Arsip | Pendidikan RSS feed for this section

Perbedaan Demokrasi, Diktator, dan Khilafah

4 Mar

Apakah ada cara mudah dan cepat menjelaskan perbedaan sistem demokrasi, diktator dan khilafah?

InsyaAllah ada.

Dengan apa? Cukup dengan menggunakan analogi shalat berjamaah.

Jika kita menyaksikan sekelompok orang yang shalat berjamaah, ada satu orang imam yang diikuti banyak orang yang menjadi makmum. Kita bisa menyaksikan, apapun perintah dan gerakan imamnya akan diikuti oleh makmumnya, tanpa ada yang membantah.

Jika imamnya takbir, semua makmumnya takbir. Jika imamnya rukuk, semua makmumnya rukuk, jika sujud, semua sujud, dan seterusnya. Semua makmumnya akan bersikap: “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami ta’at).

Pertanyaannya: apakah imamnya adalah seorang diktator? Jawabannya: tidak! Mengapa? Sebab, jika imamnya garuk-garuk, apakah ada makmum yang mengikutinya? Jika imamnya batuk, apakah ada makmum yang mengikutinya? Jika gerakan imamnya salah, apakah makmunnya akan tetap mengikutinya? Artinya, imam tidak bisa dikatakan diktator, sebab apa yang dia perintahkan bukan kehendaknya sendiri, melainkan perintah dari Allah.

Makmum juga tidak bisa dikatakan pihak yang mengikuti saja pada perintah imamnya, sebab, jika imamnya salah, makmum akan membetulkannya. Bahkan, jika imamnya batal, maka imam harus segera lengser dan harus segera digantikan oleh salah seorang makmumnya.

Sebaliknya: jika para makmum yang dengan sukarela dan sepenuh hati mengikuti gerakan imamnya, apakah itu karena aturan shalat sudah mengikuti kehendak mayoritas makmumnya, sebagaimana yang ada dalam sistem demokrasi? Jawabnya tentu saja tidak! Mengapa?

Buktinya, jika mayoritas makmumnya ingin agar shalat subuh itu diganti menjadi 4 rakaat, dengan pertimbangan karena waktu subuh itu sangat cocok untuk berolahraga; sedangkan shalat dzuhurnya dikurangi saja menjadi 2 rakaat, dengan pertimbangan karena itu adalah saat-saat orang sudah lelah bekerja, apakah imamnya akan menyetujui usulan mayoritas makmumnya tersebut? Jawabannya tentu saja tidak!

Apa kesimpulannya? Sesungguhnya sistem politik Islam, yakni sistem kekhilafahan dapat diibaratkan seperti kehidupan shalat berjamaah.

Dalam sistem khilafah, seorang pemimpin, yaitu kholifah harus tahu syariat Islam yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebagaimana seorang imam juga harus tahu betul aturan syariat Islam yang berkaitan dengan shalat berjamaah.

Dalam sistem khilafah, seluruh rakyatnya juga harus tahu syariat Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya. Sebagaimana seorang makmum juga harus mengetahui syariat Islam yang berkaitan dengan shalat berjamaah. Sehingga rakyat harus benar-benar tahu, kapan saat pemimpin harus ditaati, kapan saat pemimpin harus dikoreksi dan juga tahu kapan saat pemimpin itu wajib dilengserkan. Mudah bukan?

Kesimpulannya, sistem khilafah itu bukanlah sistem diktator dan juga bukan sistem demokrasi. Sistem khilafah itu adalah sistem yang berasal dari syariat Allah dan Rasul-Nya. Bukan sistem buatan manusia. Kewajiban manusia adalah menerapkannya dan mengamalkannya, dengan sepenuh keimanan dan keikhlasan, “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami ta’at).

H. Dwi Condro Triono, Ph.D.

Iklan

Rezeki Itu Ada di Langit, Bukan di Bumi

1 Mar

Saya punya sate langganan di kawasan Condet, Jakarta Timur. Ini sate paling enak di Jakarta menurut saya. Susah cari lawannya! Dagingnya empuk, dan wanginya emh…. bikin siapa pun ketagihan.

Anehnya, warung sate ini bukanya suka-suka. Tidak ada jam buka dan kadang-kadang libur mendadak, tanpa pemberitahuan. Seperti orang yang tidak butuh pelanggan. Kita harus telepon dulu kalau mau ke sana. Beberapa kali saya nekad datang ke sana tanpa telepon dulu ternyata warungnya tutup.

Saya tanya: “Kenapa cara jualannya seperti itu Pak Haji?”

Pak Haji Ramli penjual sate kondang itu menjawab dengan enteng: “Rezeki sudah ada yang ngatur, kenapa harus ngoyo? Kita kan hanya disuruh usaha, soal hasil itu urusan Allah, bukan urusan kita!”

“Bukan ngoyo Pak Haji!” jawab saya. “Bapak bisa kehilangan pelanggan kalo jualannya begitu!”

Pak Haji tersenyum mendengar komentar saya.

“Kayak situ yang ngatur rezeki aja!”Kata Pak Haji sambil senyum.

“Jangan pernah takut kehilangan rezeki…Rezeki itu kita cari bukan jumlahnya, tapi yang paling penting harus halal biar berkah!

Kalau Anda selalu mencari rezeki yang halal, makin banyak orang yang akan menikmati keberkahannya. Istri Anda, anak Anda, dan orang-orang terdekat, akan menikmati keberkahan dari rejeki Anda. Allah makin sayang sama Anda.

Coba lihat, berapa banyak orang kaya, tapi gak bisa menikmati kekayaannya?” Kata Pak Haji dengan penuh yakin.

“Tapi Pak Haji, kan gak ada salahnya juga kalau Bapak buka tiap hari! Malah kalau bisa malam juga buka karena banyak orang suka makan sate malam juga Pak!” Sergah saya, balik meyakinkan Pak Haji.

“Warung sate Bapak bisa makin rame dan makin besar!” kata saya lagi.

Pak Haji Ramli menghela napasnya agak dalam.

“Hai anak muda, Rezeki itu ada di langit bukan di bumi!”

“Anda muslim kan?” Tanya Pak Haji Ramli sambil menatap tajam wajah saya.

“Suka ngaji gak?” tanyanya.

“Coba baca, apa kata Qur’an?” lanjutnya.

“Cari nafkah itu siang bukan malam! Malam itu untuk istirahat, bukan untuk bekerja!” Kata Pak haji balas meyakinkan.

“Saya cuma mau jualan siang, kalau malam biarlah itu rezekinya tukang sate yang jualannya malam. Kalau saya lagi gak mau buka karena ada pengajian, yang penting ngaji. Biarlah orang makan yang lain, gak harus makan sate saya!”

“Dari jualan sate siang saja saya sudah merasa cukup dan bersyukur, kenapa harus buka sampe malam?” Pak Haji nyerocos sambil membakar sate.

“Pak Haji, kalau banyak ngaji berarti banyak liburnya dong?” Tanya saya lagi.

“Ya biar aja! Islam nyuruh saya ngaji tiap hari, tidak nyuruh saya jualan tiap hari!” ujarnya.

“Nih bunyinya begini kata Allah: Makin banyak waktumu engkau habiskan untuk mempelajari Al Qur’an, urusan duniamu Aku yang urus! Mau apa lagi?” Bantah Pak Haji.

“Coba liat orang-orang yang kelihatanya kaya itu. Pake mobil mewah, rumahnya mewah. Tanya mereka, emang hidupnya enak?” Pasti lebih enak hidup saya karena saya gak dikejar target, gak dikejar utang!

Saya 2 minggu sekali pulang ke Tegal, mancing, naik sepeda lewat sawah-sawah lewat kampung-kampung, bergaul dengan manusia-manusia yang menyapa dengan tulus.Tak seperti orang kota yang hanya menyapa kalau ada maunya!”, jelas Pak Haji.

“Biarpun saya naik sepeda, tapi batin saya jauh lebih enak daripada naik Jaguar!”

“Saya bisa menikmati angin yang asli, bukan AC. Bisa denger kodok, jangkrik, dan binatang-binatang lainnya, lebih nyaman di kuping daripada dengerin musik di dalam mobil!”

“Coba Anda pikir, buat apa kita ngoyo bekerja siang-malam?” tanyanya.

“Jangan-jangan kita muda kerja keras ngumpulin uang, sudah tua uangnya dipake ngobatin penyakit kita sendiri karena terlalu kerja keras waktu muda. Itu banyak terjadi kan?

Dan… jangan lupa, Tuhan sudah menakar rezeki kita! Jadi buat apa kita nguber rezeki sampe malam? Rezeki gak bakal ketuker!! Yang kerja siang ada bagiannya, begitu juga yang kerja malam!”

“Kalau kata peribahasa, waktu itu adalah uang. Tapi jangan diterjemahkan tiap waktu untuk cari uang!”

“Waktu itu adalah uang, artinya kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang. Uang bisa dicari lagi! Waktu lebih berharga dari uang. Makanya saya lebih memilih waktu daripada uang!”

“Waktu saya ngobrol dengan Anda ini jauh lebih berharga daripada saya bikin sate. Kalau saya cuma bikin sate, di mata Anda, saya hanya akan dikenang sebagai tukang sate.

Tapi dengan ngobrol begini semoga saya bisa dikenang bukan cuma tukang sate, mungkin saya bisa dikenang sebagai orang yang punya arti dalam hidup Anda sebagai pelanggan saya.

Kita bisa bersahabat! Waktu saya jadi berguna juga buat saya. Begitu juga buat Anda.”

“Kalau Anda merasa ngobrol dengan saya ini sia-sia, jangan lupa ya…Rezeki bukan ada di kantor Anda, tapi di langit! Coba buka Qur’an, itu kata Allah bukan kata saya. Gak mungkin kan Allah bohong?” Begitu kata Pak Haji Ramli menutup pembicaraan.

Semoga bermanfaat.

Lembaran yang Hilang

28 Feb

Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran sejarah.

“Nak, siapakah Barack Obama itu?”

“Penjual es krim, pak.”

Guru tersebut terkejut mendengar jawabannya.

Ia bertanya sekali lagi, si murid tetap memberi jawaban yang sama.

Ia kembali mengulang, “Nak, bukankah biografi Barack Obama ada di buku paket. Apa kamu sudah membacanya?”

“Sudah, pak. Barack Obama adalah penjual es krim!”

Sang guru semakin emosi mendengar jawaban seperti itu.

Ia perintahkan si murid mengeluarkan buku paket miliknya, dan membuka halaman tentang Obama.

Pada buku si murid, biografi Obama hanya ada satu halaman.

Kisah hidup Obama berhenti pada saat masih remaja, di usia 16 tahun ia memperoleh pekerjaan sebagai pelayan kedai es krim di kota Honolulu, negara bagian Hawaii.

Guru tersebut menyadari ternyata pada buku si murid, lembaran kedua hilang.

Mungkin tersobek tidak sengaja, atau bisa jadi salah cetak. Pantas ia tidak tahu kelanjutan sejarah hidup Obama hingga menduduki kursi presiden ke-44 di Amerika.

Guru tersebut benar, ketika ia menganggap bahwa Barack Obama adalah presiden. Karena kenyataannya memang demikian.

Tetapi muridnya juga benar karena sejauh yang ia baca, Obama adalah penjual es krim.

Jadi dalam cerita tersebut keduanya sama-sama benar.

Lalu mengapa terjadi perselisihan?

Karena sang guru tidak menyadari bahwa ada lembaran yang hilang. Begitu ia tahu, akhirnya ia memaklumi jawaban murid tersebut.

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita sejatinya juga serupa dengan kisah ini.

Hampir semua perbedaan pendapat antara dua orang, sebenarnya hanya disebabkan karena adanya “lembaran yang hilang”, adanya perbedaan pengetahuan & pemahaman.

Saat seorang suami berselisih dengan istrinya, redamlah dulu emosi. Sebab yang perlu kita cari tahu adalah di mana “lembaran yang hilang” itu.

Ketika orang tua berseberangan dengan anaknya, carilah dulu “lembaran yang hilang” tersebut. Bukan langsung melampiaskan kemarahan kepada anak.

Karena dalam perbedaan pendapat bukan selalu berarti ada yang benar dan ada yang salah.

Bisa jadi kedua pendapat benar. Namun menjadi berbeda, karena ada “lembaran yang hilang” di antara keduanya.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shad : 26)

Keajaiban Sebuah Penghargaan

26 Feb

Jangan remehkan sekecil apa pun bentuk perhatian terhadap orang lain. Sebab, sentuhan ringan di bahu seorang kawan yang putus asa ternyata mampu membuatnya urung melompat ke jurang.

Aku belum lupa kata-kata ini. Kata-kata yang ketemui di sebuah buku Chicken Soup for The Soul saat masih SMA dulu. Maknanya sangat kuat. Menghujam dalam ke dasar memori. Bahwa sebuah perhatian dan penghargaan yang tulus bisa mengubah kehidupan seseorang.

Adalah Andrew Carnegie yang berani membayar jasa seorang Charles Schwab dengan gaji satu juta dollar atau 14 miliar rupiah per tahun untuk menjadi presiden direktur United Steel Company, di AS.

Saat ditanya apakah Schwab orang jenius, hingga harus digaji sangat besar? Atau Schwab lebih mengerti tentang jenis baja daripada yang lain? Andrew Carnegie menggeleng,

“Bukan. Bukan karena itu. IQ Schwab biasa saja. Dia juga tidak lebih tahu tentang baja daripada staf lain. Hanya saja, aku melihat Schwab memiliki kemampuan membangkitkan antusiasme kerja karyawan. Ia juga mampu mengembangkan potensi terbaik pada diri bawahan.”

Perusahaan itu nantinya benar-benar menjadi salah satu perusahaan baja sukses di Amerika.

Kelak, Charles Schwab diwawancarai wartawan. Mengenai apa rahasia suksesnya menjadi pimpinan perusahaan? Ia pun menjawab,

“Tak ada hal lain yang sangat mematikan hasrat ingin maju seseorang kecuali kritikan dari atasan. Maka saya selalu membiasakan diri untuk memuji kinerja karyawan, jika ada yang salah kita selesaikan bersama.

Ketika sebuah proyek telah diselesaikan, saya tak akan pulang ke rumah sebelum memberi ucapan terima kasih karyawan, menjabat tangan mereka satu per satu sebagai wujud penghargaan atas kerja keras mereka.”

Ah, aku jadi teringat pada satu kisah…

Kisah ini terjadi di Detroit, AS. Beberapa dekade silam. Ketika itu, seorang guru melihat seekor tikus masuk ke dalam kelas. Ia pun berucap pada salah satu muridnya yang duduk di bangku paling ujung,

“Stevie, tolong bantu Ibu menangkap tikus itu.”

Mendengar permintaan sang guru, Stevie kecil seketika terhenyak. Tak percaya ucapan itu ditujukan padanya. Tapi tidak ada murid lain yang bernama Stevie selain dirinya di kelas itu. Maka ia ingin memastikan,

“Bu,” jawab Stevie, “Apakah Ibu menyuruhku?”

“Ya. Siapa lagi? Memangnya ada dua Stevie di kelas ini?”

Lelaki berkulit hitam itu pun berkata ragu-ragu, “Tapi apakah Ibu Guru tidak sadar kalau aku ini anak buta?”

Sang Guru tersenyum. Sangat manis. Ia pun mendekati Stevie, mengusap kepalanya lalu bertutur,

“Nak, Ibu tahu engkau tak bisa melihat. Namun kelemahan itu telah Tuhan ganti dengan kelebihan lain. Kau tahu? Telingamu sangat peka. Maka, gunakan baik-baik potensi itu.”

Stevie hampir menangis mendengar ucapan sang guru. Itulah pertama kalinya ia merasa sangat dihargai orang lain.

Ia mengalami kebutaan beberapa saat setelah lahir prematur. Stevie tumbuh dengan bully-an dari teman-teman. Sang Ibu sampai capek menceramahi teman-teman Stevie agar tidak mengolok-olok fisik anaknya. Stevie tumbuh jadi pribadi pemalu, tertutup dan tak percaya diri.

Dan hari itu, Stevie mendapat energi semangat lewat ucapan sang guru. Bahwa ia istimewa. Punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Sejak saat itulah Stevie mulai mengembangkan bakat pendengarannya.

Ya, Stevie yang sedang keceritakan ini adalah Stevie Morris. Tapi dunia hiburan internasional lebih mengenalnya dengan nama Stevie Wonder. Seorang penyanyi, penulis lagu, produser rekaman sukses di Amerika.

Ia telah merekam lebih dari 30 lagu hits dan memenangi 21 Grammy Award, sebuah rekor untuk penyanyi solo. Stevie Wonder juga memenangkan piala Oscar untuk lagu terbaik serta masuk ke ‘Rock and Roll dan Songwriter Halls of Fame’.

Kini, bertahun-tahun kemudian, Stevie mengatakan bahwa penghargaan dari sang guru di dalam kelas itulah yang menjadi titik awal dari kehidupan barunya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik kita renungkan bersama,

“Jika kau seorang guru, berikan penghargaan yang tulus pada muridmu. Pujilah usaha mereka menyelesaikan tugas darimu. Apa pun hasilnya.

Atau bila kau seorang atasan, berikan penghargaan yang murni pada karyawan. Puji kerja keras mereka membantu perusahaanmu. Setelah itu, duduk dan tunggulah. Karena tak lama lagi mereka akan memberimu hasil dan keuntungan yang tak pernah engkau duga sebelumnya.”

Fitrah Ilhami

Pendidikan Terbaik Adalah Perbuatan

22 Feb

Charlie Chaplin, komedian paling terkenal tempo dulu, pernah bercerita:

“Waktu masih kecil, aku diajak oleh ayahku untuk nonton pertunjukan sirkus.

Sebelum masuk, kami antri di depan loket untuk membeli karcis. Antrian cukup panjang, dan di depan kami ada satu keluarga ikut antri. Bapak, ibu dan 4 anak.

Anak-anak itu tampak bahagia. Dari pakaian yang mereka kenakan, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang kaya. Pakaiannya sangat sederhana, meski tidak dekil.

Tiba giliran mereka harus membayar karcis. Sang bapak merogoh kantong celana, dan tampak kebingungan: uangnya tidak cukup untuk membayar 6 lembar karcis. Dia sedih dan murung, kemudian segera minggir dari antrian.

Ayahku melihatnya, dan langsung merogoh uang 20 dolar dari sakunya. Ayahku langsung menjatuhkan uang itu di samping bapak empat anak tersebut.

Ayahku menepuk pundaknya, dan berkata, “Pak, uang anda jatuh.”

Bapak itu menoleh, memandang ayahku, dan dia sadar bahwa ayahku mau membantunya supaya bisa beli 6 karcis. Matanya sembab, bibirnya tersenyum, dan dia ambil uang 20 dolar itu sambil mengucapkan terima kasih.

Ayahku pun tersenyum, lantas mundur menghampiri aku.

Aku lihat bapak itu segera beli karcis untuk keluarganya. Mereka tampak sangat bahagia.

Ayahku lantas mengajak aku pulang. Kami tidak jadi nonton pertunjukan sirkus.

Ternyata, uang ayahku hanya 20 dolar, dan sudah diberikan kepada keluarga tadi.

Dalam hidupku, itulah pemandangan yang paling menakjubkan. Pemandangan yang jauh lebih indah dibanding pertunjukan apa pun di muka bumi ini.

Sejak saat itu aku meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah tindakan, bukan kata-kata.”

It’s not about how much money you give
It’s about how much love you put in your give.

Semoga bermanfaat.

Jalan yang Jarang Mau Dilalui

24 Okt

Suatu hari, seorang anak mengeluh kepada ayahnya yang sedang bekerja. “Ayah, boleh aku bicara?” kata sang anak.

“Ada apa, nak?” tanya sang ayah.

Sang ayah kemudian duduk disamping anaknya dan berkata, “Ayo ceritakan nak, Ayah akan mendengarkan.”

“Aku lelah, sangat lelah hati ini, ayah…” kata sang anak.

“Aku lelah karena Aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus, sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…Aku mau menyontek saja! Aku lelah, sangat lelah.”

“Aku lelah karena aku harus terus membantu Ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu,
Aku ingin Kita punya pembantu, ayah.!”

“… Aku lelah, sangat lelah …”
Baca lebih lanjut

Kapan Waktu Terbaik Untuk Memulai Usaha?

4 Mar

mulai-bisnisBagi banyak orang yang ingin menjadi pengusaha atau memulai suatu usaha, pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah, “Kapan waktu terbaik untuk mulai berusaha?” Jawabannya: SEKARANG!

Faktanya, tidak pernah ada umur yang terlalu muda atau terlalu tua untuk mulai berusaha. Rasulullah sudah mulai bekerja sejak umur 12 tahun sebagai seorang pengembala domba. Inilah pekerjaan pertama Rasulullah sebagai karyawan yang membentuk karakternya. Pada umur 15 tahun beliau baru menjadi pengusaha saat ikut pamannya untuk berdagang ke Syams. Dengan segala keterbatasannya, Rasulullah akhirnya menjadi salah seorang pengusaha yang dikagumi dan namanya tersohor se-jazirah Arab.
Baca lebih lanjut