Tips Wawancara Buat Yang Mau Berhenti Kerja

7 Nov

Alkisah ada seorang engineer bernama Prayitno,ST yang bekerja di pabrik manufaktur elektronik Jepang, ni orang baru aja lolos tes perusahaan BUMN yang mengelola gas alam (jelas gede duitnya) dan mau resign, berikut ini perdebatannya dengan manajernya (kita singkat aja ya, manajer = M, dan prayitno = P)

M: “Edan kowe yo Prayitno, lagi S-2 dah mau resign, dimana morality kamu?”
P: “Morality saya ikut berlari bersama morality perusahaan, yang nyuruh karyawannya lembur melebihi aturan pemerintah ampe sakit tapi tunjangan kesehatan gak full.”

M: “Sebenernya mau kamu apa? dimana-mana kerja itu sama. Saya udah menjalani 2 company sebelum ini.”
P: “Karena kerja dimana-mana itu sama, makanya saya gak ragu resign pak, wong sama aja kok, cuma reward-nya yang beda tho… ya saya pilih yang reward-nya lebih.”

M: “Yang bener itu… kerja bener dulu baru naik gaji, bukan gaji naik dulu baru kerja bener.”
P:  “Kerjanya sama-sama bener, tapi yang satu ngasih gaji lebih tinggi, ya saya pilih yang lebih tho pak!”

M: “Kenapa kamu gak mencoba profesional di sini aja, kalo alasannya reward, kan nanti karier serta salary kamu juga bakal naik kalo kamu bertahan.”
P: “Kenapa saya harus nunggu, kalo ada perusahaan lain yang nawarin itu sekarang?”

M:  “Tapi sayang sekali, saya pandang kamu yang paling berpotensi di antara yang lain.”
P:  “Bapak udah ngomong gitu ke semua engineer yang resign sebelum saya.”

M: “Tidak, ini serius, kamu memiliki potensi besar, di sini kamu bisa sukses! daripada kamu memulai lagi dari bawah di perusahaan lain yang belum ketauan ntar di sana kamu bakal sukses ato gak?”
P: “Di sini juga sama aja. saya belum tau bakal sukses apa gak, wong namanya masa depan kok. Sama-sama gak ketauan, tapi yang satu awalannya lebih baik, ya pilih yg lebih baik donk!”

M: “Maksud kamu lebih baik itu apa? money? uang itu bukan segala-galanya!”
P: “Kalo emang begitu, ngapain company costdown gaji saya, apa artinya uang segitu untuk mempertahankan eksistensi engineer.”

M: “Kita kan tidak hanya mengejar uang. Kalo orientasi kamu hanya uang, kamu hanya mengejar “live“. No difference with kambing, Bekerja hanya untuk bertahan hidup, Kamu itu engineer! harus berorientasi pada yang lebih mulia, bekerja untuk berkarya, untuk mengembangkan diri.”
P: “Saya pengennya seperti itu, makanya saya resign. Gimana saya mau lepas dari orientasi “live” kalo tiap bulan saya harus pusing mikir bayaran kos, pulsa, makan, ngirim ortu, nabung buat merit. Naaa… skarang ada company yang nawarin itu, salary yang membuat saya tenang, tak berpikir lagi tentang “live existency“. So, boleh dunk saya ambil untuk menaikkan derajat pekerjaan saya.”

M: “Prayitno… kalo kamu ngejar yang lebih baik, gak akan abis-abis…. selalu ada yang lebih baik. Saya sudah mengalaminya di 2 company terdahulu.”
P: “Emang gak bakal abis pak… karena itu, ngapain saya abisin di sini? mending saya terus- terusan dapet yang lebih baik ampe brenti karena cape. Lagian bapak juga nyatanya bisa brenti khan?”

M: “Inilah yg membuat bangsa kita gak maju-maju. Oportunis. Orang jepang maju karena loyal.”
P: “Loyalitas tu kata-kata pembenaran buat ngegaji orang di bawah level pendidikannya pak. Betul jepang itu maju. Tapi lihatlah, terjadi ketimpangan karir antara lelaki dan wanita. karena lelakinya gila kerja semua, mereka jarang menemui anaknya, akibatnya istri-istri mereka harus mengimbanginya, ngalah keluar dari kerja buat nambal waktu bapak yang hilang untuk anak-anaknya karena bokapnya lebih cinta kerja daripada mereka. Tanya deh cewek jepang, lelaki jepang tu paling gak romantis. Cewe bawa tas berat aja dicuekin.”

M: “Tapi dimana responsibility kamu?”
P: “Responsibility tu apa pak? perasaan dulu saya pernah punya, pas awal-awal masuk di sini, tapi kata-kata itulah yang dijadikan pembenaran untuk menindas saya. Atas nama responsibility, saya mengorbankan kesehatan untuk ketepatan schedule launching produk yang jelas-jelas merupakan percepatan uang masuk ke kantong pemilik saham. Betul, manusia harus punya responsibility. Apa responsibility paling utama? Keluarga!. Anak dan istri adalah amanah dari Yang Diatas.”

M: “Kamu kurang bersyukur, masih banyak orang yang susah dapet kerjaan.”
P: “Saya dah diterima Pak, itu rezeki dari Yang Diatas, Kalo gak saya ambil, itu yang namanya gak bersyukur. Yang Diatas itu tau kebutuhan kita. Makanya Dia memberi saya kerjaan baru, mungkin karena kebutuhan saya meningkat. Selain itu, Yang Diatas juga memberi pekerjaan pada satu orang pengangguran yang akan menggantikan posisi saya di sini setelah resign.”

M: “EDAN KOWE PRAYITNOOOOO! kalo gitu aku ikut kamu resign.”

P: “Ngga bisa pak… kowe wis tuwo. Cuma bisa nunggu pensiun.”

NB:
1. Biar bisa adu argumen sama atasan/HR waktu mo resign.
2. Biar bisa kasih argumen lain kalo ada karyawan yang mo resign.

(Mohon maaf bagi yang namanya Prayitno)

2 Tanggapan to “Tips Wawancara Buat Yang Mau Berhenti Kerja”

  1. maskunita April 19, 2014 pada 10:49 #

    maknyus gan…doakan ane bisa spt prayitno.,..diterima di perusahaan oil dan gas ..amin

  2. wiwidkuman Desember 15, 2014 pada 10:49 #

    hahahaa.. agree

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: