Arsip | Uncategorized RSS feed for this section

Aku Mencintaimu Karena Kamu Cerewet

8 Mar

“Ibu, Bapak,” begitu aku memulai pertanyaan di seminar parenting lalu, “Siapa yang di sini baru punya anak satu?”

Hampir semuanya mengancungkan jari.

“Punya anak dua?”

Masih banyak yang ngacung.

“Anak tiga?”

Wuih, masih banyak aja.

“Anak empat?”

Beberapa sudah turun tangan, tapi masih banyak emak-emak yang ngacung. Sambil nyengir lagi.

“Oke, anak enam?”

Yang tadi nyengir mulai ketawa. Tapi tetap ngacung. Subur bener.

“Oke, anak delapan?”

Semua tangan sudah turun. Kecuali satu di pojokan sana. Ternyata bapak-bapak.

“Anak Sembilan?”

Sudah tidak ada yang ngancung.

“Oke, deal ya? Bapak yang anaknya delapan tadi boleh maju? Saya mau kasih hadiah buku buat Bapak.”

Bapak itu berdiri. Menggendong anak usia tiga tahunan. Cewek. Lantas berjalan ke arahku.

“Bapak bener anaknya delapan?”

Beliau mengangguk.

“MasyaAllah. Dari satu istri saja kah, Pak?”

Yang lain pada ketawa.

“Iya dari satu istri,” katanya.

“Yakin? Bohong dosa loh, Pak.”

Eh, si bapak ketawa. “Iya, gak bohong.”

Tapi kan aku belum kenal si bapak. Butuh dibuktikan dong, kalau anaknya benar-benar delapan. Jadi aku tanya-tanyalah beliau.

“Pak, anak nomor lima namanya siapa?”

Si Bapak langsung mikir. Nampak jari-jarinya berhitung. Susah bener beliau mengingat nama anaknya.

“Abdullah Fatih,” jawabnya semenit kemudian.

“Yakin?”

Wajah si Bapak kelihatan ragu,

“Bentar,” beliau menghitung-hitung lagi. Dan itu bikin emak-emak gemes.

Ini nih akibat cuma iuran, tapi gak ikut ngerawat. Begitu mungkin batin emak-emak. Hehehe.

“Iya, bener, Tadz. Abdullah Fatih, namanya.”

“Oke,” tapi aku harus tes lagi, “Ukuran sepatunya ananda Abdullah Fatih berapa, Pak?”

Kelimpungan lagi tuh si Bapak.

Beliau garuk-garuk kepala. Waduh, ngerti gitu gak usah ngaku punya anak banyak. Gitu paling ucap hatinya. Cuma buat dapet buku gratis doang ribet bener.

Si bapak nyengir, “Gak tahu. Yang beliin sepatu Uminya.”

Emak-emak langsung nyinyir, “Tuh, kan.”

Maksudnya, ‘Tuh kan iuran doang.’

“MasyaAllah,” aku tersenyum. Menyerahkan buku Cinta yang Tersambung hingga ke Langit buat beliau.

“Titip salam buat istri, ya, Pak. Dia pasti wanita sabar. Sabar menghadapi tingkah suami. Hehehe.”

Si bapak tertawa. Mengangguk. Balik kanan. Kembali ke kursi.

Setelah itu aku sampaikan kepada semua peserta seminar, bahwa tak mudah menjadi orang tua dari delapan anak. Sebab ibuku juga punya delapan anak. Dan aku melihat sendiri bagaimana lelahnya ibu mengurus anak-anaknya.

Jangankan delapan, aku sama istri yang anaknya baru dua aja, rasanya pingin sholat taubat kalau lihat bocah-bocah sudah mulai rewel dan gak jelas maunya apa. Tapi insyaAllah, jika dilewati dengan sabar, dibekali ilmu agama yang mumpuni, anak-anak itu akan menjadi penyelamat kita di hari kiamat nanti.

Lantas, aku kembali bertanya,

“Bu, Pak. Kira-kira anak mana yang bikin ibu dan bapak sering istighfar lihat kelakuannya? Yang paling sulit diatur. Yang mana, Bu?”

Mereka pun menjawab, “Yang keduaaaa…”

Sisi kiri jawab, “Iya, nomor duaaa!”

Barisan tengah diem. Gak mau jawab. Rupanya itu barisan murid-murid SMA yang jadi panitia acara. Jelas mereka belum punya anak.

“Anak yang mana?”

“Nomor duaaa!!!”

“Nomor dua?”

Mereka mengangguk.

Sejurus kemudian aku berkata, “Kok beda ya jawaban orang Surabaya sama di Bekasi ini. Soalnya orang-orang Surabaya bilang anak yang paling sulit diatur itu bukan anak nomor dua, tapi ANAKNYA MERTUA.”

Dan meledaklah tawa emak-emak. “Iya bener! Bener! Anaknya mertuaku pun gak bisa diatur. MasyaAllah.”

Aku lihat sisi bapak-bapak, “Gimana, Pak?”

Dijawab, “Bener, Tadz. Anaknya mertuaku juga sama. Bikin sering wudhu saking panasnya kepala lihat cerewetnya dia.”

Setelah sekian lama, akhirnya mereka bersepakat juga. Bahwa, anak yang paling susah diatur adalah anaknya mertua. Fix.

***

Memang benar, dalam berkeluarga yang paling susah diatur itu ya anaknya mertua. Bukan anak kandung. Dan inilah tantangannya memang. Sebab bila anak mertua beres, maka anak kandung pasti ikut beres.

Cobalah tengok keluarga Nabi Ibrahim. Ketika Bunda Hajar dan Bunda Sarah beres didikannya, lahirlah anak-anak sholih macam Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.

Atau keluarga Nabi Muhammad. Bunda Khadijah-nya beres, maka hadirlah dari rahimnya seorang putri nan cantik jasmani rohaninya; Fatimah Azzahrah.

Tapi bila anak mertuanya tak beres, anak kandung juga tak beres. Maaf, Nabi Nuh dan Nabi Luth contohnya.

Bahkan seorang Nabi pun tak bisa menyelamatkan anak kandungnya dari kemurkaan Allah, tersebab pasangannya tak beres.

Itulah mengapa di Al-Quran surat Al-Furqan ayat 74, diajarkan siapa dulu yang harus didoakan dalam keluarga,

“… Duhai Tuhan kami, anugerahkanlah pada kami PASANGAN dan ANAK-ANAK kami sebagai penyejuk mata kami. Dan jadikan kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.”

Simak baik-baik. Ustadz Adi Hidayat mengatakan bahwa Al-Quran itu sistematis. Termasuk tentang penyebutan perintah. Dalam Al-Quran disebutkan ‘dirikanlah sholat dan tunaikan zakat’. Artinya sebelum berzakat, sholatnya benerin dulu.

Sama seperti surat Al-Furqan ayat 74, ayat yang selalu menjadi doa ‘wajib’ setiap habis sholat ini. Yang pertama kali harus disebut dalam doa itu siapa?

Right, PASANGAN dulu. Baru anak-anak.

Karena kalau pasangan beres, anak pasti beres. Yakin. Sebab mereka adalah peniru terbaik di alam semesta ini. Mereka akan cepat meniru perilaku orang tua di rumah.

Lebih lanjut, di ayat yang sama sebenarnya Allah berpesan agar kita jadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.

Catat, jadi pemimpin. Bukan jadi orang-orang biasa saja.

Inilah visi kedua dalam berumah tangga versi Al-Quran; ‘VISI 25.74.’ Surat kedua puluh lima, ayat ke tujuh puluh empat.

Hanya saja step by step-nya harus dilalui; BERESIN DULU PASANGAN — ANAK — BARU JADI PEMIMPIN.

Maka, jika kita ingin punya pemimpin yang baik, hayuk berjuang bersama di ranah keluarga ini. Tanamkan baik-baik pendidikan Tauhid di keluarga. Sebab musykil rasanya keluarga pecinta Al-Quran akan memilih pemimpin yang menistakan Al-Quran. Begitu pula sebaliknya.

“Tapi susah banget, Fit, ngurus istri. Cerewetnya itu loh. Pingin aku kasih rem cakram, dah.” Mungkin ada pak suami yang bilang seperti itu.

Iya, aku paham. Tapi istri juga mengaku sama, “Susah banget ngatur bocah kumisan itu. Ya Allah kudu sering istighfar pokoknya kalau lihat kelakuan dia. Pingin aku bawa dia ke Kyai buat diruqyah.”

Karena laki-laki dan perempuan memang BEDA. Dari sononya udah beda memang.

Aku boleh cerita dikit, ya? Eh, gak dikit, ding. Agak panjang dikit. Eh, maksudnya panjang banget. Jadi kalau memang mau nyeduh teh hangat dulu silakan. Sekalian bikin dua, buat aku yang nulis biar gak ngantuk. Jangan lupa cemilannya juga. Tambah mie goreng Aceh juga gak apa, buat aku.

Aku tunggu lima menit, ya… bentar aku juga mau ambil minum dulu.

Lima menit kemudian…

Sruput…

Oke, aku lanjutkan. Sampai mana tadi? Oh, iya. Sampai nambah mie goreng Aceh. Eh, maksudku sampai bahwa laki-laki dan perempuan emang beda. Dari sononya.

Begini, berdasarkan riset pakar neurologi ditemukan fakta, bahwa manusia memiliki otak tengah atau bahasa gaulnya Corpus Callosum.

Perlu diketahui, jika diibaratkan secara sederhana, Corpus Callosum ini adalah jembatan yang menghubungkan ‘kendaraan-kendaraan’ yang melintas dari otak kiri menuju otak kanan. Atau sebaliknya, dari otak kanan ke otak kiri. Nah, kendaraan itu adalah informasi.

Setelah diteliti, Corpus Callosum perempuan ternyata lebih tebal 30 persen dari laki-laki. Itulah sebabnya perempuan bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Mau bukti?

Lihat saja emak-emak di rumah. Dalam satu waktu dia bisa menyuci piring sambil masak. Nyuapin anak makan sambil lipat-lipat baju. Tangan balesin WA di grup, kaki ngepel lantai sekaligus.

Jadi jangan heran emak-emak bisa lakukan itu. Otak tengahnya tebel!

Bandingkan dengan laki-laki. Kalau sudah mengerjakan sesuatu selama 10 menit. Otomatis daya pendengarannya jadi turun drastis. Pikirannya gak bisa dipecah. Bahkan butuh sampai tiga kali dipanggil baru noleh tuh kepala suami.

Itulah yang menyebabkan sering ada cekcok dalam rumah tangga. Istri menganggap suami gak peka. Gak perhatian. Sedangkan suami sendiri bingung kenapa setiap istri manggil dia, pasti wajahnya bak monster. Padahal aslinya, si bapak noleh itu udah panggilan ketiga.

Saat suami baca koran, istri manggil, “Papa ganteng,” manggil dengan tersenyum penuh cinta. Mirip orang yang baru dijanjikan beli gorengan di Mekkah.

Tapi suami gak noleh. Masih fokus baca koran.

“Papa sayang,” masih senyum, tapi mulai kecut.

Akhirnya hilang sudah kesabaran emak-emak berdaster. Tak lama kemudian ia berubah wujud menjadi asli seasli-aslinya. Gigi taring seketika nambah tiga centi.

“PAPAAAH!!!”

Sang suami menoleh, menatap wajah istri sambil refleks baca ayat kursi.

***

Karena otak tengah laki-laki lebih tipis 30 persen dari perempuan itulah juga yang membuat suami gak bisa dimintai tolong beli barang lebih dari satu.

“Abi, popoknya adek habis, nih,” begitu ucap istri, “Tolong belikan popok di toko kampung sebelah, ya.”

Sang suami pun mengangguk. “Oke sayangku. Apa sih yang enggak buat kamu?”

Wajah istri bersemu merah muda, “Gombal.”

“Tapi seneng kan digombalin? Pake pel-pelan.”

Wajah istri yang tadi warna merah muda langsung jadi merah tembaga. “Berangkat!”

Dan berangkatlah si suami. Hanya saja ketika ia baru akan keluar pagar, si istri teringat sesuatu,

“Abi, aku juga titip beli rinso ya. Buat cuci baju. Sekalian susu coklat deh, pingin banget yang seger-seger. Sama kacang kulit gapapa.”

Suami mengangguk ragu. Dia baru mau jalan. Eh, dipanggil lagi.

“Abi, titip beliin kerupuk juga, ya. Dua ribu aja. Buat makan malam.”

Si Suami berucap lemah, “Oke.”

Setelah lima belas menit kemudian suami pulang. Istri membukakan pintu, sambil tersenyum. Tapi saat tahu apa yang dibawa suaminya, senyum si istri berubah jadi seringai serigala lapar.

“Kok Abi bawa kerupuk doang, siiiiiih?!!! Allahu Akbar. Ya Allah ampuni hamba. Ampuni dosa suami hamba. Berilah kami petunjuk-Mu…”

Si suami malah menimpali polos, “Aamiin.”

Padahal awalnya tadi kan titip popok si kecil. Endingnya malah dibawain kerupuk doang. Apes, dah.

***

Perbedaan lain antara laki-laki dengan perempuan terletak pada ‘Otak Bicara’. Diketahui bahwa fungsi otak bicara laki-laki yang aktif adalah sebelah kiri saja. Sedangkan perempuan otak kiri ditambah otak kanan depan. Maka jangan heran bila perempuan lebih bawel dari laki-laki.

Berdasar riset, laki-laki normal punya potensi bicara 5000 kata per hari. Sedangkan laki-laki yang suka bicara paling mentok 9000 kata per hari. Sedangkan emak-emak, punya potensi memuntahkan 20.000 kata per hari. Ngeri! Dan 20.000 kata itu harus dikeluarkan, agar dia gak kena kram otak dan berakibat stroke.

Jadi, bagi perempuan CEREWET itu FITRAH. Sedangkan bagi laki-laki itu KUTUKAN.

Ya sudahlah, Pak. Biarkan istrimu bawel. Jangankan bapak, Umar bin Khotob aja sering diomelin istri. Dan beliau diem aja waktu kena gitu. Siapalah diri kita dibanding khalifah Umar?

Jadi biarkan istri bawel di rumah. Meski panas kuping ini dengerin celotehnya yang itu-itu saja. Kalau gak ngobrolin sinetron Adzab Viral pasti ngobrolin Double Azab. Itu artinya istri Anda masih normal dan sehat. Apa Bapak mau istri sering diem tapi tiba-tiba kena stroke?

Maka setelah mengerti riset tentang otak ini, diharapkan suami istri dapat menghindarkan diri dari percekcokan karena sudah saling memahami tentang ‘fitrah’ otak lelaki dan perempuan.

Jadi diharapkan suami bisa nahan diri menghadapi cerewetnya istri. Sedangkan bagi istri, bisa terus sabar menemani buto ijo dengan segala kelakuannya.

Akhir kata, semoga yang baca tulisan ini sampai tuntas Allah berkahi keluarganya sampai ke Jannah. Dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah. Juga aku doakan semoga emak-emak segera lunas cicilan pancinya.

Indramayu, 30 Desember 2018
01.39 WIB

Fitrah Ilhami

Iklan

Taubat

25 Feb

Beberapa bulan lalu saya ketemu dengan seorang pebisnis hebat, Pak Lukman Drajat namanya.

Dulu, dia pebisnis besar, omzetnya ratusan miliar setahun. Malah menjadi salah satu pengusaha paling kaya di Riau, katanya.

5 tahun lalu bisnisnya hancur karena salah urus. Tapi Pak Lukman malah bersyukur. Dia bilang: “Karena bisnis saya hancur, jadi banyak yang berubah di diri saya. Saya merasa lebih baik, paling tidak menurut saya..

Dulu, saya shalat cuma seminggu sekali, Jumatan doang. Itupun kalo gak tabrakan dengan rapat penting. Sekarang alhamdulillah, bukan cuma shalat wajib, tiap malam saya berusaha untuk tidak meninggalkan shalat tahajud.

“Dulu, boro-boro shalat tahajud, shalat magrib aja gak ngerti kalo jumlahnya 3 rakaat.”

Pernah terjadi peristiwa sangat memalukan, saya ketinggalan shalat magrib 1 rakaat. Waktu imamnya salam, saya ikut salam.

Lalu sebelah saya mengingatkan: “Maaf Pak, Bapak kurang 1 rakaat!”

Dengan enteng saya menjawab: “Iya, nanti saya terusin di rumah!”

Duh, kalau ingat peristiwa itu, kadang saya ketawa sendiri, malu sama orang sekompleks! Kadang saya nangis, malu sama Allah!”

“Dulu saya ketemu anak-istri 2-3 hari sekali, kadang seminggu sekali, malah pernah beberapa kali ketemunya cuma sebulan sekali. Sekarang saya selalu shalat berjamaah bersama anak istri di masjid terdekat.

Saya tidak ngoyo lagi cari uang, karena saya ngerti sekarang, dunia akan saya tinggalkan pada akhirnya.”

“Dulu saya ngejar-ngejar bisnis yang lebih besar dan lebih besar lagi. Tapi setelah saya kejar, ternyata semua hanya fatamorgana. Makin dapat yang lebih besar, saya malah makin haus, haus dan haus, nggak ada ujungnya.

Sekarang saya hidup sederhana, tapi merasa, lebih tenang, lebih nyaman, tak berurusan dengan utang lagi.”

“Dulu, saya hidup bersama harta dan bisnis saya. Sekarang, saya sedang belajar hidup bersama Allah, Tuhan saya.”

Pelan-pelan saya mulai belajar Quran. Saya sering baca-baca terjemahan Al Quran. Saya cari orang seperti apa yang paling dicintai Allah menurut Al Quran?

“Waduh, ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang taqwa, padahal saya jauh dari seperti itu.”

“Lalu saya coba cari lagi orang seperti apa yang sangat dicintai Allah berikutnya. Ternyata, saya menemukan orang yang berjihad di jalan Allah. Wah, boro-boro berjihad, puasa senin-kamis aja kadang saya berat.

Saya cari lagi, ternyata ketemunya orang sabar. Ini kayak yang gampang tapi setelah saya jalani seminggu saja ternyata jadi orang sabar itu sulitnya setengah mati!

Sampai akhirnya saya ketemu bahwa Allah sangat mencintai orang-orang kaya tapi yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.”

“Lha, coba saya tahunya sebelum bangkrut! Pasti sudah saya infakkan! Sekarang ketika semuanya sudah habis, saya hanya bisa berinfak sekedarnya saja. Coba dulu waktu usaha saya sedang maju….Tapi bener juga kata orang ya, menyesal datangnya selalu belakangan.”

Pak Lukman terus mencari dan mencari sampai akhirnya dia menemukan bahwa Allah sangat mencintai orang-orang yang bertobat. Duarrr!!!

“Rasanya ini yang cocok buat saya”, bisik Pak Lukman dalam hatinya.

Dia merasa sangat banyak dosa, terutama saat dia menjalankan bisnisnya.

Tiap malam dia mengingat-ngingat siapa saja yang pernah dicuranginya saat berbisnis dulu. Siangnya dia cari orang tersebut sampai ketemu. Begitu terus setiap hari.

Dia cari nama-nama kolega bisnisnya di hp-nya satu demi satu sambil mengingat apa kesalahan dia kepada orang-orang tersebut.

Dia pikir: “Percuma saya bertaubat kalau orang-orang yang pernah saya curangi dan saya dzolimi tidak saya mintakan maafnya.”

Malamnya Pak Lukman tak pernah lupa memohon ampun, bersujud sambil terus mencari nama orang-orang yang pernah dia sakiti dan dia rugikan. Begitulah caranya dia bertaubat.

“Semoga dengan usaha saya ini, saya jadi orang yang dicintai Allah.” Begitu kata pak Lukman.

Setelah Pak Lukman bertaubat dan meminta maaf kepada teman-teman bisnisnya, dia benar-benar merasa lega.

Teman-teman bisnisnya yang dulu hampir semuanya senang didatangi Pak Lukman. Mereka semua sudah melupakan masa lalu Pak Lukman.

Ada satu teman bisnis Pak Lukman yang bisnisnya sedang melejit, Pak Rudi Wor namanya.

Ketika didatangi, dia senang luar biasa. Dan yang mengejutkan. Pak Rudi Wor malah meminta Pak Lukman kembali terjun ke bisnis.

“Pak Lukman, ingat kata nabi, sebaik-baiknya ummatku adalah orang yang berguna buat orang banyak!

Kalau kau bertaubat dan hidup di masjid terus, ibadah terus, itu namanya kau merencanakan jalan ke surga gak ngajak-ngajak teman! Ajak aku Pak! Aku rela masuk surga biarpun harus lewat pintu belakang.

Ayo kita bisnis lagi. Sebagian keuntungannya buat bangun masjid, bangun pesantren dan membantu orang-orang yang seharusnya kita bantu!

“Masih banyak saudara kita yang harus kau tolong! Anak-anak yatim yang terpaksa putus sekolah, janda-janda jompo, orang-orang duafa yang tak berdaya, semua menunggu uluran tanganmu.

Bayangkan kalau bisnismu maju! Berapa masjid yang bisa kau bangun? Berapa banyak anak yatim yang akan terselamatkan hidupnya, terselamatkan sekolahnya? Jalan ke surgamu pasti jauh lebih bagus. Allah akan ridho membangun rumah khusus buatmu di surga nanti, Pak Lukman!”

Pikiran Pak Lukman mulai goyah. “Semua yang diomongin Rudi gak ada yang salah. Aku harus berguna buat banyak orang. Kenapa aku egois, kenapa aku menjadi orang yang mengasingkan diri?”

Takdir tak bisa ditolak. Kehadiran Pak Lukman memang seperti ditunggu Pak Rudi.

Tak lama setelah Pak Lukman membangun bisnisnya atas bantuan Pak Rudi, Pak Rudi kena serangan jantung dan tak tertolong. Pak Rudi kembali ke pangkuan Allah.

“Ya Allah, Rudi…engkau seperti sengaja menungguku datang untuk menerima amanatmu. Habis itu kau pergi selamanya.

Semoga engkau menjadi teladanku. Semoga engkau masuk surga lewat pintu terbaik pilihanmu, tidak lewat pintu belakang…” Demikian bisikan Pak Lukman di ujung doanya.

Pak Lukman menggantikan Pak Rudi di perusahaannya atas surat wasiat yang ditulis Pak Rudi.

Bisnisnya semakin besar. Dan seperti amanatnya Pak Rudi sebagian dari keuntungan perusahaannya dipakai untuk membangun masjid, pesantren, membiayai anak-anak yatim, fakir miskin, dan kaum dhuafa.

“Aku baru sadar sekarang, kenapa dulu usahaku bangkrut. Kenapa bisnisku besar tapi susah terus. Rupanya ada hak fakir miskin, hak yatim dan hak orang-orang jompo tak berdaya yang aku makan!”

“Makanan tidak halal itu mengalir deras dalam tubuhku, hingga Allah tidak ridho dengan apa pun usahaku. Ini mungkin yang sering disebut orang tidak berkah.

Sepanjang perjalanan bisnisku tak ada keberkahan di dalamnya, karena banyak hak orang lain yang aku makan,” ujar Pak Lukman matanya berkaca-kaca.

Ndang Sutisna

Nikmat Rezeki Bisa Berbagi

23 Feb

Menjelang shalat Isya, seorang wartawan duduk kelelahan di halaman sebuah masjid. Perutnya berbunyi karena keroncongan. Kepalanya clingak-clinguk mencari tukang jual makanan, tapi tak kunjung menemukannya. Dari wajahnya, tampak gurat-gurat kekecewaan.

Usut punya usut, si wartawan ini tengah kecewa berat karena gagal bertemu dengan seorang tokoh yang hendak diwawancarai.

Betapa tidak kecewa, sejak siang hari dia sudah “mengejar-ngejar” tokoh tersebut. Siang hari, mereka janji bertemu di sebuah kantor.

Beberapa saat sebelum waktu pertemuan itu berlangsung, tokoh penting ini mendadak membatalkan janji, ada acara mendadak katanya.

Militansinya sebagai seorang wartawan untuk mendapatkan berita telah membuat pria muda ini mendatangi hotel tempat si pejabat meeting.

Dua jam lamanya, dia menunggu. Namun sial, si pejabat itu keluar dari pintu samping hotel sehingga tidak sempat bertemu sang wartawan.

Tidak mau patah arang, dia segera mencari tahu di mana keberadaan pejabat itu. Dia pun mendapatkan informasi bahwa orang yang dicarinya itu sudah pulang ke rumahnya di sebuah kompleks perumahan elite.

Tanpa banyak berpikir, sang wartawan tancap gas. Dengan motornya yang sudah agak butut, dia mendatangi perumahan tersebut. Walau harus tanya sana-tanya sini, akhirnya dia bisa sampai ke rumah si pejabat.

“Aduh maaf, Mas, Bapaknya barusan pergi lagi. Ada pertemuan lagi katanya. Tapi, Bapak nggak bilang di mananya,” kata si penghuni rumah.

Lunglailah kaki si wartawan. Dia pun pergi. Berkali-kali dia coba mengontak si pejabat, tetapi berkali-kali pula ponselnya tidak diangkat. Sudah terbayang di benaknya kalau nanti malam dia akan ditegur atasannya karena tidak mampu mendapatkan berita. Perutnya yang keroncongan seakan menambah derita.

Saat duduk di masjid itulah, dia melihat seorang kakek yang baru saja menunaikan shalat maghrib. Dipandanginya kakek itu.

Tampangnya sangat tidak meyakinkan: tinggi, kurus, jambang putihnya tidak terurus, pakaiannya sangat sederhana dan sudah luntur warnanya, sandal jepitnya pun sudah butut.

Kakek itu menghampiri sebuah tanggungan kayu bakar. Lalu, mengambil topi dan duduk melepas lelah takjauh dari tempat si wartawan. Kerutan wajahnya yang hitam terbakar matahari seakan tampak makin mengerut karena kelelahan.

“Cep, peryogi suluh henteu? Peserlah suluh anu Bapa, ieu ti enjing-enjing teu acan pajeng!” kata Pak Tua kepada si wartawan. Maksudnya, dia menawarkan kayu bakar yang dibawanya karena sejak dari pagi tidak laku-laku.

“Punten Bapa, abdi di Bumi teu nganggo suluh (Maaf Bapak, saya di rumah tidak menggunakan kayu bakar),” jawabnya.

“Oh muhun, teu sawios. Mangga atuh, Bapa tipayun, (Oh iya, nggak apa-apa. Kalau begitu permisi, Bapak duluan),” ujar pak tua penjual kayu bakar itu.

Sebelum pak tua itu pergi, si wartawan segera mengambil dompet. Dilihatnya hanya ada uang sepuluh ribu, satu-satunya, plus beberapa keping uang receh. Itulah hartanya yang tersisa pada hari itu untuk makan dan membeli bensin.

Namun, semua itu dia abaikan. Dia berikan uang sepuluh ribu itu kepada pak tua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya dia menerimanya pula.

Sambil menahan tangis haru, pak tua berkata, “Hatur nuhun Kasep, tos nulungan Bapak. Mugi-mugi Gusti Alloh ngagentosan kunu langkung ageung (Terima kasih, Cakep, sudah menolong Bapak, semoga Gusti Allah menggantinya dengan yang lebih besar).”

Ternyata, bapak ini sejak pagi belum makan dan tidak punya uang untuk pulang.

Selembar sepuluh ribu telah mengubah segalanya. Dia telah sudi memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya yang tengah kesusahan, Allah pun langsung membalasnya dengan memasukkan rasa bahagia yang berlipat-lipat ke dalam hatinya.

Rasa lapar, penat, dan hati dongkol yang sebelumnya mendominasi dirinya langsung hilang sirna berganti kelapangan dan kebahagiaan.

Uang sepuluh ribu itu benar-benar memberikan kepuasan yang sensasinya sulit terlupakan. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain dari tetesan air mata bahagia.

“Terima kasih, ya Allah, engkau telah memberiku rezeki sehingga bisa berbagi,” gumamnya.

Tak lama kemudian, datanglah karunia yang kedua. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dilihatnya sebuah pesan dari atasannya kalau dia tidak perlu lagi mengejar si pejabat karena ada narasumber lain yang lebih kompeten yang siap diwawancara seorang rekannya. Dia hanya memberi penugasan untuk meliput sebuah acara syukuran di salah satu hotel berbintang.

Karunia Allah yang ketiga pun segera datang. Di sela-sela acara liputan di hotel itu, sang wartawan dipersilakan oleh panitia untuk menikmati hidangan mewah yang tersedia sepuasnya.

Menjelang pulang, dia mendapatkan sebuah doorprize dan beberapa buah bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak penyelenggara.

“Malam yang indah …,” ujarnya.

Permainan Pikiran (Teori Jeruk Nipis)

22 Mei

Saya ada sedikit percobaan
Kita bermain imajinasi.

Bayangkan ada sebuah Jeruk Nipis berwarna hijau agak ke kuning-kuningan.
Lalu Jeruk tsb anda potong jadi dua. Kemudian pegang salah satunya dan peraslah…
Sampai air tetesan nya mengucurr…

Apa yg anda rasakan..? Asam bukan..? Setiap tetesannya membuat anda menelan ludah.
Kalau imajinasi anda kuat sekarang anda sedang
Menelan air liur, saking asamnya betul?

Padahal jeruknya tidak ada…
Tapi rasa asamnya terasa hingga anda harus menelan ludah.

Jika anda merasakan kejadian serupa itulah yg disebut
TEORI JERUK NIPIS.

Bahwa tubuh manusia dirancang untuk merespon apa yg dibayangkan. Apa yg dipirkan itulah yg jadi kenyataan.

Sehingga jika kita sedang menghadapi masalah
Lalu kita berpikir yg aneh-aneh
Maka yg terjadi biasanya tubuh akan drop. Kemungkinan jatuh sakit bahkan depresi.

Padahal semua kekhawatiran itu belum tentu terjadi.
Kita sebenarnya sedang “meneteskan Jeruk nipis” di kehidupan kita. Semakin banyak tetesannya semakin berat masalahnya.

Kuncinya ada dalam pikiran.
Jika air liur saja bisa dipancing hanya dengan memikirkan sebuah jeruk. Maka sebetulnya masalahpun bisa diatasi dengan permainan pikiran.

Maaf….
Coba anda perhatikan orang yg kelainan jiwa. Secara fisik mereka sehat. Namun mereka hidup di dunia yg berbeda.

Mereka menciptakan dunianya sendiri. Jeruk Nipis yang mereka teteskan terlalu banyak sehingga muncul lawan bicara yg begitu nyata. Yang bisa diajak bicara.

Sekarang ubah Mindset anda
Jika didera masalah bertubi-tubi  anggap itu “proses pondasi”
Bahwa Tuhan hendak membangun Hotel berlantai 100.

Bayangkan sebuah proyek Hotel dengan tinggi 100 lantai.
Pondasinya pasti dalam sekali dan kuat sekali. Dan pengerjaannya pun pasti lama.

Jika pondasinya selesai dia akan mampu menopang beban
Hingga 100 lantai sekalipun…
Tuhan tidak iseng memberi kita masalah. Dia ingin kita kuat bukan ingin kita sekarat.

Maka berhati-hatilah dengan pikiran anda…Berbaik sangkalah maka kehidupan pun atas ijin Tuhan akan membaik.

Berfikir baik dan berbuat baik terhadap orang lain menjadikan kita awet muda.

Usia hanya angka….jiwa tetap semangat muda.
Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat.

Exponential Leader

19 Mei

Anda tahu siapa yang menemukan kamera digital? Namanya Steven Sasson, salah satu karyawan Kodak, perusahaan fotografi global saat itu.

Ketika, Sasson mempresentasikan temuannya, para petinggi Kodak berkata “Teknologi cetak telah hidup bersama kami selama lebih dari 100 tahun, tak ada siapa pun yang mengeluh tentang cetak. Selain itu, cetak juga murah.”

Temuan Sasson tidak mendapat tempat bahkan cenderung dilecehkan oleh para pemimpin Kodak.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 2012, Kodak dinyatakan bangkrut. Dunia fotografi film yang dibanggakan Kodak akhirnya mati, digantikan fotografi digital yang kemudian dikuasai Nikon dan Canon.

Ironisnya, Kodaklah yang menemukan kamera digital tetapi ia bangkrut karena perkembangan kamera digital. Sang penemu dikubur oleh hasil temuannya sendiri. 

Mengapa Kodak bangkrut? Salah satu sebabnya karena kesombongan para pemimpinnya. Mereka terlalu bangga dengan pencapaiannya. Mereka enggan melakukan perubahan.

Mereka kurang mengapresiasi temuan anggota timnya. Mereka kurang menyadari bahwa perubahan yang terjadi semakin cepat, bahkan cenderung eksponensial. 

Di era yang berubah begitu cepat dan terkadang tak terduga disertai VUCA (volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity) diperlukan pemimpin model baru. Kami menyebutnya EXPONENTIAL LEADER.

Seorang pemimpin yang mampu membawa tim yang dipimpinnya melakukan lompatan perubahan di pekerjaannya. Tanpa lompatan, bersiaplah perusahaan atau tim yang Anda pimpin hanya akan menjadi kenangan yang menyedihkan, terkubur, terlindas zaman.

Jangan bayangkan bahwa lompatan pastilah sesuatu yang besar, tidak harus. Ia bisa berupa sesuatu yang sederhana tetapi berdampak besar.

Contohnya, saya pernah berdiskusi dengan seorang pemimpin dari salah satu perusahaan otomotif. Lelaki itu berkata “Mas, tim saya sudah saya iming-imingi bonus dan komisi besar bila mencapai target, tetapi kenapa prestasinya stagnan?”

Setelah kami berdiskusi, sang pemimpin memutuskan mengubah cara memotivasinya, bukan dengan iming-iming bonus dan komisi, tetapi lebih menekankan value dari mobil yang dijual.

Ia sampaikan kepada anggota tim yang sebagian besar generasi milineal bahwa mobil yang dijual ramah lingkungan, menyelamatkan bumi dan sejenisnya. Ia pun menyediakan waktu dan energi secara total bagi anggota timnya.

Dan Anda tahu dampaknya? Penjualan mobil oleh tim tersebut mengalami lompatan hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu empat bulan. Padahal di saat yang sama, tren penjualan otomotif oleh tim lain sedang menurun.

Pemimpin model ini, bisa dikatakan sebagai EXPONENTIAL LEADER karena ia melakukan lompatan disertai mendapat dukungan penuh dari anggota timnya.

Setiap era memerlukan jenis pemimpin atau model yang berbeda, dan era sekarang memerlukan pemimpin model EXPONENTIAL LEADER bukan model kepemimpinan yang lain.

By Jamil Azzaini

Jamu Jati Kendi

13 Mei

Jika melihat orang lain bahagia, selalu yang ditanya “Apa sih resepnya anda berdua bisa hidup sehat & bahagia?”

Yang ditanya sepasang kakek & nenek yang sedang berolah-raga. Si nenek cuma mesem-mesem aja.

Kemudian dengan singkat si kakek jelaskan bahwa mereka bisa hidup sehat & bahagia bersama nenek karena setiap hari minum JAMU JATI KENDI. Racikannya sangat menyehatkan & membahagiakan.

SI kakek menjelaskan ramuan tersebut sebagai berikut.

JAMU = Jaga mulutmu Maksudnya, mulut dijaga agar tak keluarkan kata-kata yang tak pantas. Selain itu agar menjaga mulut untuk tak makan sembarang makanan. Makanlah makanan yang berguna bagi tubuh & Makan secukupnya, sesuai kebutuhan & jangan terlalu kenyang.

JATI = Jagalah hati
Maksudnya, isilah hati dengan perasaan yang positif & selalu bersyukur terhadap yang sudah dimiliki juga tak perlu kecewa dengan yang belum diperoleh. Jangan sampai hati dipenuhi dengan rasa iri, dengki, jahil, fitnah & segala yang dapat menyakiti orang lain.

KENDI = Kendalikan diri Maksudnya: Hiduplah secara normal, Istirahat yang cukup, serta jangan lupa olah raga yang sesuai dengan usia. Kendalikan emosi & keinginan yang bukan merupakan kebutuhan, Buang jauh-jauh ambisi yang tak terukur.

JAMU JATI KENDI Gratis, oleh sebab itu mulailah mencobanya dengan minum setiap hari.

Semoga bermanfaat…

Bumbu Dasar Masak

4 Mei

Sekadar berbagi, barangkali cocok & kepakai buat resep Keluarga.

Bumbu dasar untuk kemudahan memasak di bulan Ramadhan.
Mau masuk bulan Ramadhan bu ibu, mulai stok bumbu dasar biar masak sahur tidak keteter, bisa awet 3 bulan lho.

*Bumbu Dasar Merah*
– 400 gram cabai merah (buang bijinya),
– 100 gram bawang merah,
– 50 gram bawang putih,
– 100 gram tomat,
– 20 gram terasi,
– 100 gram gula pasir,
– 15 gram garam halus,
– 100 ml minyak goreng (saat memblender), 
– 100 ml minyak goreng (saat menumis).

Bumbu ini cocok untuk memasak nasi goreng, sambal goreng, (ditambah lengkuas, salam, dan santan), dll

*Bumbu dasar kuning*:
– 100 gram kemiri,
– 150 gram bawang putih,
– 500 gram bawang merah,
– 25 gram kunyit,
– 20 gram jahe,
– 20 gram lengkuas,
– 1 sendok makan lada bubuk,
– 2 sendok teh garam halus,
– 2 sendok teh gula pasir, – 150 ml minyak goreng untuk memblender,
– 50 ml minyak untuk menumis.

Bumbu dasar kuning itu misalnya untuk macam-macam soto, pesmol, acar, terik daging, sampai bumbu ayam goreng.

*Bumbu dasar orange* :
– 300 gram cabai merah buang bijinya,
– 1 sendok teh jinten,
– 1 sendok teh adas manis bubuk, (kl suka)
– 2,5 sendok makan ketumbar bubuk,
– 100 gram kemiri,
– 150 gram bawang putih,
– 500 gram bawang merah,
– 25 gram kunyit,
– 20 gram jahe,
– 20 gram lengkuas,
– 2 sendok teh lada bubuk,
– 2 sendok teh garam halus,
– 2 sendok teh gula,
-150 ml minyak goreng untuk memblender, dan
– 50 ml minyak untuk menumis.

Bumbu orange untuk kari, gulai, rendang dan macam-macam masakan yang berwarna orange.

*Bumbu Dasar Putih* :
– 250 gram bawang merah,
– 100 gram bawang putih,
– 50 gram kemiri,
– 3 sentimeter lengkuas di rajang halus,
– 2 sendok teh garam halus,
– 2 sendok teh gula pasir,
– 100 ml minyak goreng (untuk memblender),
– 100 ml minyak goreng untuk menumis.

Bumbu ini cocok untuk berbagai masakan, misalnya rawon, semur, bisa juga untuk tumisan, mi goreng dan oseng-oseng.

*Cara membuat Bumbu Dasar* :
1. Haluskan semua bahan/diblender, kecuali garam, gula dan minyak untuk menumis, hingga halus benar.
2. Panaskan minyak untuk menumis, serta tumis bumbu sampai harum dan matang.
3. Masukan gula, tumis sebentar.
4. Masukkan garam halus, aduk, angkat dan dinginkan.
5. Masukkan ke dalam toples, siap digunakan.
6. Bumbu Dasar bisa di simpan dalam kulkas selama tiga bulan.
Jika ingin memasak, ambillah sedikit dan masukan bumbu tambahan lain, seperti daun salam, daun jeruk. daun sereh, daun kunyit, dll.

Şemoga Ъermanfaat untuk menghemat waktu di dapur dan memaksimalkan Program Ramadhan di rumah kita.