Terusir dari Rumah Sendiri

25 Feb

Seorang bapak (sebut aja Udin) punya sedikit uang untuk membahagiakan keluarganya. Dia berencana membangun dan memperbaiki rumahnya. Uangnya 20 juta dia pikir mungkin cukup untuk bangun rumahnya itu..

Ketika dia sudah mendapat tukang yang agak murah, mulailah dia datangi toko material belanja bahan bangunan.

Si tauke tentu menyambut gembira. Setelah bertanya-tanya pada pak Udin, si Tauke dengan senyum khasnya menawarkan “kebaikan”.

Dia berkata, “Kalau kurang-kurang belanja boleh utang… gampanglah.” ungkapnya. Udin tentu senang.

Setiap kali Udin minta satu barang, tauke ini menambahkannya dengan yakin. Udin perlu sepuluh, si tauke bilang, “Apa gak kurang? Nanti repot bolak balik, lima belas aja ya? Gampang dipulangin kalo lebih.”

Akhirnya Udin menyetujui semua saran si tauke, termasuk mengubah kualitas barang yang dibelinya dengan yang lebih baik.

Baca lebih lanjut

Iklan

5 Bahasa Kasih

24 Feb

Di rumah nomor 25 di jalan Sinabung, sang suami pulang agak terlambat, dia membawa kue coklat kesukaan isterinya.

Sesampai di rumah, didapatinya si isteri dengan muka cemberut menyambutnya. Hadiah itu di terima tetapi tetap saja sepanjang hari isterinya cemberut. Mereka bertengkar membahas keterlambatan suaminya pulang ke rumah.

Di seberang jalan, suami yang lain juga baru pulang dari luar kota. Sesampai di rumah, isterinya bertanya :”Oleh-oleh nya mana?”. Dengan terbata bata sang suami minta maaf dan menjawab bahwa seharian sibuk meeting sehingga nggak sempat beli oleh-oleh.

Sang isteri cemberut dan ketika suami mencoba merangkul, si isteri menghindar kemudian masuk ke dalam. Sepanjang hari suasana rumah menjadi tidak nyaman.

Apa yang salah dari ke dua suami di atas? yang satu mencoba pulang membawa oleh oleh tetapi diacuhkan oleh isterinya. Sedang satunya tidak membawa oleh-oleh dan membuat sang isteri marah.

Itulah yang umum terjadi di masyarakat kita, hal-hal kecil yang tidak diperhatikan oleh masing-masing. Komunikasi yang tidak nyambung antara suami dan isteri. Yang satu bicara bahasa Inggris dan dibalas dengan bahasa perancis. Akhirnya keduanya merasa tidak cocok satu sama lain dan inilah bibit-bibit sebuah perceraian.

Baca lebih lanjut

Istriku Sudah Tidak Cantik & Menggairahkan Lagi

4 Feb

Suatu hari Imam Syafi’i ra. kedatangan seorang Laki-laki, Suami. Dia mengadu kepada Imam Syafi’i perihal istrinya yang sudah tak cantik, tak menggairahkan lagi dipandangnya.

Suami: “Wanita yg aku nikahi itu pertama kali cantik dan menggairahkan. Tapi kenapa sekarang kecantikannya hilang, tidak menggairahkan?”

Mendengar hal itu, Imam Syafi’i dg tersenyum berkata: “Kamu ingin istrimu kembali lagi cantik, Menggairahkan?”

Suami: “Betul”

Imam syafi’i, “Gampang.. tundukan pandanganmu dari seluruh wanita yg diharamkan selama sebulan!”

Setelah mendengar nasihat  tersebut, ia segera mematuhi apa yang disampaikan Imam Syafi’i.

Sebulan kemudian Laki-laki tersebut bertemu kembali dg Sang Imam.

Imam syafi’i pun bertanya: “Bagaimana sekarang? Istrimu sudah kelihatan cantik?”

Suami: “Maa syaa Allah wahai imam, sungguh tak ada wanita cantik, menggairahkan selain istriku.”

Imam syafi’i pun berkata dari kenyataan itu, “Sebenarnya istrimu tidak berubah. Namun ketika kamu menjadi laki-laki yg sering melabuhkan atau mendaratkan pandangannya kepada wanita-wanita yg tidak halal. Ketika itu, Allah mencabut kenikmatan pandanganmu melihat yang halal.
Ketika Allah mencabut kepadamu kenikmatan melihat yang halal itulah kenapa kamu melihat istrimu menjadi biasa.”

“Akan tetapi ketika kamu meninggalkan pandangan yg haram. Lalu akhirnya kamu kemudian hanya menikmati pada pandangan yang halal (istrimu), di situlah kamu akan mendapati kenikmatan istrimu kembali.”

Nafsu Tersembunyi

4 Feb

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik.

Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Bashroh, Irak. Beliau bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apa pun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.

Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain.
Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.

Bertemulah aku dengan shahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku.
Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “Berikan makanan ini kepada keluargamu.”

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:

“Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati tuan.”

Baca lebih lanjut

Belajar Mengantri

3 Feb

Seorang guru di Australia pernah berkata, “Kami tidak terlalu khawatir anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika”. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Saya tanya, “Kenapa begitu?”

Jawabnya :

1. Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb.

3. Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran Etika Moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak.

”Apakah pelajaran penting di balik budaya MENGANTRI?”

”Oh banyak sekali..”

Baca lebih lanjut

Indahnya Cinta dan Silaturahim

3 Feb

Seusai shalat Subuh aku dikejutkan oleh bunda, “Ari, Nenek kamu masuk tumah sakit. Bunda harus datang melihatnya.“

Kulihat wajah bunda tampak sedih.

Tentu aku harus mendampingi bunda, karena tempat tinggal nenek tidak di Jakarta, tapi Sumatera.

Sementara aku hampir tidak mungkin meninggalkan kesibukanku di Jakata, Apalagi mitra bisnisku dari luar negeri sedang ada di Jakarta untuk menjajaki kerjasama pembelian produksi pabrikku.

Kulihat bunda sedang sibuk mengemas pakaiannya di kamar.

“Bunda, apa enggak bisa berangkatnya lusa aja.” kataku dengan lembut.

“Bunda enggak mau ganggu kamu, bunda bisa pergi sendiri kok, antar saja bunda ke bandara ya.” kata bunda sambil memasukkan pakaiannya kedalam koper.

“Baru minggu lalu bunda ke Dokter dan sekarang masih harus istirahat.“ Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi.

“Lusa aja ya, aku temanin.“

“Tidak !!! “ mata bunda melotot. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela napas panjang.
Sepeti biasanya aku harus mengalah untuk mengikuti kata bunda.

Istriku juga punya sifat sama denganku untuk mengikuti kehendak bunda.

“Baiklah, kita pergi sama-sama.” Seperti biasanya pula bunda tersenyum cerah, dia memelukku.

Di dalam pesawat aku menuju kota kelahiran ayahku, lamunanku terbang kemasa kanak-kanakku.

Dalam usia 5 tahun, aku sudah yatim karena ayah meninggal akibat sakit.

Menurut cerita bunda, ketika Ayah meninggal, status ayah masih mahasiswa di Yogya. Bunda bukanlah dari keluarga kaya.
Bunda juga seorang yatim, beda dengan ayah yang terlahir dari keluarga prjabat tinggi di Sumatera.

Sehingga walau ayah berstatus mahasiswa, namun kiriman uang dari orang tuanya masih cukup untuk menanggung hidupnya berkeluarga.

Ayah sengaja merahasiakan perkawinan itu kepada keluarga besarnya. Namun dua tahun setelah ayah meninggal, bunda datang ke keluarga ayah sambil membawaku. Aku masih ingat ketika itu usiaku 7 tahun.

Aku tidak begitu ingat persis bagaimana suasana ketika bunda memperkenalkan dirinya sebagai menantu dan aku sebagai cucu kepada kakek dan nenekku.

Yang aku tahu setiap tahun bunda selalu membawaku ke rumah kakek dan nenek.

Setiap tahun, setiap lebaran, bunda mengajakku pergi ke rumah kakek dan nenek. Dengan berlelah lelah naik bus melewati pulau Jawa dan Sumatera untuk sampai.

Tak pernah aku antusias datang ke rumah kekek dan nenek. Sebagai anak kecil, aku tahu bahwa kakek nenek tidak pernah hangat dengan kehadiranku dan bunda.

Beda sekali dengan perlakuannya kepada saudara sepupuku yang lain, seperti Adi, Rini, Bobi, Anto, dan Dedi.

Setiap lebaran, kulihat para sepupuku datang dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya dengan pakaian bagus.

Beda sekali denganku. Bila semua Istri om sibuk berdandan di kamar atau bermalasan di taman belakang rumah kakek yang luas itu, bunda malah sibuk di dapur memasak, seperti pembantu.

Ayahku adalah anak tertua diantara empat bersaudara. Semua saudara ayah laki-laki. Tidak ada perempuan.

Istri om semua memang cantik-cantik. Menurut yang kutahu dari nenek, yang selalu diulang-ulang di hadapan Bunda, bahwa semua Istri om dari kalangan keluarga terhormat. Seakan merendahkan keberadaan bunda. Tapi kulihat bunda tak pernah tersinggung.

Selama membesarkanku, Bunda tak pernah mendapat bantuan satu sen pun dari keluarga ayah. Juga bunda tidak pernah memohon bantuan dari mereka.

Bunda bekerja keras di perusahaan swasta sebagai tenaga administrasi. Bundapun tak pernah terpikir untuk menikah kembali. Ketika aku sudah remaja, aku sudah bisa beralasan bila bunda mengajakku lebaran di rumah kakek.

“Aku males ke rumah kakek dan nenek. Mereka enggak sayang sama aku. Kenapa kita harus ke rumah mereka?“ Demikian alasanku.

Tapi Bunda dengan segala sifatnya yang keras memaksaku untuk ikut. aku pun tak berdaya.

Ketika aku tamat SMU, aku tidak kuliah. Aku memilih bekerja di bengkel.

“Saya tak ada uang untuk mengirim Ari ke universtas, yah”. Demikian kata ibu kepada kakek ketika menanyakan mengapa aku tidak kuliah.

Kakek dan nenek tampak tersenyum sinis ketika mengetahui keadaanku.

Tahun-tahun berikutnya ketika lebaran. Kakek dengan kebanggaannya bercerita tentang sepupuku yang berangkat ke luar negeri untuk kuliah. Ada juga yang masuk perguruan tinggi swasta bergengsi di Jakarta.

Aku maklum karena om ku semua mempunyai posisi sebagai pejabat dan ada juga yang jadi pengusaha.

Aku dan bunda hanya diam mendengar cerita itu. Tapi, tak pernah mengurangi niat bunda untuk datang ke rumah kakek dan nenek. Dan aku semakin bosan dengan sikap keluarga ayahku.

Yang pasti bi idznillaah, izin Allaah SWT ditambah kerja kerasku, aku bisa menanggung bunda dan bunda tak perlu lagi berkerja keras.

Berjalannya waktu, yang tadinya aku sebagai pekerja bengkel, akupun sudah bisa mandiri dengan membuka usaha bengkel sendiri.

Lambat laun, aku mendapat mitra untuk membuat komponen bodi kendaraan sebagai pemasok pabrikan otomotif. Usaha ini ku geluti dengan kerja keras siang malam dan akhirnya berkembang. Ini semua tidak bisa dilepaskan peran bunda yang tak henti mendoa’kanku.

Akupun dapat hidup mapan. Namun, kewajiban setiap lebaran datang berkunjung ke rumah kakek nenek tetap saja dilakukan oleh bunda dan aku harus ikut.

Tapi belakangan keluarga yang berkumpul di rumah kakek dan nenek tidak lagi utuh. Yang lain hanya menelpon mengucapkan selamat lebaran kepada kakek dan nenek. Sepupuku pun tak semua datang. Mereka bersikap sama dengan orang tuanya, mengucapkan selamat lebaran via SMS, telpon atau WA. Tapi kakek dan nenek tetap bangga dengan mereka.

Aku tak pernah cerita tentang keadaanku karena kakek dan nenek tak pernah bertanya tentangku. Walaupun mereka tahu aku dan bunda tidak lagi datang dengan bus tapi menggunakan pesawat terbang.

Tak terasa roda pesawat sudah menyentuh landasan. Kulihat bunda tersentak dari tidur lelapnya. Dia melirik kearahku dan entah kenapa dia menciumku keningku.

”Ada apa bunda ?“ tanyaku dengan tesenyum

“Bunda ingat akan ayahmu.”
Bunda tampak berlinang air mata. Aku hanya diam

“Ayahmu pria yang sangat baik. Sangat baik. Dia pria yang sholeh. Ayahmu berencana bila dia selesai kuliah dan dapat pekerjaan maka dia akan membawa bunda dan kamu ke keluarga besarnya.

Bunda tahu kok, ayahmu dalam posisi lemah ketika melamar bunda. Di samping itu dia sadar karena pilihannya kepada bunda membuat dia berbeda dengan ayahnya.

Ayahmu mencintai bunda karena dia lebih mencintai Allaah dari apa pun” papar bunda.

“Maksud bunda apa ?”

“Ayahmu memilih bunda karena agama.” Dia tidak melihat bunda karena kecantikan, karena keturunan orang kaya, karena apa-apa. Di hadapan ayahmu, bunda adalah muslimah yang baik, yang miskin. Dan itu pasti akan ditentang habis oleh keluarganya.”

Air mata bunda berlinang dan akhirnya air mata itu jatuh membasahi pipinya.

“Kamu adalah putra ayahmu. Anak yang berbakti, Sholeh dan pekerja keras. Benarlah kalau niat baik karena Allaah maka yang akan datang juga kebaikan.“

Aku terdiam. Ada yang mengganjal dalam pikiranku.
Ini momen yang tepat untuk bertanya.

“Kenapa bunda selalu menaruh hormat kepada kakek dan nenek. Padahal mereka sangat acuh dan tidak peduli dengan kita.”

Bunda menatapku dengan tersenyum

“Ketika ayahmu pulang ke Sumatera dalam keadaan sakit, dia berpesan kepada Bunda , bila dia meninggal agar bunda menjalin silahturahim dengan keluarganya dan mendidikmu untuk dekat kepada kedua orang tuanya.”

Bunda terdiam sebentar sambil mengusap airmatanya.
“Kamu tahu, setelah Ayahmu meninggal, butuh dua tahun bagi bunda untuk mengambil keputusan untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu.

Walau karena itu tidak ada rasa hormat kepada bunda, dan bunda juga menyaksikan betapa kamu tidak diperlakukan sama seperti cucu yang lain, tapi bunda ingat kata-kata ayahmu. “Cintailah sesuatu karena karena Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia, ya kan, anakku.”

“Ya, Bunda” Terlontar begitu saja dari mulutku.

Entah kenapa kedatangan ku bersama Bunda kali ini disambut dengan air mata berlinang oleh kakek.

Dia peluk aku ketika sampai di kamar nenek dirawat. Yang datang menjenguk hanya “aku dan Ibu”. Sementara Om dan sepupuku tidak ada yang datang. Kulihat nenek dalam keadaan tertidur.

Dari kakek kutahu bahwa nenek terkena stroke, tapi keadaanya cepat tertolong. Mungkin setelah itu nenek akan lumpuh. Kakek mengajakku keluar dari ruangan.
Kami bicara di taman rumah sakit.

“Dua tahun lalu, om mu yang pejabat di Jakarta, terkena kasus Korupsi. Dia dalam pemeriksaan oleh aparat yang berwajib.”

Sebelumnya, Om mu yang di Surabaya, perusahaannya disita oleh Bank karena bankrut.

Om kamu yang di Bandung bercerai dengan istrinya, karena soal perselingkuhan dan akhirnya terkena PHK sebagai PNS.

Semua anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang liar.
Kuliah tidak selesai, dan terjebak dalam pergaulan bebas.

Aku terkejut, karena baru kali ini aku tahu. Mungkin karena hubunganku dengan keluarga ayahku tidak begitu dekat maka tak banyak kutahu soal mereka.

“Kakek tahu bahwa nenekmu punya penyakit darah tinggi dan jantung.”

Makanya kakek berusaha menyimpan rapat rahasia tentang Om kamu yang tersangkut kasus karupsi.

“Tapi kemarin, ada yang memberi tahu bahwa Om kamu sudah di vonis penjara enam tahun atas tindakan korupsinya. Seketika itu pula nenekmu jatuh pingsan …”

Aku hanya diam untuk menjadi pendengar yang baik.

“Ari, kami tahu bahwa selama ini perlakuan kami kepada kamu dan ibu mu kurang baik.”

Bahkan kami biarkan ibu mu menderita membesarkan kamu, membesarkan anak dari putra sulung kami, cucu kami.

Kami menyesal karena sikap kami selama ini. Belakangan ini, nenekmu selalu menyebut nama kamu …. setiap dia menyebut namamu, seketika itu juga dia menangis.

Kini di masa tua kami, kami resah karena tak tahu siapa yang akan mengurus kami.

“Nenekmu mungkin setelah ini akan lumpuh. Kakek sudah uzur dan lemah …”

Ku genggam tangan kakek.

“Aku yang akan merawat kakek dan nenek.” Izinkan aku untuk membawa kakek dan nenek ke Jakarta, tinggal bersamaku.
“Beri kesempatan aku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, ya kek.“

Seketika itu juga kakek memelukku erat.

Terasa pundakku  basah, “Aku tahu kakek menangis” Harta yang ada jual saja lah kek. Untuk bantu om dan adik-adiknya.

“Dalam situasi ini tentu mereka sangat membutuhkannya. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk Panti asuhan agar kakek punya bekal ke akhirat, setuju kan kek.” kataku.

Kakek semakin erat pelukannya. “Maha suci Allaah SWT, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami.”

Bertahun-tahun aku dididik oleh Bunda untuk memahami makna cinta.

“Bahwa Cinta adalah tindakan memberi karena Allah”, bukan mengharap balasan dari manusia.

Akupun harus memahami hakikat cinta dalam kehidupan ini, termasuk menggantikan posisi ayahku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, orangtua ayahku.

Bunda tampak bahagia sekali ketika melihatku mendorong kursi roda nenek menuju tangga pesawat dengan di samping kakek yang berjalan sambil memegang lenganku. Kami semua ke Jakarta.

Ajarkan Anakmu Untuk Menciptakan Peluang Bagi Dirinya Sendiri

1 Feb

Namanya Runi, seorang marketing manager di sebuah perusahaan digital. Malam itu kami ngobrol di sebuah kafe unik di daerah Senopati. Runi terlahir di sebuah keluarga biasa, tetapi karena tekadnya yang sangat besar untuk ambil S2 di luar negeri, dia pun sibuk mencari beasiswa di sana-sini sambil menyelesaikan kuliahnya di fakultas ekonomi di sebuah universitas terbaik di negeri ini. Runi akhirnya mendapatkan beasiswa ke sebuah negara di Eropa.

Setelah selesai kuliah, Runi masih ingin tinggal di sana untuk bekerja selama satu tahun, tetapi dia kesulitan mendapatkan pekerjaan. Akhirnya dia menghadap ke seorang pejabat kedutaan di sana. (Kebetulan Runi dulunya aktif di beberapa kegiatan di Kedutaan). Dan Runi bertanya, ”Pak, apakah di sini ada program internship untuk mahasiswa Indonesia?” Jawabannya ternyata tidak ada.

Runi meneruskan, ”Kalau begitu kenapa tidak dibikin saja pak.” Dan Runi (yang sudah menyiapkan proposalnya) segera menawarkan programnya beserta manfaat program tersebut. Akhirnya program itu disetujui, dan Runi pun tinggal di sana selama setahun untuk mendapatkan pengalaman kerja.
Baca lebih lanjut