Mengapa Anak Anda Nakal?

22 Jul

Saat ngopi bareng mas Dodik Mariyanto di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka obrolan dengan satu kalimat tanya:

“Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas?”

Mas Dodik Mariyanto mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran.

“Wah suka banget, bakalan jadi obrolan berbobot nih”, pikir saya ketika melihat kertas dan spidol di tangan mas Dodik.

Mas Dodik mulai menuliskan satu hadist:

*رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد*ِ
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”

Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridha orangtuanya, hal ini akan membuat Allah Ridha juga.

Tapi setiap anak nakal, pasti membuat orangtuanya murka, dan itu akan membuat Allah murka juga.

“Kamu pikirkan implikasi berikutnya dan cari literatur yang ada untuk membuat sebuah pola”, tantang mas Dodik ke saya.

Waaah pak Dosen mulai menantang anak baik ya, suka saya.

Setelah membolak balik berbagai literatur yang ada, akhirnya saya menemukan satu tulisan menarik yang ditulis oleh kakak kelas mas Dodik, yaitu mas Dr. Agus Purwanto DSc, di sana beliau menuliskan bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridha dan murka orangtuanya.

Akhirnya kami berdua mengolahnya kembali, membuatnya menjadi siklus anak baik (lihat gambar siklus 1) dan siklus anak nakal ( lihat siklus 2)

Siklus Anak Baik ( siklus 1)

Anak Baik -> orangtua Ridha -> Allah Ridha -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik

Siklus Anak nakal ( siklus 2)

Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal

Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal? Ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.

Anak Nakal -> ORANGTUA RIDHA ->Allah Ridha -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.

Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. “Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridha ketika anak kita nakal?”

Ini kuncinya:

*َإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“*

“Bila kalian memaafkannya… menemuinya dan melupakan kesalahannya…maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 64:14).

Caranya orangtua ridha adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.

Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab:

“Jika kalian melihat anakmu/anak didikmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya”.

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tahu.

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah orang tua yang tak sabar.

Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil.

Semoga bermanfaat.

Ramuan untuk Penderita Asam Urat

22 Jul

Jangan ketergantungan dengan obat kimia, Jika Anda terkena Asam Urat, cukup minum ramuan ini sekali saja!

Untuk yang punya problem asam urat, saya punya pengalaman 20 tahun yang lalu, saat saya gak bisa shalat karena engkelku bengkak gak bisa ditekuk.

Diberi oleh saudaraku kapsul asam urat dari Amerika (1 kapsul 8 ribu), saya minum 2 hari, sakitnya cuma berkurang sedikit.

Kebetulan saya bertemu denfan orang Lamongan, umurnya 110 tahun, masih gagah, lagi nengok anaknya yang  berumur 90 tahun, namun kelihatan lebih tua.

Dia tanya, “Sampeyan kenapa mas?”

“Asam urat, pak.” jawab saya.

“Oooo, coba cari nanas mateng satu dan lobak putih kira-kira 250 gram, di jus, tambah kemiri 3, diminum sekaligus.”

“Berapa kali minumnya?” tanyaku.

“Sekali saja cukup.”

“Terus minum lagi kapan?”

“Untuk penjagaan 3 bulan sekali cukup.”

Saya turuti saja sarannya, langsung, asam uratku hilang sama sekali, sembuh sama sekali, Syukur sekali.

Saya ikuti tiap 3 bulan minum jus tersebut.

Alhamdulillah sampai sekarang saya gak pernah ngalamin lagi.

Dahsyatnya “Mengangkat Kaki” Selama 15 Menit

22 Jul

Kamu pasti gak akan percaya! Cukup dengan mengangkat kakimu selama 15 menit setiap malam sebelum tidur, kamu akan merasa fisik kamu bugar, energi kamu bertambah dua kali lipat, berbagai macam gangguan seperti sembelit, gangguan pencernaan, pembesaran prostat, dan lain-lain akan sembuh dengan sendirinya.

Cukup 1 gerakan, kamu akan terhindar dari ratusan penyakit. Tapi syaratnya harus dilakukan secara rutin untuk 2-3 bulan.

Jangan sepelekan tindakan kecil seperti ini! Kamu belum tahu fungsinya bagi tubuh.

1. Mendetoksifikasi hati dan ginjal
Pada saat kakimu terangkat di atas, darah akan mengalir kembali ke hati dan ginjal. Hal ini dapat membantu ginjal dan hati bekerja lebih baik untuk mendetoksifikasi racun dalam tubuh dan meningkatkan metabolisme.

2. Menambah energi
Pada saat kaki terangkat, sel-sel tubuh akan teraktivasi seperti pada saat olahraga, sehingga tubuh akan lebih berenergi.

3. Melancarkan aliran darah
Pada saat kaki terangkat ke atas, darah bisa mengalir tanpa hambatan, alhasil metabolisme pun meningkat.

4. Menyehatkan jantung dan menstabilkan tekanan darah
Pada saat kaki terangkat, kita melatih otot inti kita bernafas dan meringankan kerja jantung, alhasil nyeri dada pun akan hilang.

Pada saat bersamaan, jantung menjadi lebih sehat, tekanan darah stabil dan dapat membantu mengurangi stress!

5. Menurunkan lemak darah dan menstabilkan gula darah
Pada saat kaki terangkat ke atas, tubuh akan mengeluarkan keringat, yang otomatis mengeluarkan racun dan membakar lemak di dalam tubuh.

Pada saat bersamaan, limpa kita juga akan terlatih dan fungsi limpa pun meningkat sehingga gula darah dapat terkontrol dengan baik.

6. Meningkatkan fungsi reproduksi
Pada saat kaki terangkat, usus akan bergerak dan kandung kemih juga menjadi lebih kuat, fungsi fisiologis pria dan wanita pun meningkat.

7. Melatih tulang belakang dan mencegah kerusakan sendi
Pada saat kaki terangkat, tulang belakang menjadi lurus dan aliran darah menjadi lancar, alhasil sumsum tulang dapat bekerja lebih baik. Tidak ada lagi masalah bone spur atau degenerasi sendi. Tulang dan sendi menjadi sehat dan kuat.

8. Mengobati insomnia
Pada saat kaki terangkat ke atas, organ-organ tubuh dapat di’reset’ kembali ke fungsi normal. Saatnya untuk tidur, otomatis tubuh akan memerintahkanmu untuk tidur, tidak ada lagi masalah gangguan tidak bisa tidur.

Oke langsung aja, ini dia caranya!

1. Baring lurus di tempat tidur, kedua tangan diletakkan di atas perut, kedua kaki dirapatkan.

2. Angkat kaki ke atas dan lutut ditekuk 90 derajat.

3. Pertahankan posisi ini selama 15 menit.

Ingat! Sebelum dan sesudah melakukan gerakan ini, minum air hangat sekitar 300 ml, tenang, tetap santai, bernafaslah seperti biasa, jangan tahan nafas, gunakan tenaga dari pinggang dan otot intimu.

Semoga bermanfaat.

Cara Menghentikan Mimisan

22 Jul

Seorang anak kecil berusia 2 tahun ketika tengah bermain-main di dalam rumah tiba-tiba hidungnya mengucurkan darah (mimisan).

Segera ibu dari anak kecil ini langsung menyuruh anaknya mendongak ke atas dan menggunakan tissue untuk menyumbat hidung.

Tidak lama kemudian anak itu tampak kesulitan bernafas lalu mulai bernafas melalui mulut serta tiba-tiba jatuh pingsan. Sang ibu langsung melarikannya ke rumah sakit.

Setelah pemeriksaan, dokter yang menangani meminta maaf dan berkata: “Momen berharga untuk pertolongan pertama sudah terlewati, maaf anak ibu sudah tidak dapat ditolong lagi.” Sang ibu langsung pingsan setelah mendengarnya.

Dokter menyatakan bahwa mendongakan kepala pada saat mimisan akan membuat darah justru mudah mengalir masuk kedalam saluran pernafasan. Hal ini akan menyebabkan kesusahan untuk bernafas.

Apabila setelah terjadi benturan terjadi mimisan, maka kemungkinan cairan yang mengalir adalah cairan serebrospinal akibat luka pada bagian tengkorak. Jika menyumbat hidung akan membuat saluran ini mudah terkena infeksi.

Nah, bagaimana jika anak kita mimisan, langkah-langkah apa saja yang harus diperhatikan untuk menolongnya?

1.  Kompres dengan air dingin
Jika darah yang keluar sedikit, ayah/bunda dapat menggunakan kantong es atau handuk yang direndam dalam air dingin untuk mengompres bagian dahi dan leher.

Dapat juga menggunakan air dingin/air es untuk kumur-kumur. Tujuannya adalah agar pembuluh darah agak mengkerut dan mengurangi darah yang mengucur.

2.  Metode menekan hidung
Langkah-langkahnya sebagai berikut, ayah/bunda dapat menggunakan jari jempol dan jari telunjuk menekan/memencet hidung selama 10 – 15 menit (jika ada salah satu lubang hidung tertentu yang mengeluarkan darah maka dapat langsung menekan lubang hidung tersebut).

Saat menekan/memencet hidung, anak berada pada posisi duduk dan kepala agak sedikit maju serta menunduk. Mulut terbuka agar dapat bernafas.

Ingat! Jangan angkat/dongakkan kepala! Karena darah yang mengucur akan mudah tertelan, serta akan menyebabkan lambung terasa mual, ingin muntah, dll. Bahkan jika darah yang mengucur banyak, maka darah dapat mengalir ke paru-paru.

3.  Segera bawa ke rumah sakit
Setelah melakukan langkah-langkah di atas namun darah masih tidak kunjung berhenti atau darah yang keluar malah semakin banyak, wajah anak terlihat pucat, keluar keringat dingin, jantung berdetak kencang, dll, maka sesegera mungkin larikan anak ke rumah sakit.

Perhatikan apabila anak sering mimisan, sebaiknya minta dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendiagnosa apakah hidung anak terkena infeksi, ada benda asing di lubang hidung, ataukah mungkin ada tumor di lubang hidung atau di saluran pernafasan, atau bahkan menderita penyakit yang menyerang pembuluh darah.

4.  Perhatikan makanan
Ketika terjadi mimisan, jangan mengkonsumsi makanan atau  minuman yang panas.

Sebaiknya mengkonsumsi makanan yang dingin, mengandung banyak protein, vitamin, serta zat besi. Seperti: susu, jus buah-buahan, dll, atau makan makanan yang berkuah (cairan), seperti: bubur, misua/mie, dll.

Hindari rokok, minuman beralkohol, makanan pedas dan makanan yang padat/keras. Perbanyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan.

5.  Cegah dehidrasi
Pada saat musim kemarau, anak kecil akan lebih mudah mimisan. Boleh memasang mesin penambah kelembaban udara (humidifier) dan ajarkan si kecil mengkonsumsi air lebih banyak.

6.  Jangan mengorek hidung
Terlalu sering mengorek  hidung akan membuat lapisan pelindung di dalam hidung mudah terluka.

Ayah/bunda sebaiknya mengajari anak-anak agar tidak terlalu sering/kebiasaan mengorek-ngorek hidung.

Benar-benar harus diperhatikan cara menghentikan darah yang mengucur ketika mimisan! Kalau tidak, bisa jadi berakibat fatal!

Semoga bermanfaat.

Bisnis: Sendiri atau Bermitra?

19 Jul

“Baiknya bisnis sendiri atau bermitra?” ada yang bertanya begitu ketika saya coaching.

Terus apa jawaban saya?

Tergantung.

Bermitra itu ada keunggulan tersendiri. Kan saling melengkapi satu sama lain. Betul apa betul? Kuenya (rezekinya) mungkin dibagi-bagi, tapi kuenya sendiri membesar. Begitulah logika rezeki di balik bermitra.

Tapi, kita harus mengakui ada tipe orang yang sangat keras, sangat dominan, sekaligus perfeksionis. Nah, orang seperti ini baiknya bisnis sendiri saja. Tak perlu bermitra. Cukup cari karyawan saja.

Kalau dipaksakan bermitra, belum tentu mitranya betah. Kan repot.

Kembali ke teman-teman yang memutuskan untuk bermitra. Seandainya rugi atau gagal, bolehkah kita menyalahkan mitra? Dalam coaching itu, saya pun memberikan peringatan keras pada mereka. Be responsible.

Harusnya kita membatin, “Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang dapat untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya.” Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap Sang Pemenang.

Nyalah-nyalahin orang lain adalah sikap pecundang. Ya, pecundang. Maaf, memang begitulah adanya. Seorang mitra yang mangkir sekalipun, tetap saja ada kesalahan pada pihak kita. Itu artinya kita tidak selektif di awal. Atau MOU tidak jelas di awal. Sekali lagi, be responsible.

Sekiranya kita mau responsible dan mau introspeksi, maka kita akan naik level. Di mana kemudian kita akan berbenah dan berubah. Kalau begini, siapa yang diuntungkan? Kita tho? Akan beda ceritanya kalau kita nyalah-nyalahin.

Ippho Santosa.

Pengalamanku Menghadapi Ilmu Gendam/Hipnotis

18 Jul

Sebagai orang terpelajar, lulusan ITB , sulit bagi saya menerima kenyataan bahwa beberapa teman alumni ITB pernah kena ilmu gendam atau hipnotis negatif. Bahkan oomku sendiri yang alumni UGM, juga kena ilmu ini dan terpaksa membayar jam “Rolex” sebesar Rp 5 juta.

Hatiku mengumpat dan berjanji untuk dan harus selalu waspada pada ilmu sontoloyo ini.

Aku coba cari beberapa buku literatur sebagai referensi dan ingin tahu ilmu apakah ini serta ingin tahu bagaimana menangkalnya.

Dari beberapa buku itu akhirnya aku tahu apa itu ilmu gendam dan hipnotis negatif dan cara penangkalnya.

Ilmu gendam atau hipnotis negatif adalah ilmu yang berusaha untuk menguasai korban melalui bawah sadar korbannya sehingga si korban bekerja atau bertindak berdasarkan bawah sadarnya dan mengikuti kemauan yang menggendamnya atau menghipnotisnya.

Bila ilmu itu digunakan untuk maksud jahat, maka ilmu itu jelas berasal dari kuasa gelap.

Orang yang terpengaruh adalah mereka yang kurang waspada dan/atau sedang banyak pikiran/ galau, sehingga sangat mudah atau tanpa sadar dipengaruhi dan menurut saja apa kemauan si pemilik ilmu itu. Tetapi ilmu ini tak mempan pada orang-orang yang selalu waspada dan ceria.

Cara kerja ilmu ini sederhana. Biasanya si pelaku menepuk bahu/pundak si korban. Entah bagaimana si korban jadi seperti kerbau dicucuk hidungnya dan jadi penurut pada si pelaku gendam.

Tetapi cara menangkal ilmu ini juga sangat sederhana. Yakni dengan menepuk bahu/pundak kembali atau merangkul si pelaku sebelum 5 menit pertama.

Sebab ilmu ini akan berhasil bekerja dalam 2 – 5 menit pertama saja.

Jika dalam kurun itu tidak berhasil, maka si korban gagal digendam/dihipnotis.

Berikut beberapa pengalaman saya menangkal ilmu gendam/hipnotis negatif ini.

1. Di Bogor : Sesaat setelah saya parkir mobil, ada 3 orang yang bertepuk tangan dan memanggil saya dengan melambaikan tangan. Nah saya sudah tahu siapa mereka. Benar saja saat saya sampai ke mereka, salah satu menawarkan jam Rolex. Dan dengan cepat saya tepuk bahu si penjual sambil saya bilang sudah saya tunggu jam ini dan saya sodorkan duit Rp 1.000. Apa yg terjadi? Ketiga orang itu tampak pucat dan langsung berlarian meninggalkan saya.

2. Di Sarinah – Jakpus. Terjadi hal yang sama. Saat saya sedang asyik melihat-lihat baju batik di lantai 5, eh tiba-tiba ada 3 orang datang dan menepuk pundak saya sambil menawarkan jam Rolex. Dengan cepat saya rangkul si penjual itu dan sekali lagi saya sodorkan Rp 1.000 dan ngomong, ini jam yang saya cari-cari.

Dan seperti yang saya duga, mereka langsung pucat dan berhamburan meninggalkan saya. Hal yang lucu terjadi. Saat mereka turun di lantai dasar dan mencari mangsa lain, tiba-tiba ketemu saya lagi. Dan saya cukup dengan senyuman manis. Eh sekali lagi mereks lari berhamburan meninggalkan saya.

3. Di Mall Bekasi. Sore itu kami sekeluarga ke Gramedia. Sedang saya asyik memilih buku, tiba-tiba ada orang menepuk pundak saya.

Kali ini saya tidakk waspada. Tetapi karena saya aktif di RW, tiba-tiba ada pikiran, bahwa orang yang menepuk adalah warga saya. Maka otomatis saya rangkul orang itu sambil tersenyum saya bilang, apa kabar pak ?. .. tetapi apa yg terjadi ? …. eh orang tsb menjadi pucat pasi dengan matanya menjadi putih semua, dan akhirnya orang itu pingsan di pelukan saya. Maks pelan-pelan saya rebahkan di lantai dan saya panggilkan satpam untuk mengurusnya. Pengunjung Gramedia jadi geger karena ada orang pingsan tanpa sebab.

Nah teman-teman, dari bacaan buku-buku tentang ilmu gendam dan dari pengalaman saya di atas, maka benar bahwa ilmu gendam akan membalik ke pelaku bila kita dalam tempo 2-5 menit pertama dengan cepat balik menepuk atau merangkul si pelaku.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat untuk lebih waspada pada ilmu gendam/hipnotis negatif. Ilmu sontoloyo ini.

Salam,
MasGath (GD-ITB’80)

Orangtua Digital

18 Jul

Suatu malam di stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta. Seorang ibu sedang menebar senyumnya, entah dengan siapa. Tapi bukan kepada orang di sekelilingnya, bukan pula kepada anaknya yang masih balita di sampingnya. Tampak sangat asyik.

Disela lorong sempit, suaminya duduk hampir berhadapan, tepatnya sejajar dengan anak lelaki mereka, juga tengah asyik dengan gadget ukuran cukup lebar di tangannya.

Mungkinkah suami-istri sedang itu asyik bercanda melalui gadget? Sepertinya tidak. Ekspresi mereka menunjukkan keasyikan yang berbeda.

Anak lelakinya sesekali merajuk meminta perhatian, tetapi segera ditepis oleh ibunya, bahkan kadang agak ketus.

Anak itu masih berusaha merebut perhatian ibunya, tapi tetap gagal. Lalu ia mencoba lagi meraih perhatian ayahnya. Tetap sama: gagal.

Beberapa saat kemudian ibunya tiba-tiba dengan wajah penuh semangat berbicara kepada anaknya, meminta berdiri, lalu berpose sejenak untuk diambil gambarnya melalui gadget.

Belum puas, sekali lagi anaknya diminta bergaya. Senyum lebar merekah dari keduanya. Tetapi sesudahnya, ibu itu kembali tenggelam dengan gadgetnya, membiarkan anak lapar perhatian.

Tak kehilangan akal, anak ini lalu menendang trolley bag miliknya. Jatuh. Ibunya segera merenggut tangannya dan memelototinya dengan marah. Anak laki-laki itu segera menangis, menunjukkan pemberontakannya.

Gagal mendiamkan anaknya, meski upayanya belum seberapa, ibu itu segera meminta suaminya turun tangan.

Tak kalah galak, ayah anak lelaki yang “malang” itu segera menampakkan kemarahan dan memaksanya diam. Tapi anak tetap menangis. Berontak.

Anak itu baru diam sesudah jurus ancaman meninggalkan anak itu sendirian di stasiun, dilancarkan ayahnya.

Pemandangan menyedihkan. Inilah orangtua digital yang luar biasa sibuk, bukan karena banyaknya urusan, tetapi karena banyaknya percakapan di sosial media yang mereka ikuti.

Orangtua memperoleh keasyikan dengan gadgetnya, tetapi anaknya menderita kelaparan perhatian.

Diam-diam saya bertanya, seperti apakah saya? Jangan-jangan saya pun telah menjadi orangtua digital yang menganggap semua persoalan dapat diselesaikan dengan up-date status twitter maupun facebook.

Mesra di media sosial, tapi kering dalam berbincang tatap muka. Penuh jempol di laman facebook, tetapi yang bergerak hanya jari tengah dan telunjuk. Bukan jempolnya sendiri.

Pada anak-anak balita, mereka tak dapat mengimbangi dengan aktivitas internet. Tetapi mereka pun mulai belajar menikmati dunianya sendiri dengan gadget, game dan tontonan sembari pelahan-lahan belajar menganggap kehadiran orangtua sebagai gangguan.

Di saat seperti itu, masihkah kita berharap tutur kata kita akan mereka dengar sepenuh hati?

Astaghfirullahal ‘adzim. Kepada Allah Ta’ala saya memohon atas lalai, lengah dan teledor saya terhadap anak-anak dan keluarga.

Tapi bukankah kita tidak dapat mengelak dari kehidupan digital? Emm… Mungkin ya, mungkin tidak. Berkenaan dengan ini, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

Pseudo-Attachment: Seakan Dekat, tapi Tak Akrab 

Jika anak aktif di social media, orangtua memang sebaiknya berteman ataupun saling menjadi follower. Tetapi ini saja tidak cukup. Orangtua tetap perlu memperhatikan tingkat konsumsi anak terhadap social-media.

Merespon status anak di social media juga sangat bagus, tetapi jika tidak mengimbangi dengan aktivitas nir-luring (off line) yang baik, kita dapat terjebak dalam pseudo-attachment (kedekatan semu), seakan saling dekat, padahal masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri; sibuk narsis.

Orangtua merasa dekat dengan anak, padahal mereka sebenarnya belum benar-benar saling mengenal.

Privasi atau Alienasi: Tetap Harus Ada Kontrol Orangtua 

Salah satu kata sakti di era digital ini adalah privasi. Terlebih sejumlah gadget memang menyediakan fitur yang memberikan privasi penuh.

Tetapi satu hal yang harus kita ingat, memberi pupuk (padahal ini sangat bermanfaat) sebelum waktunya justru menjadikan tanaman mati. Bukan sekedar tidak berkembang. Begitu pun privasi, tanpa kendali yang baik dari orangtua di satu sisi, dan kepedulian serta empati yang kuat pada diri anak, memberi privasi penuh justru menjadi pintu awal alienasi. Anak terasing secara sosial, selfish dan egois. Jika ini terjadi, kecakapan sosial anak akan tumpul.

Apakah ini berarti kita tidak memberikan privasi? Kita tetap memberikannya sesuai tuntunan agama dengan takaran yang tepat.

Kita memberikannya untuk hal-hal tertentu, misal berkenaan dengan penjagaan aurat, tetapi tidak membiarkan anak tenggelam dengan dunianya sendiri atas nama privasi.

Soal gadget yang berkemampuan untuk melakukan aktivitas online misalnya, kita perlu mengingat bahwa anak perlu bekal memadai berkait etika berinternet dan memahami betul apa yang perlu dilakukan untuk memperoleh manfaat dari gadget. Bukan sekedar memperturutkan keasyikan.

Privasi juga hanya akan baik apabila sudah tepat waktunya untuk memberikan. Ibarat api. Jika anak belum dapat cukup matang, jangan biarkan anak bermain-main api sendirian.

Nah.

Mesin Pembunuh Itu Bernama Game Online

Jangan kaget. Saya harus menyebut dengan ungkapan menyeramkan karena memang sangat banyak kasus yang saya temukan.

Gegara game online, anak yang tinggal setengah juz saja sudah hafal Al-Qur’an penuh 30 juz, akhirnya terdampak menjadi pecandu game online.

Sanggup bermain terus-menerus hingga lebih dari 2 hari 2 malam tanpa istirahat. Mereka berhenti bermain hanya karena badannya sudah tidak kuat lagi menyanggah keinginannya. Berhenti karena tertidur.

Ini berarti, anak yang telah kecanduan game online kelas berat hampir tak melakukan aktivitas lain di luar bermain game. Ini sangat mengerikan.

Ada pula yang sampai melakukan penipuan demi membeli level bermain game online yang lebih tinggi.

Ini semua tentu tidak tiba-tiba. Ada tahapnya. Nah, yang perlu kita jaga adalah, anak yang belum kenal game online jangan sampai diantarkan ke pintu-pintunya semata karena temannya banyak yang bermain game online.

Tiap orangtua punya arah (termasuk yang tidak tahu harus kemana). Kita harus mengendalikan arah pendidikan anak kita.

Time to Go Online: Kapan Kita Beri Kesempatan Anak Berselancar

Boleh saja anak melakukan aktivitas online, tetapi kita perlu memperhatikan beberapa hal.

Pertama, apakah budaya belajarnya telah tertanam kuat. Budaya belajar, bukan sekedar kebiasaan belajar. Jika budaya belajar belum mereka miliki, maka kegiatan online akan mematikan hingga ke akar-akarnya.

Kedua, apakah anak telah memahami betul etika dunia maya serta manfaat apa yang akan mereka dapatkan.

Jika mereka memiliki arah yang jelas, internet dapat menjadi fasilitas yang sangat bermanfaat. Tetapi jika tidak, mereka akan terkalahkan oleh internet dan tenggelam di dalamnya, termasuk tenggelam dalam aktivitas pacaran online.

Ketiga, apakah anak memiliki kecakapan sosial yang memadai dan memiliki ikatan sosial yang baik dengan teman-teman maupun keluarga.

Jika ini tidak ada, kita perlu persiapkan anak agar memiliki lingkungan hubungan sosial yang baik terlebih dahulu agar kelak tidak teralienasi dari kehidupan sosial atau bahkan kehidupan nyata pada tingkat minimal.

Usia berapa sebaiknya anak boleh melakukan kegiatan online? Jika benar-benar sampai pada tingkat kebutuhan, anak dapat memiliki alamat email dan kegiatan internet untuk mencari pengetahuan di usia sekitar 10 tahun. Syaratnya, tiga hal tadi telah ada.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim