang.‎

“Maksud mas?“ Tanya si Mbok dengan sedikit terkejut.

“Ya Mbok. Aku ingin tahu berapa jumlah penjualan Si mbok bila seluruh makanannya habis terjual.” tanyaku tanpa memperdulikan keterkejutannya.‎

“400 ribu rupiah, Den. Tapi tidak semua si mbok terima karena sebagian diutangin”

“ Baik. Berapa jumlah catatan utang dari semua pelanggan si Mbok“ tanyaku lagi.

“ Ada Rp. 700 ribu” jawabnya lagi, tapi masih bingung.

“Oke Mbok. Nah ini saya beri uang Rp. 1.500.000.“ kataku sambil memberikan uang itu kepadanya.

“Oh.. Untuk apa ini Den?” Sekarang benar-benar bingung dia.

“Aku hanya ingin memberikan uang ini kepada Si Mbok. Karena dalam keadaan sulit si Mbok masih bisa berbuat baik sama orang. Simbok bisa ngutangin orang yang butuh makan walau simbok sendiri tidak tahu kapan orang itu akan membayar.”

Sambil memperhatikan wajahnya yang berseri dalam kebingungan, kupegang tangannya dan menyerahkan uang itu.

“Nah, apa yang akan si Mbok lakukan dengan uang ini?” sambungku.

“Si Mbok hanya ingin memberi kesempatan semua langganan makan gratis hari ini. Menghapus semua utang mereka.” Jawabnya.

“Mengapa?“ Sekarang gantian aku yg bingung.

“Si mbok orang miskin. Si mbok pengen bersedekah tapi ndak pernah bisa. Wong hidup juga sulit begini.” Katanya.

Ketika senja mulai beranjak malam. Aku melangkah menjauhi sudut jalan itu.

Di dalam mobil aku termenung. Selama ini kita begitu hebatnya menggunakan retorika bahwa kita peduli dengan si miskin.
Kita marah kepada ketidakadilan. Tapi kita tidak berbuat banyak.
Tapi sebetulnya kehadiran Allah tetap ada di lingkungan si miskin.
Dengan kesahajaan di antara mereka dan cara mereka, mereka berbagi untuk saling peduli. Itu…

Negeri ini kuat karena rahmat Allah yang meniupkan pesan cinta ke hati siapa pun untuk saling berbagi.
Masalahnya ada yang bisa membaca pesan itu dan ada yang tidak mampu membacanya.

Si Mbok adalah contoh bahwa pesan cinta Allah dibacanya dengan baik, walau sedikit yang dia punya itulah yang dia bagi… dan dia bahagia karena itu.

Saudaraku…‎
Memang cinta selalu menyehatkan dan menentramkan walau harus dengan memberi sesuatu dimana pada waktu yang bersamaan diri sendiri juga sangat membutuhkannya.

“Berbagi tidak harus menunggu kaya.”

Allah swt berfirman:‎
“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yg dikehendaki-Nya di antara hamba2-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya), dan apa saja yang kamu sedekahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ 34: 39).‎

Semoga bermanfaat.