Ayah Ingin Kamu Lebih Baik Dari Ayah

24 Feb

Saat ini aku berumur 22 tahun, masih kuliah tahap skripsi yang entah kapan selesainya. Bekerja di salah satu media IT. Kali ini aku akan bercerita pengalamanku tentang menjadi “orang” dari ayahku. Sejak aku kecil aku selalu berdebat dengan ayahku dari tempat menaruh barangku hingga cara merawat rumah, bekerja, belajar, dll.

Aku berasal dari keluarga yang bisa di bilang berkecukupan, ayahku bekerja di salah satu perusahaan swasta. Namun masalah keuangan terhadap aku, ayahku tergolong keras. Teman-temanku banyak memiliki apa yang ingin mereka miliki dengan meminta pada orang tuanya, berbeda denganku. Di bawah ini sedikitnya menceritakan perjalananku hehehe..

Pertama kali bekerja

Saat itu aku masih duduk di bangku SD kelas 4. Setiap hari Jum’at aku selalu shalat Jum’at di masjid dekat rumah, masjid tersebut cukup besar. Setiap aku shalat di sana aku melihat beberapa anak-anak berdiri di depan rak sepatu yang menyatu dengan pinggiran dinding masjid, aku tak menghitung banyaknya ruang rak sepatu tersebut karena, sangat banyak dan ada 4 tempat setiap pintu masuknya.

Aku bertemu dengan salah satu temanku yang tinggal di luar komplek dan ia salah satu anak-anak yang menjaga di salah satu rak sepatu tersebut. Aku menghampirinya untuk menanyakan tentang apa yang ia lakukan. Ia mengatakan sedang membantu jama’ah untuk menyusun sepatu dan sandal mereka pada tempatnya setelah memasukkan nomor di dalam sepatu dan sandal tersebut. Sehingga setelah selesai shalat jum’at mereka tinggal memberikan nomor yang diberi saat mereka memberikan sepatu mereka dan temanku langsung mencarikan sepatu atau sandal mereka.

Aku tertarik dan minggu depannya aku ingin ikut membantu mereka, ternyata mereka setuju untuk meringankan beban mereka. Notabene mereka yang menjadi pemberi nomor sepatu atau sendal itu dari keluarga kurang mampu dan mereka mendapatkan uang jajan dari upah mereka melakukan pekerjaan tersebut. Setiap pulang shalat jum’at aku mendapatkan Rp 5.000 – Rp 10.000. Uang yang sangat banyak untukku pada saat itu.

Waktu itu aku tidak terlalu mengerti tentang hal tersebut diperbolehkan atau tidak, tetapi setelah 1 bulan aku membantu mereka, ibuku mendapatkan kabar dari temannya yang melihat aku memberikan nomor sepatu dan akhirnya aku dimarahi habis-habisan. Tetapi, ayahku yang mengetahui itu tidak memarahiku, melainkan ia berbicara denganku setelah dimarahi oleh ibuku.

“Kenapa kamu bekerja di sana?”
“Karena aku ingin membantu temanku dan ternyata aku juga dapat uang jajan, salah ya yah?”

“Tidak, malah ayah bangga kamu sudah bisa bekerja seperti itu, emangnya kamu dapat berapa?”
“Kadang 5 ribu kadang 10 ribu yah, tergantung berapa banyak yang masukin duitnya ke kotak dekat kami ngasih nomor.”

“Kemarin ayah sudah nanya ke pengurus masjid, itu tidak dilarang dan tidak diwajibkan, tetapi atas kemauan anak-anak sekitar dan selama tidak menjadi masalah untuk jama’ah.”
“Berarti aku masih boleh dong yah bantuin temen aku?”

“Boleh, asal kamu tidak meninggalkan shalat jum’at dan nilai kamu tidak menurun. Kalau menurun kamu harus berhenti. Janji?”
“Janji yah, kan itu dil uar sekolah hehehe”

Setelah itu ibuku ikut memarahi ayahku karena membiarkan anaknya bekerja sedangkan orang tuaku masih mampu membelikan apa pun yang aku mau. Tetapi, ayahku mengatakan pada ibuku untuk membiarkanku, agar aku dapat belajar susahnya cari duit.

Setelah 2 bulan bekerja, hari itu ibuku ulang tahun dan aku pergi ke pasar setelah shalat Jum’at dan membelikan ibuku piring bergambar mickey mouse untuk hadiah ulang tahunnya dengan upahku. Sesampainya di rumah aku langsung ke dapur dan memberikannya pada ibuku sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Ibuku tiba-tiba memarahiku dan setelah itu dia menangis dan memelukku.

Ayahku juga pernah saat jam istirahat kantor beliau datang ke masjid tempatku bekerja. Di sana ia membuka sepatu dan kaos kakinya, kemudian memanggilku untuk memberikannya nomor sepatunya. Aku ragu-ragu memberikannya nomor, tetapi ia tersenyum padaku dan pergi masuk.

Saat perjalanan masuk salah satu temannya bertanya, “Mas, anaknya kok di biarin bekerja begitu, apa ga malu sama yang lain?” Ayahku berkata pada temannya, “Ngapain malu, halalkan? Lagian ga ganggu sekolah, sekalian dia tau susahnya cari duit. Ntar juga bosan sendiri dia, namanya juga anak-anak pengen coba semuanya.”

Ada satu kejadian lucu di salah satu hariku menjaga rak sepatu tersebut, seorang bule muslim yang baru selesai shalat, ia memberikanku nomornya dan saat aku memberikan sepatunya, ia memberiku uang 100 ribu rupiah, aku kaget dan menyuruhnya untuk memasukkan uang tersebut ke dalam kotak. Kemudian ia mengatakan dalam bahasa inggirs bahwa uang itu khusus untukku.

Namun aku menolaknya karena aku hanya akan menerima uang dari hasil yang kami dapatkan di dalam kotak itu. Si bule pun tertawa dan memasukkan uang itu ke dalam saku baju, ia mengatakan kira-kira seperti ini, “I have been vow to give you this money to anyone who take care of my shoes” Walaupun masih kelas 4 SD, aku lumayan mengerti bahasa inggris, karena di sekitar tempat tinggalku banyak bule juga hehehe..

Saat ujian kenaikan kelas, aku diminta untuk berhenti dan fokus belajar. Aku pun sudah merasa cukup senang saat itu dan aku mengikuti kata orang tuaku. Aku juga berpamitan pada teman-temanku untuk fokus sekolah, mereka pun mengerti dan memberikanku semangat. Di sana aku belajar menyusun sesuatu dengan teliti dan mengingat susunan nomor-nomor urut sepatu dan tentunya merasakan duit hasil keringat sendiri.

Menjaga Warung Sepulang Sekolah

Setelah sekian tahun aku tidak bekerja, aku pun kembali bekerja di warung pakde ku. Saat itu aku kelas 2 SMP dan tinggal bersama pakde ku. Beliau mempunyai sebuah warung kecil yang menyediakan perlengkapan dapur. Setiap pulang sekolah aku langsung menjaga warung, mengerjakan PR-PRku di warung itu. Aku mau menjaga warung karena keinginan ku sendiri, bukan karena di suruh. Aku sempat membicarakannya pada orang tuaku dan mereka setuju.

Jujur saja jarang ada pembeli di warung itu, tetapi banyak yang memesan air galon dan aku mengantarkan galon tersebut kerumah-rumah warga yang memesan. Untungnya yang memesan itu rumahnya hanya sekitaran komplekku saja, sehingga hanya dengan menggenjot sepeda sampai di tempat. Tak jarang aku mendapatkan tip setiap mengantarkan galon dan tip itu aku simpan di celengan ayamku.

Banyak cemo’ohan dari teman-temanku di sekolah tentang aku bekerja di warung, namun aku tak mengambil pusing hal tersebut karena aku suka. Jadi kenapa harus malu? Halal toh? Bisa beli apa yang aku mau tanpa meminta pada orang tua. Hingga saatnya ujian kenaikan kelas dan lagi-lagi aku harus berhenti bekerja dan fokus untuk ujian.

Di warung itu belajar mencatat semua penjualan dan menghitung keuntungan setiap bulannya. Walaupun aku sering dimarahi sama bude ku karena tulisanku yang seperti cakar ayam .Ayahku sempat berkata, “Nanti ada kemungkinan kamu akan bekerja pada orang lain yang tidak ada hubungan darah, maka kamu harus belajar menjaga kepercayaan itu. Sekali rusak, jangan harap tuk mendapatkannya lagi”

Setelah bekerja di warung hingga kelas 3 SMP aku harus berhenti karena ujian kelulusan. Akupun lulus dengan nilai yang memuaskan, walaupun hanya sedikit di atas rata-rata hehehe..

Menjadi Pelayan Cafe

Saat itu aku duduk di kelas 1 SMA dan entah kenapa aku ingin melepas jam kosongku untuk bekerja. Tiba-tiba aku tak tenang di rumah dan hingga akhirnya aku melihat ada lowongan untuk menjadi pelayan cafe. Aku pun datang membawa ijazah SMP ku untuk mencoba melamar, tetapi aku di tertawakan karena yang melamar di sana kebanyakan lulusan SMA.

Rezeki selalu tak kemana, akhirnya akupun di terima dan jadwal kerja ku dapat di sesuaikan dengan jam sekolahku. Dan tentunya sudah mendapatkan izin dari orang tuaku. Aku berjanji jika nilai ku jelek, aku harus berhenti bekerja. Selama 1 tahun, kerjaku cukup bagus dan nilaiku tak jelek. Tetapi saat kelas 2 aku mulai merasakan indahnya dunia kerja dan melalaikan sekolahku. Akhirnya nilaiku mulai menurun dan aku langsung berhenti dari pekerjaan sesuai janjiku pada orang tuaku.

Di sana aku belajar memanage waktu semaksimal mungkin, namun karena jiwa mudaku mulai menggelegar (halah bahasanya ) aku mulai merusak waktu yang telah aku buat dan hingga akhirnya aku harus memilih salah satu antara prioritas dan sekunder. (ga nyambung yak )

Ayahku juga pernah berkata padaku, “Ingatkah kamu ketika ayah dinas ke luar kota, ayah meninggalkan kalian pada ibumu untuk mendapatkan rezeki lebih dan berharap ketika ayah pulang kalian akan mendapatkan keinginan kalian. Bukan berarti ayah lebih mencintai pekerjaan daripada kalian.”

Menjadi Reporter

Aku pun lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan, aku juga sudah di terima di universitas swasta ibukota. Aku pun langsung berangkat menuju Jakarta, tetapi ternyata benar kata orang-orang, ibukota memang lebih jahat daripada ibu tiri yang jahat. Bagaimana tidak, ibu tiri yg jahat paling ngurusin 5 anak, sedangkan ibukota ngurusin jutaan manusia, wajar sih kalo jahat banget

Kuliah dimulai 3 bulan lagi dan aku tak tahu harus ngapain, namu nasib mujur ada padaku, aku berkenalan dengan anak kosan dan aku di ajak untuk ikut ke dalam komunitas pecinta AMD, di sana aku belajar banyak tentang komputer, sesuai jurusanku IT. Sambil berjalannya waktu aku pun mengenal aplikasi voice chat.

Setelah beberapa bulan aku menggunakan aplikasi tersebut aku pun di angkat jadi staff perwakilan Indonesia di server public International. Waktu pun berjalan cepat, aku di ajak untuk mengurus server public Indonesia di salah satu media massa portal game online. Setelah di interview aku pun akhirnya menjadi reporter dan admin di server public Indonesia. Di sela-sela kesibukan kuliah, aku juga mencari berita dari event-event game online.

Di sini aku belajar lagi memanage waktuku dan usaha pantang menyerah untuk mencari berita melewati panas dinginnya kota Jakarta.

Aku juga sempat bercerita padanya tentang kerjaanku ini dan salah satu yang dikatakan beliau, “Dulu ayah tak takut panas dan badai untuk dapat memberikan kalian gizi yang cukup dan pendidikan yang tinggi, yang kamu lakukan adalah salah satunya. Kita lihat seberapa tahan kamu menghadapinya”

Seminar Public Speaker

Sambil kuliah dan bekerja sebagai reporter aku juga ikut aktif dalam keorganisasian komunitas pecinta AMD di Jakarta. Hingga akhirnya kami menjadi salah satu bagian dalam event Roadshow dan aku pun diberi tantangan untuk menjadi Public Speaker. Tanpa ragu aku pun menerimanya, pertama kali jadi public speaker hasilnya adalah Hancur Berantakan

Aku pun menceritakan kejadian itu pada ayahku, beliau memberikanku banyak saran yang membuatku menambah semangat, dengan beberapa kali seminar aku pun menjadi sangat mahir berbicara di depan public, sehingga mereka tak perlu ragu ketika memintaku untuk berdiri di depan sana.

Salah satu yang ayahku ucapkan padaku, “Tak semua orang dapat mahir dalam satu hal secara langsung tanpa usaha dan latihan, serta doa. Lebih baik lagi jika kamu dapat belajar dari guru-gurumu”

Server Admin Voice Chat

Setelah beberapa lama berkecimpung di dunia reporter aku pun memilih fokus di layanan voice chat. Di sana aku memiliki beberapa staff untuk membantu ku mengembangkan layanan tersebut. Cukup lama aku berada di posisi ini.

Melayani user/client dengan segala masalah mereka tidaklah mudah, di tambah juga harus mengontrol kerja para staff membuat pekerjaanku semakin tidak mudah, namun aku menikmatinya dengan membuat pekerjaan itu bukan sebagai beban, namun tantangan. Seperti apa yang ayahku katakan padaku.

“Bekerja sendiri tidak lebih menyenangkan dibandingkan bekerja sama dengan orang lain, ayah mempunyai banyak teman dan tak pernah meremehkan mereka semua dan nantinya mereka akan merasakan hal yang sama, kerja dalam sebuah tim harus bisa menerima perintah atasan atau ketua. Akan lebih sulit menjadi pimpinan karena, harus tegas dan bijak dalam segala hal. Jika kamu bisa maka kamu layak menjadi seorang pemimpin. Dan yang paling penting kerja itu untuk kamu nikmati, bukan malah kamu jadikan beban”

Ending

Terakhir tahun lalu saat aku pulang liburan hari raya Idul Fitri, aku sedang duduk bersama ayahku di dapur. Kami berdebat banyak hal hingga kami berbicara tentang masa depanku, beliau berkata, “Ayah hanya ingin kamu lebih baik dari ayah dari segala hal, ayah memang tidak bisa menjadi ayah yang seperti kamu inginkan dulu itu. Ayah hanya ingin kamu belajar dan menjadi orang yang dapat kamu banggakan, bukan untuk ayah, ibu atau keluarga, tapi untuk dirimu sendiri. Kamu yang menjalaninya hingga akhir, ayah dan ibu hanya menjaga dan mengajarimu sebisa kami hingga kamu pergi meninggalkan kami dengan keluargamu.”

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, aku hanya bisa menangis dan memeluk ayahku meminta maaf dan mengucapkan terima kasih. Malam itu aku tidur bersama ayahku.

Sumber: dukun ganteng (kaskus.co.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: