Allah yang Beri Tahu Siapa Dia

29 Mar

Ada dua sahabat yang terpisah cukup lama, yakni Ahmad dan Zaenal. Ahmad orangnya pintar sekali, tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi, sedangkan Zaenal adalah orang yang biasa-biasa saja, namun keadaan orang tuanya mendukung karier dan masa depannya. Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu di tempat yang istimewa, yakni di koridor wudhu sebuah masjid mungil.

Zaenal sudah menjadi seorang manajer kelas menengah. Tampilannya necis dan perlente, tapi tetap menjaga kesalehannya. Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan mampir di masjid di kota yang ia singgahi untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Ia juga shalat sunnah sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di satu kota. Ia mencari masjid. Ia tepikan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yang ia temukan. Di sanalah ia bertemu Ahmad dan cukup terperangah. Ia tahu sahabatnya ini, meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun. Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai marbot masjid.

“Maaf,” katanya menegur sang marbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?” tanya Zaenal.

Yang ditegur tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan.

“Keren sekali kamu ya Mas, Manteb…” ujar Ahmad.

Zaenal terlihat masih dalam keadaan memakai dasi. Lengan yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermereknya terlihat oleh Ahmad.

“Ah, biasa saja…” sipu Zaenal.

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas marbot sekali. Celana digulung dengan peci didongakkan sehingga jidat hitamnya terlihat jelas.

“Mad… Ini kartu nama saya…” kata Zaenal.

Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wah, bener-bener keren.

“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekadar marbot di masjid ini. Maaf…” kata Zaenal.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk.

“Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih dulu… Silahkan ya. Yang nyaman.” balas Ahmad.

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yang pintar kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai marbot, Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya. Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan marbot, tapi “office boy”.

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah agaknya. Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya. Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya.

Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.

“Pak!” Tiba-tiba anak muda yang shalat di belakangnya menegur.

“Iya Mas..?” jawab Zaenal.

“Pak, Bapak kenal emangnya sama Haji Ahmad?” tanyanya.

“Haji Ahmad?” ujar Zaenal.

“Ya, Haji Ahmad…” balasnya.

“Haji Ahmad yang mana?” tanya Zaenal balik

“Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…” jawab anak muda tersebut.

“Oh… Ahmad. Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?” katanya.

“Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum bangun ini masjid.” terangnya.

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hati Zaenal.

“Dari dulu sudah haji… Dari sebelumnya bangun masjid ini?” Gumamnya dalam hati.

Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Sayalah yang marbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat. Bapak lihat toko material di sebelah masjid ini… Itu tokonya beliau. Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh, yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan.” jelasnya.

Wuah, entah apa yang ada di hati dan pikirannya Zaenal.

Bagaimana sikap kita?

Jika Ahmad itu adalah kita, begitu ketemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita yang sebenarnya.

Dan jika kemudian kawan lama kita ini sampai menyangka kita marbot masjid beneran, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu sehingga tahulah kawan kita bahwa kitalah pewakaf dan yang membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Ahmad dan Ahmad bukanlah kita. Ia selamat dari kerusakan amal.
Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yang memberitahu siapa dia sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: