Arsip | Rumah Tangga RSS feed for this section

Nasihat Perkawinan

9 Agu

family copyDalam menjalani kehidupan, pernikahan dan membina rumah tangga adalah salah satu sunnatullah dan menjadi episode di dalamnya. Sepanjang perjalanannya ada suka dan duka yang mengiringinya. Semoga nasihat singkat berikut ini bisa menjadi pengingat bagi kita yang menjalaninya.

KETIKA AKAN MENIKAH. Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita. Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

KETIKA MELAMAR. Anda bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.

KETIKA AKAD NIKAH. Anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan Allah.

KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN. Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo’akan anda, karena anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berpikir untuk bercerai karena menyia-nyiakan do’a mereka.
Baca lebih lanjut

Iklan

Sifat Perempuan yang Bikin Pria Sembunyikan Perasaannya

11 Feb

Seringkali perempuan bingung menebak isi hati dan juga perasaan pria. Ya, pria memang cenderung lebih suka menyimpan perasaan dan emosi (rasa sedih, marah, ingin menangis, bahagia dan kecewa) untuk dirinya sendiri.

Misalnya, saat mendapat berita duka kebanyakan pria justru menahan air mata, mengungkap kesedihannya dengan sebuah senyuman pahit, atau justru dengan wajah datar. Sedih? pasti, tapi semua disembunyikannya.
Baca lebih lanjut

7 Bahaya Laten yang Mengancam Pernikahan

20 Agu

Anda mungkin sudah tahu bahwa masalah keuangan, mertua yang ikut campur, atau adanya orang ketiga berpotensi menghancurkan rumah tangga. Tapi di luar hal-hal ekstrem itu, ternyata banyak hal kecil dalam pernikahan yang justru bisa lebih berbahaya.

1. Komunikasi digital

Mengirim SMS, BBM, WhatsApp, atau bahkan email, memang lebih cepat dan praktis dibanding menelepon atau bertemu langsung. Apalagi jika Anda berdua sama-sama sibuk. Namun penelitian yang dilakukan Oxford University menemukan bahwa semakin sering pasangan berkomunikasi secara digital, semakin mereka tak puas dengan pernikahannya.
Baca lebih lanjut

4 Cara Membangunkan Anak di Pagi Hari Tanpa Marah

10 Okt

Punya anak merupakan kebahagiaan dan tantangan tersendiri bagi para orangtua. Apalagi, jika anak Anda sudah sekolah. Tantangan bertambah satu, yakni membangunkan mereka di pagi hari untuk berangkat ke sekolah.

Kalau setiap hari Anda harus marah-marah kepada mereka, tentunya akan menguras emosi.

“Bila setiap pagi harus dimulai dengan emosi tinggi, bisa jadi Anda akan kehilangan energi untuk menjalani sisa hari,” kata Helene Emsellem, penulis buku Snooze… or Lose! 10 “No-War” Ways to Improve Your Teen’s Sleep Habits.

Sebelum Anda bertindak lebih jauh, Emsellem, yang juga direktur medis Center for Sleep & Wake Disorders di Chevy Chase, mengajak Anda terlebih dulu memahami mengapa anak-anak sulit bangun pagi.

Menurutnya, anak-anak, terutama remaja, butuh tidur sekitar 9 jam sehari dan secara biologis baru akan tertidur pada sekitar pukul 23.00. Namun, Anda sendiri tahu bahwa jam sekolah dimulai jauh sebelum waktu istirahat mereka selesai. Itu sebabnya, sulit untuk meminta mereka segera membuka mata, kemudian mandi dan bersiap ke sekolah.

“Sulit bangun pagi pada anak remaja itu bukanlah masalah kebiasaan, melainkan masalah biologis,” kata Emsellem memberi kesimpulan.

Lantas, apa “obat” supaya Anda tidak perlu berteriak-teriak setiap pagi? Pertama-tama, Emsellem menganjurkan Anda untuk bicara dengan anak. Katakan bahwa Anda ingin dia belajar bangun pagi sendiri tanpa harus disertai omelan dari orangtua.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh agar hal ini terlaksana:

1. Berikan tanggung jawab.

“Mintalah anak lebih bertanggung jawab terhadap pola tidur mereka. Artinya, mereka harus belajar untuk bangun tanpa bantuan orang lain,” kata Emsellem. Selain itu, buatlah batasannya. Misalnya, Anda akan membangunkannya satu kali saja.

“Jika Anda masuk ke kamarnya empat kali di setiap pagi, mereka tidak akan merasa punya tanggung jawab untuk bangun pagi karena merasa Anda akan terus melakukannya,” kata Emsellem.

2. Ajarkan mereka bagaimana caranya.

Minta mereka untuk mencatat setiap hari, pukul berapa mereka tidur dan kapan mereka bangun. Lakukan ini selama beberapa minggu. Perhatikan sejauh mana perubahan pada pola tidur dapat membantu mereka bangun lebih pagi. Misalnya, Anda dapat memintanya menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum pukul 19.00, dan tidur lebih awal daripada biasanya.

3. Waspadai akhir minggu.

Kebanyakan anak dan remaja ingin menunda waktu tidurnya di akhir minggu, karena merasa esok harinya mereka bisa bangun lebih siang.

Menurut William Kohler, direktur medis dari Florida Sleep Institute, Spring Hill, Florida, boleh-boleh saja sebenarnya jika mereka mau tidur lebih lama di akhir minggu. “Namun, beri kelonggaran waktu bangun hanya sekitar 1-2 jam lebih siang daripada hari sekolah. Yang pasti, jangan biarkan mereka bangun setelah pukul 10.00,” kata Kohler. Hal ini dapat mencegah gangguan pada pola tidur mereka.

4. Jauhkan komputer dan TV dari kamar mereka.

Selain itu, jangan biarkan mereka berinteraksi dengan dua alat elektronik ini beberapa saat sebelum tidur, sebab ini justru dapat membuat mereka jadi sulit tidur. Sementara itu, pastikan kamar tidur anak memiliki jendela yang menghadap keluar, sehingga sinar matahari di luar dapat membantu mereka bangun setiap pagi.

Sumber: Kompas.com from USA Today

4 Makanan Terbaik Bagi Calon Pengantin Jelang Pernikahan

7 Okt

Menjelang masa pernikahan, kondisi fisik menjadi hal yang banyak diabaikan calon pengantin. Alhasil, pada saat hari H tiba, tak jarang tubuh menjadi drop.

Oleh karena itu, sebelum stamina menurun ketika hajatan penting dihelat, Shape memaparkannya untuk Anda daftar makanan yang dapat dikonsumsi dan bermanfaat untuk membangkitkan tenaga. Berikut adalah 4 makanan yang bermanfaat itu.

1. Oatmeal

“Salah satu bagian penting untuk mendapatkan perasaan terbaik di hari pernikahan Anda adalah mengonsumsi makanan yang tepat sehingga emosional tetap stabil,” kata Keren Gilbert RD selaku Founder of Decision Nutrition.

Tujuannya adalah untuk membakar kalori tubuh dan memungkinkan tingkat gula darah naik secara perlahan-lahan untuk jangka waktu yang panjang, serta turun secara perlahan-lahan pula. Sebuah cara terbaik untuk melakukannya adalah mengawali hari dengan semangkuk oatmeal.

“Makanan ini mengandung serat yang mudah larut, sehingga dapat memperlambat penyerapan glukosa di perut Anda dan menjaga gula darah tetap stabil,” tambahnya.

2. Kerang

Untuk membangkitkan gairah seks Anda, kerang menjadi camilan terbaik yang dapat dikonsumsi. Makanan ini dapat bekerja sebagai zat penambah libido yang dapat membantu produksi testosteron lebih tinggi, sehingga peningkatan gairah pun akan terpompa dengan sendirinya.

3. Salad

“Hari bahagia akan membuat tubuh letih tak terkira. Tak jarang, mata dan kaki terasa kaku dan bengkak. Untuk menyiasatinya, cobalah irisan mentium dan peterseli serta 1 ¼ cangkir jus lemon untuk meredakannya,” kata Jackie Keller, ahli gizi para selebriti yang berbasis di LA.

4. Buah dan sayur

Jika tak memiliki cairan yang cukup, maka tubuh pun akan lesu. Buah dan sayur-sayuran dapat menjadi sumber alami yang dapat memberikan pasokan cairan sampai dengan 95 persen. Anda dapat mengonsumsi melon, papaya, dan mangga yang mengandung potasium sehingga dapat membantu mengatur keseimbangan tubuh.

Sumber: okezone.com (shape)

3 Penyebab Balita Kurang Mandiri

28 Sep

Sebagai orang tua, sudah sepantasnya kita mengajarkan anak untuk bisa mandiri. Namun, pada usia berapa mereka sudah mulai bisa diajarkan?

Waktu yang tepat untuk mengajari anak mandiri adalah ketika usia 2-3 tahun. Inilah waktunya si anak senang melakukan berbagai hal sendiri,” kata Alzena Masykouri, MPsi.

Dengan melatih kebutuhan anak untuk mandiri sejak dini, dan membantu anak untuk menunjukkan kemampuannya, bahwa ia mampu makan sendiri, pakai baju sendiri, maka ketika anak memasuki usia prasekolah, ia makin terlatih mandiri.

Bila di usia prasekolah (3-5 tahun), anak masih kurang mandiri, biasanya disebabkan tiga hal berikut.

1. Kurang mendapat kesempatan

Orang-orang di lingkungan sekitar, termasuk orangtua, kakek atau nenek, bahkan pekerja rumah tangga, kurang mengakomodasi atau memberikan kesempatan pada anak untuk berlatih mandiri.

Kalau anak tidak atau hanya sedikit diberikan kesempatan, jangan harap ia akan paham akan sesuatu yang harus ia lakukan untuk dirinya. Jadi, bila di usia dini anak tak mendapat kesempatan untuk mandiri, maka di usia selanjutnya ia pun tidak atau kurang mandiri.

2. Dianggap “lama”

Orangtua sering tak sabar akan proses kemandirian pada anak. Sebenarnya anak sudah bisa pakai baju sendiri, makan sendiri, pakai sepatu sendiri, tapi melakukannya butuh waktu.

Nah dengan alasan supaya cepat, orangtua atau pengasuh lah yang kemudian menggantikan peran anak dalam melakukan semua hal tadi. Dengan alasan supaya cepat inilah, tanpa disadari orangtua “memandulkan” kemandirian anak.

3. Dilayani pengasuh atau orangtua

Ada anak yang selama 24 jam selalu dilayani, baik oleh pengasuhnya maupun ibunya sendiri. Kebiasaan ini membuat anak tak mandiri. Ia selalu memanggil pengasuhnya untuk memenuhi semua kebutuhannya.

Dalam hal ini pengasuh anak tak bisa disalahkan, karena bagaimana pun ia adalah perpanjangan tangan orangtua, terutama orangtua bekerja. Pengasuh bertindak seperti ini karena diberi tugas oleh orangtua si anak.

Bagi ibu rumah tangga, karena merasa seharian di rumah, umumnya para ibu ini beralasan “Buat apa saya ada di rumah kalau tidak mengurus anak?” Akhirnya semua kebutuhan anak diladeni. Di sisi lain, ibu tak sabar, maka agar semua pekerjaan bisa beres, segala kebutuhan anak dipenuhi dengan campur tangannya.

Anak usia ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kalaupun bersekolah, ia hanya sekolah tiga jam. Selebihnya, anak belajar dari pengasuhan orangtuanya. Kalau pun anak diajarkan kemandirian di sekolah, ke toilet sendiri dan lain sebagainya, namun kebiasaan di rumah sangat menentukan kemandirian anak.

Hilman Hilmansyah/Nakita

7 Kalimat yang Tak Boleh Didengar Anak

28 Sep

Berbagai masalah dalam hidup, baik masalah rumah tangga, pekerjaan, sampai kenakalan anak, tak jarang membuat Anda lepas kontrol dan marah.

Bahkan tak jarang, anak-anak menjadi sasaran kemarahan Anda, entah melalui sikap ataupun kata-kata kasar yang keluar dari mulut Anda. Hati-hati bila Anda sering kelepasan bicara kasar.

“Kata-kata bisa menjadi sumber inspirasi, tapi juga bisa melukai perasaan,” ungkap Chick Moorman, penulis buku Parent Talk dan Spirit Whisperers.

Meskipun anak Anda menimbulkan banyak masalah, namun sebagai orangtua tak sepatutnya Anda melontarkan kata-kata yang menyakitkan bagi anak. Karena efek dari ucapan yang kasar tersebut seringkali lebih merugikan daripada yang Anda bayangkan. Contohnya seperti ini.

1. “Kalau nakal, Ibu akan meninggalkanmu di sini.” Anda mengancam dan menakuti anak-anak dengan harapan agar mereka patuh pada perintah Anda. Perlu Anda ketahui, ketakutan terbesar anak-anak kecil adalah tersesat sendirian, dan merasa tidak aman. Oleh karena itu, tindakan Anda meninggalkannya sendirian akan menimbulkan trauma bagi dirinya.

Alih-alih mengancam dan menakuti anak, lebih baik katakan keinginan Anda dengan baik. Misalnya ketika anak merengek minta mainan, katakan saja padanya, “Arka, kalau kamu terus merengek seperti itu, kita akan pulang sekarang. Tapi kalau kamu tidak nakal, kita akan tetap di toko ini dan memilih belanjaan bersama.”

Alternatif lainnya adalah dengan beristirahat sejenak. Kenakalan anak dan kemarahan Anda mungkin saja merupakan tanda bahwa Anda atau anak butuh istirahat.

2. “Kamu seharusnya malu.” Banyak orangtua yang beranggapan bahwa dengan mengungkapkan hal tersebut anak akan malu dan akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang mereka inginkan. Tetapi, anak kecil belum dapat memahami rasa malu yang terjadi akibat kesalahan yang diperbuatnya. Karena itu, hal ini belum tentu langsung berhasil. Jika terlalu sering mengatakan hal ini, mereka hanya akan berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukannya selalu salah.

3. “Seandainya kamu tidak pernah ada.” Kalimat ini punya makna: “Ayah dan ibu tidak pernah menginginkanmu.” Karenanya, kalimat ini tidak sepantasnya diucapkan oleh orangtua. Kalimat ini akan sangat menyakitkan bagi si anak, maupun orang lain yang mendengarnya.

Terlepas dari kenakalan yang telah dilakukan anak, ia hadir karena kehendak Anda dan suami. Maka, bersikaplah sebagai orangtua yang bertanggungjawab dengan mengasuh dan mendidik anak dengan baik, bukannya menyalahkannya karena lahir di dunia.

4. “Kamu yang membuat Ibu bercerai.” Tidak ada anak yang menjadi penyebab orangtuanya bercerai. Ketika kalimat ini diucapkan, maka secara tak langsung Anda membuat anak-anak menanggung beban emosional seumur hidupnya.

Bahkan ketika Anda menjelaskan dengan penuh kehati-hatian tentang perceraian, anak-anak akan merasa sangat bertanggung jawab atas keputusan Anda untuk bercerai. Anak akan beranggapan bahwa jika dia bersikap lebih baik, maka Anda tidak akan bercerai. Meski tak terucapkan oleh anak, masalah ini sering jadi masalah yang serius.

5. “Kenapa kamu tidak seperti saudaramu yang lain?” Dengan mengatakan hal ini maka secara tidak langsung Anda membandingkan anak-anak dengan saudaranya yang lain, bahwa anak tidak cukup pintar, cukup baik, ataupun cepat belajar dibanding saudaranya. Pembandingan ini juga akan meningkatkan persaingan antarsaudara meningkat, yang kelak akan merusak hubungan persaudaraan dan mengembangkan keterpisahan.

Terima setiap anak dalam keluarga Anda, karena mereka memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri. Bantu anak untuk melihat keistimewaan mereka dengan berfokus pada masing-masing individu tanpa menggunakan perbandingan.

6. “Biar Ibu yang menyelesaikan.”
Mungkin, maksud hati ingin membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit dikerjakan. Namun, jika Anda terlalu sering melakukan hal ini, maka Anda telah mengambil alih pekerjaan anak yang seharusnya bisa dikerjakannya sendiri. Hal ini justru malah akan melemahkannya.

Mengambil alih pekerjaan anak mungkin bisa menghemat waktu Anda di masa sekarang, tetapi Anda meninggalkan beban di masa depan karena anak jadi tak terbiasa mandiri.

7. “Ibu bilang begitu, ikuti saja.” Kalimat ini memang terdengar seperti perintah keras bagi anak. Namun, arti yang terdalam dari kalimat ini adalah, “Saya orang dewasa, dan kamu anak-anak”, atau “Saya pintar, dan kamu bodoh”, atau “Saya berkuasa, dan kamu tidak”, atau “Saya yang mengatur, dan kamu yang harus mengerjakan”. Penegasan ini akan menciptakan jurang yang lebar antara Anda dan anak.

Gaya bicara seperti ini menimbulkan rasa kesal pada anak, bahkan mungkin rasa benci dan persaingan untuk berebut kekuasaan dalam rumah. Cobalah untuk menggunakan bahasa yang lebih baik untuk mengungkapkan ketidaksetujuan anak, sehingga mereka lebih menghormati dan mengerti apa yang Anda rasakan.

Sumber: parenting bookmark