Aku Takut, Aku Dekat

21 Okt

Isu hantu bergentayangan beredar di kantorku saat beberapa hari setelah pindah ke kantor baru…
Pengalaman-pengalaman para kolega yang mendengar hantu kecil memanggil di kantor saat siang hari cukup meyakinkan dan saya percaya dengan mereka, tapi bedanya saya tidak menjadi ketakutan ke kamar mandi atau pulang malam karena isu tersebut. Lalu muncullah ide “selamatan” di kantor.

Rasa takut atau khawatir sangat manusia, tetapi apa perlu dengan selamatan untuk menghilangkannya? Orang Indonesia memang rajin sekali selamatan dari naik haji sampai naik pangkat, semua di’selamat’kan agar semua kegiatan tersebut jauh dari bencana! Jangan-jangan asal-muasal mereka yang mengucapkan selamat pagi, selamat siang, dan selamat malam juga berharap bahwa mereka akan selamat pada waktu-waktu tersebut.

Beberapa kali terbesit dalam pikiran mengapa orang mengucapkan selamat pada pagi, siang atau malam bukan ucapan selamat (doa) terhadap orang yang kita temui atau sapa?. Atau ini hanya sekadar terjemahan yang ‘pas’ untuk “good morning”? Pernahkah ini mengusik pikiran kita?

Hemat saya, upacara penolak bala atau selamatan tanpa dalil berakar dari rasa takut atau khawatir akan terjadi musibah.  Sebagai masyarakat agamis – tak tahu apakah ini masih berlaku atau relevan di negara ini  saat sekarang – umat Islam yang memang mayoritas dianjurkan untuk berdoa sebelum memulai setiap kegiatan. Dalam ajaran Islam tidak ada anjuran atau contoh bahwa setiap kegiatan seperti naik haji, pindah rumah, nujuh bulan, dan lain sebagainya harus dibekali dengan selamatan agar selamat.

Apakah mereka tidak melakukan selamatan tidak akan selamat? Atau mereka yang melakukan selamatan juga pasti selamat?  Kita takut atau paling tidak sangat khawatir dengan musibah. Rasa takut akan sesuatu membuat kita menjauh dari objek yang menyebabkan rasa takut tersebut. Kita takut dengan bos kita yang bengis, kita mencoba sekuat tenaga untuk menghindar darinya. Kita takut hantu, kita menghindari kuburan di malam hari. Kita takut mules, kita menghindari cabe dan seterusnya.

Ada rasa takut yang membuat kita lari ke arah tersebut dan mendekat! Rasa takut yang harus kita bangun dan pelihara selama hidup kita. Rasa takut kepadaNYA.

Lihatlah anak-anak kecil jika mereka takut akan sesuatu mereka mencari rasa aman atau perlindungan kepada orangtuanya. Mereka tidak membelikan sesuatu atau ritual tertentu kepada orangtua mereka saat minta perlindungan kepada orang tua mereka.  Bukankah hal yang sama yang harus kita lakukan saat kita menghadapi rasa takut tersebut?

Kita hanya perlu lari dan mendekat kepadaNYA, mohon perlindungan, kekuatan atau keberhasilan kepadaNYA. Rasa takut kita kepadaNYA memberikan kekuatan positif yang dahysat kepada kita. Semakin kita takut kepadaNYA semakin jauh kita dari hal-hal yang dilarang olehNYA, kita terdorong melakukan hal-hal yang disuruhNYA. Semakin kita jauh dari larangan-laranganNYA semakin baik kualitas ruhani dan hidup kita. Insyallah. Inilah takut yang sebenarnya, takut yang sehat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: