Keajaiban Sebuah Penghargaan

26 Feb

Jangan remehkan sekecil apa pun bentuk perhatian terhadap orang lain. Sebab, sentuhan ringan di bahu seorang kawan yang putus asa ternyata mampu membuatnya urung melompat ke jurang.

Aku belum lupa kata-kata ini. Kata-kata yang ketemui di sebuah buku Chicken Soup for The Soul saat masih SMA dulu. Maknanya sangat kuat. Menghujam dalam ke dasar memori. Bahwa sebuah perhatian dan penghargaan yang tulus bisa mengubah kehidupan seseorang.

Adalah Andrew Carnegie yang berani membayar jasa seorang Charles Schwab dengan gaji satu juta dollar atau 14 miliar rupiah per tahun untuk menjadi presiden direktur United Steel Company, di AS.

Saat ditanya apakah Schwab orang jenius, hingga harus digaji sangat besar? Atau Schwab lebih mengerti tentang jenis baja daripada yang lain? Andrew Carnegie menggeleng,

“Bukan. Bukan karena itu. IQ Schwab biasa saja. Dia juga tidak lebih tahu tentang baja daripada staf lain. Hanya saja, aku melihat Schwab memiliki kemampuan membangkitkan antusiasme kerja karyawan. Ia juga mampu mengembangkan potensi terbaik pada diri bawahan.”

Perusahaan itu nantinya benar-benar menjadi salah satu perusahaan baja sukses di Amerika.

Kelak, Charles Schwab diwawancarai wartawan. Mengenai apa rahasia suksesnya menjadi pimpinan perusahaan? Ia pun menjawab,

“Tak ada hal lain yang sangat mematikan hasrat ingin maju seseorang kecuali kritikan dari atasan. Maka saya selalu membiasakan diri untuk memuji kinerja karyawan, jika ada yang salah kita selesaikan bersama.

Ketika sebuah proyek telah diselesaikan, saya tak akan pulang ke rumah sebelum memberi ucapan terima kasih karyawan, menjabat tangan mereka satu per satu sebagai wujud penghargaan atas kerja keras mereka.”

Ah, aku jadi teringat pada satu kisah…

Kisah ini terjadi di Detroit, AS. Beberapa dekade silam. Ketika itu, seorang guru melihat seekor tikus masuk ke dalam kelas. Ia pun berucap pada salah satu muridnya yang duduk di bangku paling ujung,

“Stevie, tolong bantu Ibu menangkap tikus itu.”

Mendengar permintaan sang guru, Stevie kecil seketika terhenyak. Tak percaya ucapan itu ditujukan padanya. Tapi tidak ada murid lain yang bernama Stevie selain dirinya di kelas itu. Maka ia ingin memastikan,

“Bu,” jawab Stevie, “Apakah Ibu menyuruhku?”

“Ya. Siapa lagi? Memangnya ada dua Stevie di kelas ini?”

Lelaki berkulit hitam itu pun berkata ragu-ragu, “Tapi apakah Ibu Guru tidak sadar kalau aku ini anak buta?”

Sang Guru tersenyum. Sangat manis. Ia pun mendekati Stevie, mengusap kepalanya lalu bertutur,

“Nak, Ibu tahu engkau tak bisa melihat. Namun kelemahan itu telah Tuhan ganti dengan kelebihan lain. Kau tahu? Telingamu sangat peka. Maka, gunakan baik-baik potensi itu.”

Stevie hampir menangis mendengar ucapan sang guru. Itulah pertama kalinya ia merasa sangat dihargai orang lain.

Ia mengalami kebutaan beberapa saat setelah lahir prematur. Stevie tumbuh dengan bully-an dari teman-teman. Sang Ibu sampai capek menceramahi teman-teman Stevie agar tidak mengolok-olok fisik anaknya. Stevie tumbuh jadi pribadi pemalu, tertutup dan tak percaya diri.

Dan hari itu, Stevie mendapat energi semangat lewat ucapan sang guru. Bahwa ia istimewa. Punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Sejak saat itulah Stevie mulai mengembangkan bakat pendengarannya.

Ya, Stevie yang sedang keceritakan ini adalah Stevie Morris. Tapi dunia hiburan internasional lebih mengenalnya dengan nama Stevie Wonder. Seorang penyanyi, penulis lagu, produser rekaman sukses di Amerika.

Ia telah merekam lebih dari 30 lagu hits dan memenangi 21 Grammy Award, sebuah rekor untuk penyanyi solo. Stevie Wonder juga memenangkan piala Oscar untuk lagu terbaik serta masuk ke ‘Rock and Roll dan Songwriter Halls of Fame’.

Kini, bertahun-tahun kemudian, Stevie mengatakan bahwa penghargaan dari sang guru di dalam kelas itulah yang menjadi titik awal dari kehidupan barunya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik kita renungkan bersama,

“Jika kau seorang guru, berikan penghargaan yang tulus pada muridmu. Pujilah usaha mereka menyelesaikan tugas darimu. Apa pun hasilnya.

Atau bila kau seorang atasan, berikan penghargaan yang murni pada karyawan. Puji kerja keras mereka membantu perusahaanmu. Setelah itu, duduk dan tunggulah. Karena tak lama lagi mereka akan memberimu hasil dan keuntungan yang tak pernah engkau duga sebelumnya.”

Fitrah Ilhami

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: