Sedekah Si Mbok

5 Mar

Suatu hari di sebuah warung sederhana, di Kepatihan Wetan, Solo, aku mengamati dialog di dalamnya.

“Gratis Mbok?“si Parjo bertanya heran.

“Ya, kenapa? makan aja apa yg kamu suka.”

“Wah…. terima kasih mbok…terima kasih…”

Si Mbok tersenyum riang ketika memperhatikan Parjo, langganannya yang biasa berutang di warungnya, sekarang menyantap makanan dengan lahapnya.

Mungkin kali ini pria itu dapat menikmati makanannya dengan tanpa beban. Keringat meleleh di keningnya.

” Jo…“

“Ya, Mbok. Ada apa? Apa ini hanya guyonan saja Mbok?” Parjo melongo ke arah si Mbok dengan bingung dan mulut yang masih terisi nasi.

Tapi si mbok tetap tersenyum.

“Ini catatan bon kamu ya?” tanya si Mbok dengan tersenyum.

“Ya Mbok. Tapi aku ndak ada duit sekarang.”

“Ya, aku tahu. Kamu memang selalu ndak ada uang akhir-akhir ini. Ya sudah, bon kamu aku hapus..“ jawab simbok dengan senyum.

“Hapus???“ teriak Barjo dengan bengong.

“Wah, lelucon apa lagi ini Mbok. Jangan bikin aku jantungan Mbok. Gratis saja aku sudah bingung…lah sekarang bonku malah dihapus, lagi.“

“Ya ..kamu ndak perlu jantungan. Terima aja. Aku senang kok” Jawab si mbok.

Hari itu ada hampir 40 orang yang datang makan di warung mbok Mijah.

Mereka semua adalah supir angkot, tukang becak, pemulung, pedagang asongan, pengamen jalanan dan tukang minta-minta yang biasa nongkrong di sudut jalan.

Semua menikmati makanan dengan gratis. Bahkan sebagian dari mereka yang punya catatan utang dinyatakan dihapus oleh si mbok.

Kebahagiaan jelas sekali terpancar di wajah si Mbok.

Pemandangan tersebut aku saksikan sendiri sambil asyik menikmati es teh manis.

Mereka yang datang seakan tidak memperdulikanku.
Tapi tidak ada satu pun ekspresi wajah dari mereka yang luput dari perhatianku.

Hari itu memang aku sengaja datang ke warung si Mbok yang jadi langgananku ketika aku mahasiswa dulu.

Si Mbok hampir tidak percaya ketika aku datang.‎

“Maksud mas?“ Tanya si Mbok dengan sedikit terkejut.

“Ya Mbok. Aku ingin tahu berapa jumlah penjualan Si mbok bila seluruh makanannya habis terjual.” tanyaku tanpa memperdulikan keterkejutannya.‎

“400 ribu rupiah, Den. Tapi tidak semua si mbok terima karena sebagian diutangin”

“ Baik. Berapa jumlah catatan utang dari semua pelanggan si Mbok“ tanyaku lagi.

“ Ada Rp. 700 ribu” jawabnya lagi, tapi masih bingung.

“Oke Mbok. Nah ini saya beri uang Rp. 1.500.000.“ kataku sambil memberikan uang itu kepadanya.

“Oh.. Untuk apa ini Den?” Sekarang benar-benar bingung dia.

“Aku hanya ingin memberikan uang ini kepada Si Mbok. Karena dalam keadaan sulit si Mbok masih bisa berbuat baik sama orang. Simbok bisa ngutangin orang yang butuh makan walau simbok sendiri tidak tahu kapan orang itu akan membayar.”

Sambil memperhatikan wajahnya yang berseri dalam kebingungan, kupegang tangannya dan menyerahkan uang itu.

“Nah, apa yang akan si Mbok lakukan dengan uang ini?” sambungku.

“Si Mbok hanya ingin memberi kesempatan semua langganan makan gratis hari ini. Menghapus semua utang mereka.” Jawabnya.

“Mengapa?“ Sekarang gantian aku yg bingung.

“Si mbok orang miskin. Si mbok pengen bersedekah tapi ndak pernah bisa. Wong hidup juga sulit begini.” Katanya.

Ketika senja mulai beranjak malam. Aku melangkah menjauhi sudut jalan itu.

Di dalam mobil aku termenung. Selama ini kita begitu hebatnya menggunakan retorika bahwa kita peduli dengan si miskin.
Kita marah kepada ketidakadilan. Tapi kita tidak berbuat banyak.
Tapi sebetulnya kehadiran Allah tetap ada di lingkungan si miskin.
Dengan kesahajaan di antara mereka dan cara mereka, mereka berbagi untuk saling peduli. Itu…

Negeri ini kuat karena rahmat Allah yang meniupkan pesan cinta ke hati siapa pun untuk saling berbagi.
Masalahnya ada yang bisa membaca pesan itu dan ada yang tidak mampu membacanya.

Si Mbok adalah contoh bahwa pesan cinta Allah dibacanya dengan baik, walau sedikit yang dia punya itulah yang dia bagi… dan dia bahagia karena itu.

Saudaraku…‎
Memang cinta selalu menyehatkan dan menentramkan walau harus dengan memberi sesuatu dimana pada waktu yang bersamaan diri sendiri juga sangat membutuhkannya.

“Berbagi tidak harus menunggu kaya.”

Allah swt berfirman:‎
“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yg dikehendaki-Nya di antara hamba2-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya), dan apa saja yang kamu sedekahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ 34: 39).‎

Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: