Berterima Kasih Pada Ibu

22 Mar

Pernahkah anda berterima kasih kepada ibu anda? Orang yang selama ini melayani, merawat, dan mendoakan untuk kebaikanmu? Mungkin kisah berikut bisa mengingatkanmu.

Alkisah, seorang siswa kelas 3 SMP pulang ke rumahnya, setelah sibuk belajar di sekolah bersama temannya untuk persiapan menghadapi ujian sekolah. Dalam keadaan lelah dan lapar, dia sampai di rumahnya.

Ketika sampai di rumah, ternyata ia tak menemukan makanan yang tersaji di meja makan. Karena begitu lapar dan lelah, ia menjadi marah karena tidak menemukan makanan di rumahnya. Ia bertanya sambil sedikit membentak kepada ibunya perihal itu.

Ibunya meminta maaf karena belum sempat menyediakan makanan karena ada urusan mendadak sehingga tidak sempat masak meskipun sudah pergi belanja ke pasar untuk persiapan makan di rumah.

Karena kesal dan marah, anak tersebut bergegas pergi meninggalkan rumah dengan tidak menghiraukan suara panggilan ibunya yang menyuruhnya kembali ke rumah.

Dalam keadaan lapar dan lelah, akhirnya ia berhenti di sebuah halte karena hujan gerimis turun. Di halte itu, ada seorang penjual mie ayam menjajakan jualannya.

Anak tersebut mendekapkan tubuhnya yang mulai kedinginan dan tampak wajahnya yang lelah. Ia ingin sekali membeli semangkuk mie ayam untuk mengisi perutnya yang kosong, tapi ia tidak punya uang sepeser pun.

Pedagang mie rupanya melihat anak itu dan menangkap raut wajah yang lapar dan lelah tersebut. Ia menyiapkan semangkuk mie ayam lengkap dan memberikan mie itu kepada anak tersebut.

“Nak, makanlah mie ayam ini?” tanyanya.

Sejenak, anak itu memandang dengan agak terheran kepada pedagang tersebut karena ia merasa tidak memesan mie ayam sambil berkata, “Pak, saya tidak memesan mie ayam… lagian saya juga tidak punya uang untuk membayarnya?” dengan suara rada serak dan terlihat wajah lesunya.

“Ini gratis koq! Tampaknya kamu sangat lapar. Ambillah!”

Dengan segera anak tersebut mengambil mie ayam itu dan memakannya dengan lahap. Dalam sekejap, mie ayam tersebut ludes dengan tuntas.

Dengan perasaan haru dan rasa syukur yang tak terperi, ia mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada pedagang itu atas kebaikan hatinya.

Namun, ada hal lain yang menyentakkan hatinya, yaitu tatkala pedagang itu berkata padanya, “Nak…bapak hanya sekali saja memberikan kamu makan dengan semangkuk mie ayam ini, kamu mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada bapak. Pernahkan kamu mengucapkan terima kasih kepada ibumu yang setiap hari menyediakan dan memberikan makan kepadamu?”

Tanpa disadari, bulir air mata mengalir di pipi anak tersebut. Dengan terisak, tanpa rasa malu, ia segera memeluk bapak tersebut sambil mengucapkan kata terima kasih berkali-kali atas nasihat yang diberikannya.

Kemudian anak itu berbalik, sambil kembali mengucapkan terima kasih. Tak lama kemudian ia berlari menembus gerimis hujan menuju rumahnya.

Di depan rumah, ia melihat ibunya dengan senyum di bibirnya sambil berkata, “Ayolah nak…ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu!”

Kalibata, 20 Maret 2010 sambil mendengarkan taujih Daarut Tauhiid di Pro2, 105 FM

Satu Tanggapan to “Berterima Kasih Pada Ibu”

  1. maya maniz Maret 24, 2010 pada 10:49 #

    Ibu adalah orang terdekat dan terkasih bagi qta ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: