Arsip | Rumah Tangga RSS feed for this section

Antara Mertua dan Menantu

9 Mar

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua.

Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Urainab sering dikritik ibu mertua karena perbedaan sikap dan prinsip mereka dalam semua perkara.

Pertengkaran sering terjadi. Urainab dan ibu mertua selalu berselisih. Yazid, suami Urainab merasa sedih melihat hal itu. Namun, dia tidak mampu menyelesaikan persoalan antara istri dan ibunya.

Jika dia membela ibunya, bagaimana dengan istrinya. Jika dia membela istrinya, tentu akan membuat ibunya sakit hati.

Yazid hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga persoalan antara istri dan ibunya segera selesai dan mereka hidup damai bersama.

Hari pun terus berlalu, suasana panas di rumahnya tak berubah. Yazid sempat terpikir untuk membawa istrinya pindah dari rumah ibunya. Namun, dia belum memiliki tempat lain untuk ditinggali, apalagi ibunya yang beranjak tua, tak tega dia tinggalkan.

Keadaan semakin memburuk, pertengkaran terus teijadi, dan tidak ada satu pun yang mau disalahkan atas setiap pertengkaran.

Akhirnya, Urainab memutuskan untuk melakukan sesuatu demi mengakhiri pertengkaran dengan ibu mertuanya. Dia berencana akan meracuni mertuanya.

’’Kalau Ibu meninggal, tidak ada lagi yang akan mengganggu hidupku!” pikir Urainab.

Urainab lalu mengunjungi Sufyan bin Umar, seorang ahli obat di sebuah kota. Dia menceritakan masalahnya dan meminta Sufyan bin Umar untuk memberinya racun.

Aku mengerti masalahmu dan betapa kamu menderita karenanya. Aku akan membuatkan racun yang paling ampuh untukmu, asal kamu mendengarkan semua saranku,” kata Sufyan bin Umar.

Urainab mengangguk. Jauh di dalam hatinya, dia merasa berdosa karena memiliki niat yang buruk atas mertuanya. Bukankah dalam Islam telah diajarkan bahwa mertua adalah orangtua juga. Ibu mertua adalah ibunya juga. Namun, rasa sakit hati dan marah telah membakar dirinya.

’Sebelum racun ini diberikan, selama satu bulan menurutlah pada apa yang diperintahkan dan diinginkan oleh ibu mertuamu,” saran Sufyan bin Umar.

Urainab mengangguk setuju.

Urainab lalu pulang dengan lega. Racun yang diberikan Sufyan bin Umar disimpannya dalam dompet.

Hari demi hari berlalu, Urainab menuruti apa yang diperintahkan ibu mertuanya. Dia membersihkan rumah, memasak, menyapu halaman, mendengarkan ibu mertua ketika sedang berbicara dan melakukan banyak perbuatan baik padanya. Dia tidak lagi berdebat dan melayani ibu mertua bagai ibu kandungnya sendiri.

Awalnya, hati Urainab berontak. Namun, dia teringat pesan Sufyan untuk menuruti semua keinginan dan perintah ibu mertua selama satu bulan. Sesudah itu, ibu mertuanya akan dia racun hingga mati. Hari demi hari berlalu, tidak ada lagi pertengkaran di rumah itu.

Yazid sangat bahagia melihat perubahan sikap istri dan ibunya. Istrinya tidak lagi mendebat dan lambat laun ibunya tak bersikap keras lagi.

Suasana rumah menjadi hangat dan nyaman. Urainab merasa senang dan nyaman. Ia dan ibu mertuanya menjadi sepasang sahabat baik.

Satu bulan tiba. Sudah waktunya Urainab meracuni ibu mertuanya. Urainab membuka dompetnya, tiba-tiba dia menangis hebat. Hatinya terasa sakit. Kali ini bukan karena perlakuan ibu mertuanya, melainkan karena niat buruknya.

Kini, dia mengerti kalau ibu mertuanya melakukan semua itu karena ingin mengajarinya menjadi istri yang baik bagi suaminya.

Satu bulan telah mengajarkan banyak hal pada Urainab. Sekarang Urainab bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasak, dan melayani suami dengan baik.

Sayup terdengar di ruang tengah, ibu mertuanya sedang berbincang dengan tamu.

Aku sungguh beruntung memiliki menantu seperti Urainab. Dia adalah menantu terbaik yang kumiliki. Dia sangat patuh, rajin, dan salihah,” ujar ibu mertuanya dengan bangga.

Dada Urainab semakin sesak, ’Ya Allah, maafkan semua salah dan niat burukku.

“Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. “
(HR Tirmidzi dan Ahmad)

Iklan

Kisah Istri yang Minta Cerai

27 Feb

Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan ustadz Nasrullah.

+ Pak Nas, saya sudah ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja.

-: Emangnya kenapa bu?

+ Ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.

-: Oh gitu, cuma itu aja?

+ Sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.

-: Oooh… iya… mau tahu pandangan saya ga bu?

+ Boleh pak Nas.

-: Gini… ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik…

Nah… itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apa pun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas.

+ Mmm… trus apa hubungannya sama suami saya?

-: Ya… ibu berharap banget suami ibu jalankan fungsi yang sekunder, bahkan tersier barangkali. Tapi fungsi primernya ga dipakai.

+ Saya ga berharap lebih koq pak Nas. Saya cuma pengen dia nafkahi keluarga dengan baik. Saya cuma pengen dia jadi pemimpin yang baik.

-: lya… itu mah cuma fungsi sampingan dari suami. Sayang atuh suami cuma diharapkan jadi begitu aja. Fungsi primernya yang paling utama malah ga ibu harapkan dan kejar.

+ Mmm… Emang apa fungsi primernya seorang suami?

-: Fungsi primer suami ibu itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa-dosa ibu di neraka.

Saat ibu dapat ridho dari suami, maka… semua dosa-dosa ibu langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami ibu.

Jadi, seorang suami duduk diem aja, itu sangat manfaat untuk ibu, tinggal ibu aja gunakan fungsinya dgn maksimal.

Lakukan apa pun yang terbaik yang ibu bisa lakukan untuk dapatkan ridho suami.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan :

Yang artinya : “Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga”

Selebihnya, itu cuma fungsi-fungsi sekunder dari suami. Kejar dulu yang utama ini.

Suami ga kerja ya ga apa-apa… yang penting sudah jadi suami ibu. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi neraka.

Kalau cerai, nanti ibu langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa-dosa ibu ga ada yang menghapusnya, kecuali amalan ibu sangat spesial dan udah ga ada dosa sama sekali.

Ibu tinggal cari ridhonya suami. Kalau mmg ibu yang cari nafkah ya gapapa. Semua harta yg ibu berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim.

+ Koq bisa lebih mulia dari anak yatim?

-: Ya krn anak yatim ini bukan bagian dari hidup ibu. Memberikannya adalah sedekah yg hukumnya sunnah. Sementara suami, sdh terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari ibu.

Silakan dibagi sedekah untuk orang lain dengan sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yang lebih utama.

+ Tapi… kalau suami zalim bgm? Bahkan KDRT ke keluarga?

-: Ya gapapa juga… tetap pertahankan. Krn semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat KDRT yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya.

Sementara… Ibu fokus aja terus cari ridhonya suami.

Pernah dengar? Istrinya Fir’aun masuk syurga? Apa kurangnya coba Fir’aun melakukan KDRT? Bukan hanya ke sang istri, Fir’aun bahkan tega membunuh bayi-bayi.

Ke istrinya Asiyah, Fir’aun menyiksanya dan bahkan membunuhnya. Doa terakhir Asiyah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.

Dia tidak meminta Fir’aun diadzab. Dia hanya meminta imbalan atas kesabarannya, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim” (QS. 66:11)

+ Ya Allah… pak Nas… teima kasih atas diskusinya. Lalu apa yang harus saya lakukan?

-: lbu mau ikuti games dari saya?

+ Apa itu Pak Nas?

-: Lakukan ini selama 7 hari saja… setiap malam, tanyakan ke suami, “Abang, berapa persen ridhonya abang sama aku hari ini?”

Kalau dia jawab 95%… jangan tidur. Lakukan apapun untuk membuatnya menjawab sampai 100%. Mungkin dipijitin, mungkin dibuatkan makanan, teh, hidangkan buah, apapun… sampai dia mau jawab 100%. Baru setelah dia jawab “iya, aku ridho sama kamu 100%” nah silakan tidur.

Lakukan selama 7 hari dan rasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang akan ibu dapatkan.

+ Siap pak Nas.

-: Semoga Allah muliakan ibu dan suami.

+ Aaaamiin ya Rabb… terima kasih pak Nas…

BARU 5 HARI BERLALU

+ Pak Nas…. ya Allah… teeima kasih banyak… saya ga tahu mau ngomong apa sama pak Nas… teeima.kasih sudah mengubah hidup saya… hanya Allah yang bisa memuliakan pak Nas dan keluarga.

-: Alhamdulillah… gimana, gamesnya dijalankan?

+ Iya pak Nas… dan saya rasakan saya lebih bahagia sekarang. Ini suami juga sudah mulai inisiatif cari kerjaan… walaupun belum dapat, saya sudah cukup bahagia pak Nas, dia mau bantuin saya nganter ke mana2…. ya Allah… enak banget pak Nas.

-: Alhamdulillah…

+ Saya mau terusin gamesnya, ga 7 hari… mau selama-lamanya boleh pak Nas?

-: Buoleh banget… lakukan sampai salah satu dari ibu atau suami, dijemput malaikat dengan husnul khotimah.

+ Huhuhu… makasiiiiih pak Naas…

-: Sama-sama.

Semoga bermanfaat.

Dua Orang Baik, tapi Mengapa Perkawinannya Tidak Bahagia?

2 Jan

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah karena lambung ayah kurang baik. Setelah itu, masih harus memasak nasi untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Setiap sore, ibu selalu menyikat panci supaya tidak ada noda sedikitpun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan rumah agar tidak berdebu.

Ibu adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yang baik. Tidak hanya sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya waktu untuk mengantar kami ke sekolah. Ia seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran.

Ayah adalah seorang laki-laki yang baik di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibu, ia bukan pasangan yang baik. Kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam-diam.

Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka. Seharusnya mereka layak mendapat perkawinan yang baik. Saya bertanya pada diri sendiri, *”Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?”

Setelah dewasa, akhirnya saya memasuki perkawinan dan perlahan-lahan saya mengetahui jawaban itu…
Baca lebih lanjut

“Aku Akan Menggendongmu Sampai Maut Memisahkan Kita!”

24 Okt

Pada hari pernikahanku, aku menggendong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan apartemen kami. Teman-teman memaksaku menggendong istriku saat keluar dari mobil. Lalu aku menggendongnya ke dalam rumah kami. Dia tersipu malu-malu. Saat itu, aku adalah seorang pengantin pria yang kuat dan bahagia. Dan ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu saat kami menikah.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Kami memiliki seorang anak, aku bekerja sebagai pengusaha dan berusaha menghasilkan uang lebih. Ketika aset-aset perusahaan meningkat, kasih sayang diantara aku dan istriku sudah mulai menurun.

Istriku seorang pegawai pemerintah. Setiap pagi kami pergi bersama dan pulang hampir di waktu yang bersamaan. Anak kami bersekolah di sekolah asrama. Kehidupan pernikahan kami terlihat sangat bahagia, namun kehidupan yang tenang sepertinya lebih mudah terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang tak terduga.

Lalu, Jane datang ke dalam kehidupanku.
Baca lebih lanjut

While You’re Sleeping…

23 Apr

sleeping-moon“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah. Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. “Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.
Baca lebih lanjut

Terima Kasih Karena Rumah Kita Masih Berantakan…

22 Feb

rumah berantakan“Aku heran sama istriku!”

Suatu hari seorang teman mengunjungi saya dan mulai menceritakan keluhan-keluhannya tentang istrinya. “Aku sudah bingung harus bagaimana?” katanya.

Sebenarnya saya tidak enak untuk membicarakan masalah pribadi seperti ini. Namun teman saya terus mengajak bicara. Tampaknya ia perlu teman bicara. “Apa masalahnya?” tanya saya.
Baca lebih lanjut

Kisah Dibalik Rasyad Foundation

8 Jan

hand to parentKisah berikut ini bisa jadi bahan renungan bagi kita sebagai orang tua. Saya tidak tahu apakah cerita ini benar atau tidak (saya sudah googling dan mencari info tentang Rasyad Foundation dan belum menemukannya). Namun, terlepas dari hal tersebut, kita masih bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Berikut adalah paparannya.

Anak kecil berusia 7 tahun ini namanya Rasyad. Ia putera tunggal seorang miliuner Kuwait. Saat ia terbaring di rumah sakit selama 23 hari opname, ia tidak ditemani ayah bundanya yang sibuk dengan pekerjaannya.
Baca lebih lanjut