Memuhammadiyahkan NU Secara Singkat

6 Mar

Pak AR Fachrudin mengagumi Gus Dur dan Gus Dur pun mengagumi Pak AR.

Suatu saat, Pak AR diminta mengisi kultum di sebuah masjid di Jawa Timur, pada saat bulan Ramadhan.

Seusai salat Isya’, pak AR naik ke mimbar dan mengisi tausiah, dengan waktu yang singkat. Hadirin terkesima.

Ketika tiba shalat tarawih, para sesepuh masjid meminta Pak AR, sekalian mengimami. Pak AR tidak bisa menolak.

Beliau lantas bertanya ke hadirin, “Biasanya tarawih plus salat witir berapa rakaat?”

Hadirin menjawab, “Duaaa puluuuh tigaaa rakaaat…”

Pak AR sebagai orang Muhammadiyah tulen, yang biasa salat tarawih plus witir sebelas rakaat pun, mengangguk santai.

Mulailah beliau mengimami shalat tarawih dengan khusyuk.

Di masjid itu, biasanya untuk mengerjakan shalat tarawih plus witir 23 rakaat butuh waktu sekitar sejam saja.

Sementara saat Pak AR mengimami sudah hampir 1,5 jam masih belum selesai 8 rakaat. Lama sekali bagi jamaah di sana.

Begitu rakaat kedelapan rampung, Pak AR membalikkan badan dan berkata dalam bahasa Jawa halus, “Nyuwun sewu, menika kados pundi, dilajengaken 23 rakaat, menapa langsung salat witir kemawon?” (Mohon maaf, ini bagaimana, dilanjutkan 23 rakaat atau langsung shalat witir saja).

Para jamaah kompak berseru “Wiiitiiiir mawon, Paaaak!” (witir saja pak).

Pak AR melanjutkan shalat witir tiga rakaat. Total jadi 11 rakaat.

Kasus itulah yang membuat Gus Dur sering bergurau, “Di dunia ini, hanya Pak AR, yang sanggup memuhammadiyahkan orang NU secara massal dan singkat.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: