Siapa yang Durhaka Sesungguhnya?

4 Agu

Seorang anak, menelepon ayahnya yang tinggal pisah rumah dengannya dan ibunya.

Pagi itu, ibunya sakit dan tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah seperti biasanya.

Jarak sekolahnya 1 km dari rumahnya, dan si anak bertubuh lemah.

Pagi itu jam 6:00 si anak menelepon ayahnya:

Anak: “Ayah, antarkan aku ke sekolah.”

Ayah: “lbumu ke mana?”

Anak: “lbu sakit ayah, tidak bisa mengantarkan aku ke sekolah, Kali ini ayahlah antarkan aku ke sekolah.”

Ayah: “Ayah tidak bisa, ayah nanti terlambat ke kantor. Kamu naik angkot saja atau ojek.”

Anak: “Ayah, uang ibu hanya tinggal 10 ribu. Lbu sakit, kami pun belum makan pagi, tak ada apa apa di rumah, kalau aku pakai untuk ongkos, kasihan ibu sakit belum makan, juga adik-adik nanti makan apa ayah?”

Ayah: “Ya sudah, kamu jalan kaki saja ke sekolah, ayah juga dulu ke sekolah jalan kaki. Kamu anak laki laki harus kuat.”

Anak: “Ya sudah, terima kasih ayah.”

Si anak mengakhiri teleponnya dengan ayahnya. Dihapusnya air mata di sudut matanya, lalu berbalik masuk kamar, ketika ibunya menatap wajahnya, dia tersenyum.

Ibu: “Apa kata ayahmu nak?”

Anak: “Kata ayah, iya ibu, ayah kali ini yang antar aku ke sekolah.”

Ibu: “Baguslah nak, sekolahmu jauh, kamu akan kelelahan kalau harus berjalan kaki. Doakan ibu lekas sembuh ya, biar besok ibu bisa antar kau ke sekolah.”

Anak: “lya bu, ibu tenang saja, ayah yang antar, ayah bilang aku tunggu di depan gang supaya cepat ibu.”

Ibu: “Berangkatlah nak, belajar yang rajin, yang semangat.”

Anak: “lya ibu.”

Tahun berganti tahun, kenangan itu tertanam dalam ingatan si anak.

Dia sekolah sampai pasca sarjana dengan biaya beasiswa. Setelah lulus dia bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang besar.
Dengan penghasilannya, dia membiayai hidup ibunya, membantu menyekolahkan adik adiknya sampai sarjana.

Satu hari, saat di kantor, ayahnya menelepon.

Anak: “Ada apa ayah?”

Ayah: “Mak, ayah sakit, tidak ada yang membantu mengantarkan ayah ke rumah sakit.”

Anak: “Memang istri ayah ke mana?”

Ayah: “Sudah pergi nak, sejak ayah sakit-sakitan.”

Anak: “Ayah, aku sedang kerja, ayah ke rumah sakit pakai taxi saja.”

Ayah: “Kenapa kamu begitu? Siapa yang akan urus pendaftaran di RS dan lain-lain? Apakah supir taxi? Kamu anak ayah, masakan orangtua sakit kamu tidak mau bantu mengurus?”

Anak: “Ayah, bukankah ayah yang mengajarkan aku, mengurus diri sendiri? Bukankah ayah yang mengajarkan aku bahwa pekerjaan lebih penting daripada istri sakit dan anak?”

“Ayah, aku masih ingat, satu pagi aku menelepon ayah minta antarkan ke sekolahku, waktu itu ibu sakit, ibu yang selalu antarkan kami anak-anaknya, yang mengurus kami seorang diri, namun ayah katakan aku pergi jalan kaki, tubuhku lemah, sekolahku jauh, namun ayah katakan anak laki laki harus kuat, dan ayah katakan ayah pun dulu berjalan kaki ke sekolah, maka aku belajar bahwa karena ayah lakukan demikian maka aku pun harus lakukan hal yang sama. Saat aku sakit pun hanya ibu yang ada mengurusku, saat aku membutuhkan ayah, aku ingat kata kata ayah, anak laki-laki harus kuat.”

“Ayah tahu? Hari itu pertama kali aku berbohong kepada ibu. Aku katakan ayah yang akan antarkan aku ke sekolah, dan meminta aku menunggu di depan gang.
Tapi ayah tahu? Aku jalan kaki seperti yang ayah suruh, di tengah jalan ibu menyusul dengan sepeda. Ibu bisa tahu aku berbohong, dengan tubuh sakitnya ibu mengayuh sepeda mengantarkan aku ke sekolah.”

“Ayah mengajarkan aku pekerjaan adalah yang utama. Ayah mengajarkan aku kalau ayah saja bisa maka walau tubuhku lemah aku harus bisa. Kalau ayah bisa ajarkan itu, maka ayah pun harus bisa.”

Si ayah terdiam. Sepi telepon di seberang sana. Baru disadarinya betapa dalam luka yang di torehkannya di hati anaknya.

Anak adalah didikan orangtua
Bagaimana kita bersikap, memperlakukan mereka kita sama saja sedang mengajarkan mereka bagaimana memperlakukan kita kelak ketika kita tua dan renta.

Si anak Dosa?
Mungkin….
Si anak durhaka?
Barangkali….

Yang jelas ayahnya yang membuat anaknya demikian.
Dan kelak orangtua membuat pertangung jawabannya masing-masing kepada sang Khaliq, Si Empunya Anugerah yang dititipkan kepada masing-masing.

Menjadi orangtua bukan karena menanamkan benih atau karena melahirkan.

Menjadi orangtua, karena mengasuh, mendidik, menyayangi, menberi waktu, perhatian, mengayomi, mencurahkan perhatian dan kasih sayang.

Dapatkah hal itu disadari oleh para orang tua? Semoga…

Menjadi orangtua, tidak ada kata pensiun. Finishnya hanya di kematian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: