Arsip | Renungan RSS feed for this section

Antara Mertua dan Menantu

9 Mar

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua.

Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Urainab sering dikritik ibu mertua karena perbedaan sikap dan prinsip mereka dalam semua perkara.

Pertengkaran sering terjadi. Urainab dan ibu mertua selalu berselisih. Yazid, suami Urainab merasa sedih melihat hal itu. Namun, dia tidak mampu menyelesaikan persoalan antara istri dan ibunya.

Jika dia membela ibunya, bagaimana dengan istrinya. Jika dia membela istrinya, tentu akan membuat ibunya sakit hati.

Yazid hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga persoalan antara istri dan ibunya segera selesai dan mereka hidup damai bersama.

Hari pun terus berlalu, suasana panas di rumahnya tak berubah. Yazid sempat terpikir untuk membawa istrinya pindah dari rumah ibunya. Namun, dia belum memiliki tempat lain untuk ditinggali, apalagi ibunya yang beranjak tua, tak tega dia tinggalkan.

Keadaan semakin memburuk, pertengkaran terus teijadi, dan tidak ada satu pun yang mau disalahkan atas setiap pertengkaran.

Akhirnya, Urainab memutuskan untuk melakukan sesuatu demi mengakhiri pertengkaran dengan ibu mertuanya. Dia berencana akan meracuni mertuanya.

’’Kalau Ibu meninggal, tidak ada lagi yang akan mengganggu hidupku!” pikir Urainab.

Urainab lalu mengunjungi Sufyan bin Umar, seorang ahli obat di sebuah kota. Dia menceritakan masalahnya dan meminta Sufyan bin Umar untuk memberinya racun.

Aku mengerti masalahmu dan betapa kamu menderita karenanya. Aku akan membuatkan racun yang paling ampuh untukmu, asal kamu mendengarkan semua saranku,” kata Sufyan bin Umar.

Urainab mengangguk. Jauh di dalam hatinya, dia merasa berdosa karena memiliki niat yang buruk atas mertuanya. Bukankah dalam Islam telah diajarkan bahwa mertua adalah orangtua juga. Ibu mertua adalah ibunya juga. Namun, rasa sakit hati dan marah telah membakar dirinya.

’Sebelum racun ini diberikan, selama satu bulan menurutlah pada apa yang diperintahkan dan diinginkan oleh ibu mertuamu,” saran Sufyan bin Umar.

Urainab mengangguk setuju.

Urainab lalu pulang dengan lega. Racun yang diberikan Sufyan bin Umar disimpannya dalam dompet.

Hari demi hari berlalu, Urainab menuruti apa yang diperintahkan ibu mertuanya. Dia membersihkan rumah, memasak, menyapu halaman, mendengarkan ibu mertua ketika sedang berbicara dan melakukan banyak perbuatan baik padanya. Dia tidak lagi berdebat dan melayani ibu mertua bagai ibu kandungnya sendiri.

Awalnya, hati Urainab berontak. Namun, dia teringat pesan Sufyan untuk menuruti semua keinginan dan perintah ibu mertua selama satu bulan. Sesudah itu, ibu mertuanya akan dia racun hingga mati. Hari demi hari berlalu, tidak ada lagi pertengkaran di rumah itu.

Yazid sangat bahagia melihat perubahan sikap istri dan ibunya. Istrinya tidak lagi mendebat dan lambat laun ibunya tak bersikap keras lagi.

Suasana rumah menjadi hangat dan nyaman. Urainab merasa senang dan nyaman. Ia dan ibu mertuanya menjadi sepasang sahabat baik.

Satu bulan tiba. Sudah waktunya Urainab meracuni ibu mertuanya. Urainab membuka dompetnya, tiba-tiba dia menangis hebat. Hatinya terasa sakit. Kali ini bukan karena perlakuan ibu mertuanya, melainkan karena niat buruknya.

Kini, dia mengerti kalau ibu mertuanya melakukan semua itu karena ingin mengajarinya menjadi istri yang baik bagi suaminya.

Satu bulan telah mengajarkan banyak hal pada Urainab. Sekarang Urainab bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasak, dan melayani suami dengan baik.

Sayup terdengar di ruang tengah, ibu mertuanya sedang berbincang dengan tamu.

Aku sungguh beruntung memiliki menantu seperti Urainab. Dia adalah menantu terbaik yang kumiliki. Dia sangat patuh, rajin, dan salihah,” ujar ibu mertuanya dengan bangga.

Dada Urainab semakin sesak, ’Ya Allah, maafkan semua salah dan niat burukku.

“Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. “
(HR Tirmidzi dan Ahmad)

Iklan

Dulu dan Sekarang

8 Mar

Dulu…Aku sangat kagum pada manusia yang cerdas, kaya, berhasil dalam karier, hidup sukses, dan hebat.

Sekarang …Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan manusia yang selalu bersyukur kepada-Nya sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.

Dulu … Aku memilih marah ketika merasa ‘harga diriku’ dijatuhkan oleh orang lain yang berlaku kasar kepadaku dan menyakitiku .. .

Sekarang …Aku memilih untuk banyak bersabar & memaafkan karena aku yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan & bersabar.

Dulu …Aku memilih mengejar dunia dan menumpuknya sebisaku….
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah makan dan minum untuk hari ini.

Sekarang … Aku memilih untuk bersyukur dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa mengisi waktuku hari ini dengan apa yang bisa aku lakukan/perbuat dan bermanfaat untuk sesama.

Dulu …Aku berpikir bahwa aku bisa membahagiakan orang tua, saudara, dan teman-temanku jika aku berhasil dengan duniaku… Ternyata yang membuat mereka bahagia bukan itu melainkan ucapan, sikap, perilaku, sapaanku kepada mereka.

Sekarang …Aku memilih untuk membuat mereka bahagia dengan apa yang ada padaku karena aku ingin ke-manfaat-anku ditengah-tengah mereka…
[Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya]

Dulu … Fokus pikiranku adalah membuat rencana-rencana dahsyat untuk duniaku…Ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-Nya.

Sekarang … Yang menjadi ‘fokus pikiran’ dan ‘rencana-rencana’ ku adalah bagaimana agar hidupku dapat berkenan di mata-Nya dan sesama jika suatu saat nanti diriku dipanggil oleh-Nya.

Τak ada yang dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati ‘hangatnya matahari esok pagi’

Ada yang bisa memberikan jaminan kepadaku bahwa aku masih bisa menghirup udara besok hari?

Jadi apabila hari Ini dan esok hari aku masih hidup, itu adalah karena kehendak-Nya semata, bukan kehendak siapa-siapa.

Renungan ini mengintropeksi kita agar lebih mawas diri bahwa dulu aku ini siapa? Dan sekarang aku mau ke mana?

Semoga di tahun ini, kita menjadi lebih baik, dan bisa merealisasikan visi misi kita bersama. Aamiin…

Talkin

7 Mar

“Buk, tolong ibu saya. Tolong talkinkan ibu saya. Tolong …,” pinta Ipung, anak tetanggaku, wajah memelas dalam nafas terengah-engah.

Mungkin untuk menuju kemari, ia harus berlari-lari.

Aku kaget bukan kepalang mendengar ucapan Ipung. Memang Bu Min, ibunya Ipung, sudah sakit sejak lama. Penyakit diabetes yang dideritanya terus menggerogoti daya tahan tubuh.

Terakhir kali, beliau sudah tidak bisa berjalan. Jika kebetulan lewat dan melihatnya terduduk di kursi roda di teras rumah, biasanya aku akan menyapa dan bercengkrama sebentar.

Bahkan, tadi pagi pun, sepulang belanja sayur, aku masih menyapanya. Tak dinyana, sore hari harus mendengar kabar ini.

“Inna lillahi … oh iya, Pung. Hayuk. Eh, bentar dulu,” tukasku.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Menyimpan sendok nasi yang masih tergenggam di tangan. Tadi, gedoran keras dari luar membuatku terburu-buru membuka pintu.

Tanpa sempat berganti baju, aku dan Ipung berjalan cepat menuju rumah Bu Min.

Di komplek ini, entah apa alasannya, aku sudah beberapa kali dipanggil untuk menalkinkan orang. Profesi? Bukan.

Mengiyakan permintaan bantuan para tetangga untuk menalkinkan orang dalam kondisi darurat seperti itu, banyak pelajaran yang bisa kudapat.

Meski, seringkali ada tanya yang menghampiri, “Bagaimana kelak kondisiku saat di situasi seperti itu? Adakah yang bersedia membimbingku? Apakah aku bisa lolos dalam ujian itu?”

Ngeri! Terkadang muncul rasa ngeri membayangkan pertanyaan-pertanyaan ini.

Sampai di sana, beberapa tetangga sudah datang terlebih dulu. Aku bergegas menuju pembaringan Bu Min dan segera duduk di sampingnya.

Wanita itu berusia hampir sama denganku, enam puluh tahunan, dalam kondisi sakaratul maut. Kini badan tambunnya tergeletak tak berdaya.

Mulutnya terbuka. Suara nafas terdengar kencang. Kusentuh kulit Bu Min, sudah mulai dingin. Mungkin inilah yang bernama detik-detik perjuangan.
Seketika hati ikut trenyuh.

Setelah mendekat ke telinganya, perlahan kubisikkan dua kalimat syahadat. Lalu kuulangi perlahan untuk menuntunnya. Bu Min terlihat kepayahan mengikuti. Atau mungkin konsentrasinya sudah separuh pergi.

Kucoba lagi. Kali ini kutuntun dengan kalimat yang lebih pendek, kalimat tauhid.

“Laa Ilaaha illallah ….”

Bu Min tidak bereaksi. Ku usap kepalanya seraya kembali menuntun kalimat tauhid. Ku ulangi, lagi dan lagi. Sesekali kuselipkan kalimat penyemangat, bahwa ia akan memenangkan pertarungan ini.

“Ayo, Bu. Bisa. Ayo kita coba lagi ….”

Hampir setengah jam berlalu. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Bersyukur, kerja keras Bu Min mulai membuahkan hasil. Lidahnya makin bisa mengikuti apa yang ku tuntunkan. Terbata-bata. Penuh kepayahan. Namun bisa sampai tuntas.

Jangan tanya lagi air mataku. Tumpah ruah saat menyaksikan kesungguhan perjuangan seorang manusia, untuk terakhir kalinya.

Sampai … Perjuangan itu mencapai puncaknya. Setelah rampung mengucap kalimat tauhid, rampung pula deru nafas di dada.

Bu Min berpulang pada pemilik sejati.

Dua anak Bu Min, Ipung dan Yana, menangis tergugu. Ratapan mereka terasa menyayat hati.
Begitupun aku, mata ini terus membasah. Sekalipun wajah tenang Bu Min menjadi mimik terakhir, tetap saja, seindah apapun sebuah kematian, kesedihan tetap menggelora. Bersebab fisik tak lagi bisa bersua, untuk selama-lamanya.

Sore menjelang maghrib,
Urusan pemandian jenazah telah usai. Aku pamit pada Ipung untuk pulang ke rumah.
Menurutnya, malam ini juga jenazah almarhumah akan dimakamkan.

“Pung, Ibuk pulang dulu sebentar, ya. Mau angkat jemuran yang tadi masih diluar. Nanti ba’da maghrib Ibuk balik lagi,” ucapku pada anak sulung Bu Min.

Ipung berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ia menawariku untuk mengantar, tapi langsung kutolak. Nenek enam cucu ini Alhamdulillah masih diberi kesehatan.

Aku langsung melangkah pulang.

Sesampainya di rumah, lekas mengangkat jemuran, bebersih badan, lantas sholat maghrib.

Seusai sholat, tanpa diminta memory berputar mundur sejenak.

Saat menalkinkan, konsentrasiku sempat agak oleng. Beberapa kali harus menyaksikan realita yang … akh! Membuat hati ini miris.

Beberapa tetangga yang menengok Bu Min, sesekali mengarahkan handphone bagus untuk memotretnya.

Cekrek!.
Dalam kondisi Bu Min yang tengah kepayahan.

Duhai … untuk apa?
Kenang-kenangan?
Bukankah masih banyak cara untuk mengenang?
Bukankah lebih baik memberi kenanganan yang utama, dengan menyokong perjuangannya?
“Mari ikut mendo’akan.” Seru hatiku kala itu

Argh … Astaghfirullah

Hatiku kian menangis, saat menyaksikan Yana, putri bungsu Buk Min, sepanjang aku menalkin, sepanjang itu pula ia sibuk dengan handphone-nya. Membuat video di menit-menit terakhir sang bunda, seraya satu tangan berkali-kali menyeka air mata.

Duhai, Sayang …
Ini ibumu sedang berjuang.
Tak inginkah kau memompa kekuatan?
Setidaknya agar beliau mampu bertahan, dari serangan syetan yang akan terus membelokkan lidah, di kesempatan terakhirnya
Ambil posisiku, Sayang …

Sadarkah, Nak …
Hanya untuk sebuah kenangan yang bertahun kemudian akan menghilang, kau tukar dengan sesuatu tak tergantikan. Kesempatan.

Kesempatan berbakti sepenuh hati, saat raganya masih bisa kau lihat.
Kesempatan mewujudkan cinta, menuntunkan kalimat tauhid sebagai bekal kehidupan alam selanjutnya.
Yah … nak,
Berilah bekal itu,
Tuntunlah ibumu,

Tapi … akh, iya, dia bukan anakku.


Kini aku memiliki satu pesan untuk kalian, anak-anakku …
Jika saat agung itu tiba,
Talkinkan aku, hingga ujung waktu

Percayalah …
Aku lebih membutuhkan itu
Aku sangat membutuhkan itu
Aku ingin lisanmu yang menuntunku

Tangan berlekas melipat mukena, lalu menyeka bulir bening yang membasahi pipi berkulit keriput.
Malam ini, aku berniat menelpon Gina dan Rumi, untuk menyampaikan permintaan ini.

“Talkinkan aku, anakku …”

Mosleem Watashiwa

Sedekah Si Mbok

5 Mar

Suatu hari di sebuah warung sederhana, di Kepatihan Wetan, Solo, aku mengamati dialog di dalamnya.

“Gratis Mbok?“si Parjo bertanya heran.

“Ya, kenapa? makan aja apa yg kamu suka.”

“Wah…. terima kasih mbok…terima kasih…”

Si Mbok tersenyum riang ketika memperhatikan Parjo, langganannya yang biasa berutang di warungnya, sekarang menyantap makanan dengan lahapnya.

Mungkin kali ini pria itu dapat menikmati makanannya dengan tanpa beban. Keringat meleleh di keningnya.

” Jo…“

“Ya, Mbok. Ada apa? Apa ini hanya guyonan saja Mbok?” Parjo melongo ke arah si Mbok dengan bingung dan mulut yang masih terisi nasi.

Tapi si mbok tetap tersenyum.

“Ini catatan bon kamu ya?” tanya si Mbok dengan tersenyum.

“Ya Mbok. Tapi aku ndak ada duit sekarang.”

“Ya, aku tahu. Kamu memang selalu ndak ada uang akhir-akhir ini. Ya sudah, bon kamu aku hapus..“ jawab simbok dengan senyum.

“Hapus???“ teriak Barjo dengan bengong.

“Wah, lelucon apa lagi ini Mbok. Jangan bikin aku jantungan Mbok. Gratis saja aku sudah bingung…lah sekarang bonku malah dihapus, lagi.“

“Ya ..kamu ndak perlu jantungan. Terima aja. Aku senang kok” Jawab si mbok.

Hari itu ada hampir 40 orang yang datang makan di warung mbok Mijah.

Mereka semua adalah supir angkot, tukang becak, pemulung, pedagang asongan, pengamen jalanan dan tukang minta-minta yang biasa nongkrong di sudut jalan.

Semua menikmati makanan dengan gratis. Bahkan sebagian dari mereka yang punya catatan utang dinyatakan dihapus oleh si mbok.

Kebahagiaan jelas sekali terpancar di wajah si Mbok.

Pemandangan tersebut aku saksikan sendiri sambil asyik menikmati es teh manis.

Mereka yang datang seakan tidak memperdulikanku.
Tapi tidak ada satu pun ekspresi wajah dari mereka yang luput dari perhatianku.

Hari itu memang aku sengaja datang ke warung si Mbok yang jadi langgananku ketika aku mahasiswa dulu.

Si Mbok hampir tidak percaya ketika aku datang.‎

“Maksud mas?“ Tanya si Mbok dengan sedikit terkejut.

“Ya Mbok. Aku ingin tahu berapa jumlah penjualan Si mbok bila seluruh makanannya habis terjual.” tanyaku tanpa memperdulikan keterkejutannya.‎

“400 ribu rupiah, Den. Tapi tidak semua si mbok terima karena sebagian diutangin”

“ Baik. Berapa jumlah catatan utang dari semua pelanggan si Mbok“ tanyaku lagi.

“ Ada Rp. 700 ribu” jawabnya lagi, tapi masih bingung.

“Oke Mbok. Nah ini saya beri uang Rp. 1.500.000.“ kataku sambil memberikan uang itu kepadanya.

“Oh.. Untuk apa ini Den?” Sekarang benar-benar bingung dia.

“Aku hanya ingin memberikan uang ini kepada Si Mbok. Karena dalam keadaan sulit si Mbok masih bisa berbuat baik sama orang. Simbok bisa ngutangin orang yang butuh makan walau simbok sendiri tidak tahu kapan orang itu akan membayar.”

Sambil memperhatikan wajahnya yang berseri dalam kebingungan, kupegang tangannya dan menyerahkan uang itu.

“Nah, apa yang akan si Mbok lakukan dengan uang ini?” sambungku.

“Si Mbok hanya ingin memberi kesempatan semua langganan makan gratis hari ini. Menghapus semua utang mereka.” Jawabnya.

“Mengapa?“ Sekarang gantian aku yg bingung.

“Si mbok orang miskin. Si mbok pengen bersedekah tapi ndak pernah bisa. Wong hidup juga sulit begini.” Katanya.

Ketika senja mulai beranjak malam. Aku melangkah menjauhi sudut jalan itu.

Di dalam mobil aku termenung. Selama ini kita begitu hebatnya menggunakan retorika bahwa kita peduli dengan si miskin.
Kita marah kepada ketidakadilan. Tapi kita tidak berbuat banyak.
Tapi sebetulnya kehadiran Allah tetap ada di lingkungan si miskin.
Dengan kesahajaan di antara mereka dan cara mereka, mereka berbagi untuk saling peduli. Itu…

Negeri ini kuat karena rahmat Allah yang meniupkan pesan cinta ke hati siapa pun untuk saling berbagi.
Masalahnya ada yang bisa membaca pesan itu dan ada yang tidak mampu membacanya.

Si Mbok adalah contoh bahwa pesan cinta Allah dibacanya dengan baik, walau sedikit yang dia punya itulah yang dia bagi… dan dia bahagia karena itu.

Saudaraku…‎
Memang cinta selalu menyehatkan dan menentramkan walau harus dengan memberi sesuatu dimana pada waktu yang bersamaan diri sendiri juga sangat membutuhkannya.

“Berbagi tidak harus menunggu kaya.”

Allah swt berfirman:‎
“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yg dikehendaki-Nya di antara hamba2-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya), dan apa saja yang kamu sedekahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ 34: 39).‎

Semoga bermanfaat.

Fitnah

3 Mar

Seorang murid meminta maaf kepada gurunya yang telah difitnahnya.

Mendengar hal itu, sang guru hanya tersenyum sambil bertanya, “Apa kamu serius?”

“Saya serius, guru” jawab sang murid.

Guru itu terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng (pembersih dari kumpulan bulu ayam)?”

“Ya guru, saya punya. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

“Berjalanlah berkeliling di jalan sambil mencabuti bulu-bulu kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.”

Esoknya, sang murid menemui guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun.

“Guru… bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga kilo sambil mengingat semua perkataan buruk saya tentang guru. Maafkan saya, guru….”

Sang guru terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang tadi kamu lalui.

Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu.

Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.”

Sepanjang perjalanan pulang, sang murid berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang dia lepaskan di sepanjang jalan.

Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu.

Bulu-bulu itu tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan Atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui.

Sang murid terus berjalan berjam-jam, dengan pakaian yang dibasahi keringat.

Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan.

Hari berikutnya, sang murid menemui sang guru dengan wajah yang murung.

“Guru, hanya ini yang berhasil saya temukan.” ucapnya.

Disodorkannya lima bulu kemoceng ke hadapan sang guru.

“Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata sang guru.

“Apa yang telah aku pelajari, guru?” tanyanya.

“Tentang fitnah itu,” jawab sang guru.

“Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah yang kamu sebarkan.

Mereka dibawa angin ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak bisa kamu duga

itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya.

Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya.

Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi.

Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Itulah sebabnya kenapa fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Renungkanlah…

Hati yang Bening

2 Mar

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia adalah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendoakannya agar diberkahi”.

Sebagian lagi berkata, “Setiap kali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, keturunan yang baik), saya mendoakan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’”.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiap kali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga mereka disatukan hatinya di dalam ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiap kali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, ku do’akan dia agar mendapat hidayah dan bertaubat pada-Nya”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiap hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Rabb-ku, siapa pun dari kaum muslimin yang berbuat zalim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya. Oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.

Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu.

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.

Suatu malam, Al Hasan Al Bashri berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang menzalimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d (Al Hasan Al Bashri), sungguh malam ini aku mendengar engkau berdoa untuk kebaikan orang yang menzalimimu sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang menzalimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya?”

Beliau menjawab: “Firman Allah:

ﻓَﻤَﻦْ ﻋَﻔَﺎ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺢَ ﻓَﺄَﺟْﺮُﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪ

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah’”. (QS. Asy-Syuuro: 40)

Sungguh, itulah hati yang dijadikan shalih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka.

Janganlah engkau bersedih bila kebaikanmu tidak dipedulikan orang. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.

Apa pun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah.
Sebaliknya, apa pun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu.

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya.

Semoga Allah menjadikan hari-harimu bahagia dengan segala kebaikan dan keberkahan.

Rezeki Itu Ada di Langit, Bukan di Bumi

1 Mar

Saya punya sate langganan di kawasan Condet, Jakarta Timur. Ini sate paling enak di Jakarta menurut saya. Susah cari lawannya! Dagingnya empuk, dan wanginya emh…. bikin siapa pun ketagihan.

Anehnya, warung sate ini bukanya suka-suka. Tidak ada jam buka dan kadang-kadang libur mendadak, tanpa pemberitahuan. Seperti orang yang tidak butuh pelanggan. Kita harus telepon dulu kalau mau ke sana. Beberapa kali saya nekad datang ke sana tanpa telepon dulu ternyata warungnya tutup.

Saya tanya: “Kenapa cara jualannya seperti itu Pak Haji?”

Pak Haji Ramli penjual sate kondang itu menjawab dengan enteng: “Rezeki sudah ada yang ngatur, kenapa harus ngoyo? Kita kan hanya disuruh usaha, soal hasil itu urusan Allah, bukan urusan kita!”

“Bukan ngoyo Pak Haji!” jawab saya. “Bapak bisa kehilangan pelanggan kalo jualannya begitu!”

Pak Haji tersenyum mendengar komentar saya.

“Kayak situ yang ngatur rezeki aja!”Kata Pak Haji sambil senyum.

“Jangan pernah takut kehilangan rezeki…Rezeki itu kita cari bukan jumlahnya, tapi yang paling penting harus halal biar berkah!

Kalau Anda selalu mencari rezeki yang halal, makin banyak orang yang akan menikmati keberkahannya. Istri Anda, anak Anda, dan orang-orang terdekat, akan menikmati keberkahan dari rejeki Anda. Allah makin sayang sama Anda.

Coba lihat, berapa banyak orang kaya, tapi gak bisa menikmati kekayaannya?” Kata Pak Haji dengan penuh yakin.

“Tapi Pak Haji, kan gak ada salahnya juga kalau Bapak buka tiap hari! Malah kalau bisa malam juga buka karena banyak orang suka makan sate malam juga Pak!” Sergah saya, balik meyakinkan Pak Haji.

“Warung sate Bapak bisa makin rame dan makin besar!” kata saya lagi.

Pak Haji Ramli menghela napasnya agak dalam.

“Hai anak muda, Rezeki itu ada di langit bukan di bumi!”

“Anda muslim kan?” Tanya Pak Haji Ramli sambil menatap tajam wajah saya.

“Suka ngaji gak?” tanyanya.

“Coba baca, apa kata Qur’an?” lanjutnya.

“Cari nafkah itu siang bukan malam! Malam itu untuk istirahat, bukan untuk bekerja!” Kata Pak haji balas meyakinkan.

“Saya cuma mau jualan siang, kalau malam biarlah itu rezekinya tukang sate yang jualannya malam. Kalau saya lagi gak mau buka karena ada pengajian, yang penting ngaji. Biarlah orang makan yang lain, gak harus makan sate saya!”

“Dari jualan sate siang saja saya sudah merasa cukup dan bersyukur, kenapa harus buka sampe malam?” Pak Haji nyerocos sambil membakar sate.

“Pak Haji, kalau banyak ngaji berarti banyak liburnya dong?” Tanya saya lagi.

“Ya biar aja! Islam nyuruh saya ngaji tiap hari, tidak nyuruh saya jualan tiap hari!” ujarnya.

“Nih bunyinya begini kata Allah: Makin banyak waktumu engkau habiskan untuk mempelajari Al Qur’an, urusan duniamu Aku yang urus! Mau apa lagi?” Bantah Pak Haji.

“Coba liat orang-orang yang kelihatanya kaya itu. Pake mobil mewah, rumahnya mewah. Tanya mereka, emang hidupnya enak?” Pasti lebih enak hidup saya karena saya gak dikejar target, gak dikejar utang!

Saya 2 minggu sekali pulang ke Tegal, mancing, naik sepeda lewat sawah-sawah lewat kampung-kampung, bergaul dengan manusia-manusia yang menyapa dengan tulus.Tak seperti orang kota yang hanya menyapa kalau ada maunya!”, jelas Pak Haji.

“Biarpun saya naik sepeda, tapi batin saya jauh lebih enak daripada naik Jaguar!”

“Saya bisa menikmati angin yang asli, bukan AC. Bisa denger kodok, jangkrik, dan binatang-binatang lainnya, lebih nyaman di kuping daripada dengerin musik di dalam mobil!”

“Coba Anda pikir, buat apa kita ngoyo bekerja siang-malam?” tanyanya.

“Jangan-jangan kita muda kerja keras ngumpulin uang, sudah tua uangnya dipake ngobatin penyakit kita sendiri karena terlalu kerja keras waktu muda. Itu banyak terjadi kan?

Dan… jangan lupa, Tuhan sudah menakar rezeki kita! Jadi buat apa kita nguber rezeki sampe malam? Rezeki gak bakal ketuker!! Yang kerja siang ada bagiannya, begitu juga yang kerja malam!”

“Kalau kata peribahasa, waktu itu adalah uang. Tapi jangan diterjemahkan tiap waktu untuk cari uang!”

“Waktu itu adalah uang, artinya kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang. Uang bisa dicari lagi! Waktu lebih berharga dari uang. Makanya saya lebih memilih waktu daripada uang!”

“Waktu saya ngobrol dengan Anda ini jauh lebih berharga daripada saya bikin sate. Kalau saya cuma bikin sate, di mata Anda, saya hanya akan dikenang sebagai tukang sate.

Tapi dengan ngobrol begini semoga saya bisa dikenang bukan cuma tukang sate, mungkin saya bisa dikenang sebagai orang yang punya arti dalam hidup Anda sebagai pelanggan saya.

Kita bisa bersahabat! Waktu saya jadi berguna juga buat saya. Begitu juga buat Anda.”

“Kalau Anda merasa ngobrol dengan saya ini sia-sia, jangan lupa ya…Rezeki bukan ada di kantor Anda, tapi di langit! Coba buka Qur’an, itu kata Allah bukan kata saya. Gak mungkin kan Allah bohong?” Begitu kata Pak Haji Ramli menutup pembicaraan.

Semoga bermanfaat.