Arsip | Renungan RSS feed for this section

Mualaf di Persimpangan Syariat-Nya (Kisah Nyata)

11 Sep

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat email dari salah seorang sahabat saya. Dia juga seorang mualaf sama seperti saya, Sharen namanya. Dulu Kami bertemu di sebuah lembaga pelatihan pramugari di Jogja.

Sharen mahasiswi Atmajaya, gadis cantik keturunan Tionghoa. Kalau mau banding-bandingkan kecantikan dengan Sharen, saya mending tutup muka. Udah pasti kalah jaaauuhhh. Sharen, si gadis Tionghoa ini bukan hanya fasih bahasa Mandarin, tapi juga fasih bahasa Inggris dan bahasa Jawa. maklum Cina Semarang.

Kami sama-sama pramugari waktu itu, bedanya Sharen lebih dahulu diterima jadi pramugari reguler Garuda Indonesia, sementara saya cukup puas di Airline swasta.
Baca lebih lanjut

Antara Mertua dan Menantu

9 Mar

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua.

Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Urainab sering dikritik ibu mertua karena perbedaan sikap dan prinsip mereka dalam semua perkara.

Pertengkaran sering terjadi. Urainab dan ibu mertua selalu berselisih. Yazid, suami Urainab merasa sedih melihat hal itu. Namun, dia tidak mampu menyelesaikan persoalan antara istri dan ibunya.

Jika dia membela ibunya, bagaimana dengan istrinya. Jika dia membela istrinya, tentu akan membuat ibunya sakit hati.

Baca lebih lanjut

Dulu dan Sekarang

8 Mar

Dulu…Aku sangat kagum pada manusia yang cerdas, kaya, berhasil dalam karier, hidup sukses, dan hebat.

Sekarang …Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan manusia yang selalu bersyukur kepada-Nya sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.

Dulu … Aku memilih marah ketika merasa ‘harga diriku’ dijatuhkan oleh orang lain yang berlaku kasar kepadaku dan menyakitiku .. .

Sekarang …Aku memilih untuk banyak bersabar & memaafkan karena aku yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan & bersabar.

Baca lebih lanjut

Talkin

7 Mar

“Buk, tolong ibu saya. Tolong talkinkan ibu saya. Tolong …,” pinta Ipung, anak tetanggaku, wajah memelas dalam nafas terengah-engah.

Mungkin untuk menuju kemari, ia harus berlari-lari.

Aku kaget bukan kepalang mendengar ucapan Ipung. Memang Bu Min, ibunya Ipung, sudah sakit sejak lama. Penyakit diabetes yang dideritanya terus menggerogoti daya tahan tubuh.

Terakhir kali, beliau sudah tidak bisa berjalan. Jika kebetulan lewat dan melihatnya terduduk di kursi roda di teras rumah, biasanya aku akan menyapa dan bercengkrama sebentar.

Bahkan, tadi pagi pun, sepulang belanja sayur, aku masih menyapanya. Tak dinyana, sore hari harus mendengar kabar ini.

Baca lebih lanjut

Sedekah Si Mbok

5 Mar

Suatu hari di sebuah warung sederhana, di Kepatihan Wetan, Solo, aku mengamati dialog di dalamnya.

“Gratis Mbok?“si Parjo bertanya heran.

“Ya, kenapa? makan aja apa yg kamu suka.”

“Wah…. terima kasih mbok…terima kasih…”

Si Mbok tersenyum riang ketika memperhatikan Parjo, langganannya yang biasa berutang di warungnya, sekarang menyantap makanan dengan lahapnya.

Mungkin kali ini pria itu dapat menikmati makanannya dengan tanpa beban. Keringat meleleh di keningnya.

Baca lebih lanjut

Fitnah

3 Mar

Seorang murid meminta maaf kepada gurunya yang telah difitnahnya.

Mendengar hal itu, sang guru hanya tersenyum sambil bertanya, “Apa kamu serius?”

“Saya serius, guru” jawab sang murid.

Guru itu terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng (pembersih dari kumpulan bulu ayam)?”

“Ya guru, saya punya. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

“Berjalanlah berkeliling di jalan sambil mencabuti bulu-bulu kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.”

Esoknya, sang murid menemui guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun.
Baca lebih lanjut

Hati yang Bening

2 Mar

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia adalah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendoakannya agar diberkahi”.

Sebagian lagi berkata, “Setiap kali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, keturunan yang baik), saya mendoakan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’”.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiap kali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga mereka disatukan hatinya di dalam ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiap kali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, ku do’akan dia agar mendapat hidayah dan bertaubat pada-Nya”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.
Baca lebih lanjut