Perbedaan Demokrasi, Diktator, dan Khilafah

4 Mar

Apakah ada cara mudah dan cepat menjelaskan perbedaan sistem demokrasi, diktator dan khilafah?

InsyaAllah ada.

Dengan apa? Cukup dengan menggunakan analogi shalat berjamaah.

Jika kita menyaksikan sekelompok orang yang shalat berjamaah, ada satu orang imam yang diikuti banyak orang yang menjadi makmum. Kita bisa menyaksikan, apapun perintah dan gerakan imamnya akan diikuti oleh makmumnya, tanpa ada yang membantah.

Jika imamnya takbir, semua makmumnya takbir. Jika imamnya rukuk, semua makmumnya rukuk, jika sujud, semua sujud, dan seterusnya. Semua makmumnya akan bersikap: “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami ta’at).

Pertanyaannya: apakah imamnya adalah seorang diktator? Jawabannya: tidak! Mengapa? Sebab, jika imamnya garuk-garuk, apakah ada makmum yang mengikutinya? Jika imamnya batuk, apakah ada makmum yang mengikutinya? Jika gerakan imamnya salah, apakah makmunnya akan tetap mengikutinya? Artinya, imam tidak bisa dikatakan diktator, sebab apa yang dia perintahkan bukan kehendaknya sendiri, melainkan perintah dari Allah.

Makmum juga tidak bisa dikatakan pihak yang mengikuti saja pada perintah imamnya, sebab, jika imamnya salah, makmum akan membetulkannya. Bahkan, jika imamnya batal, maka imam harus segera lengser dan harus segera digantikan oleh salah seorang makmumnya.

Sebaliknya: jika para makmum yang dengan sukarela dan sepenuh hati mengikuti gerakan imamnya, apakah itu karena aturan shalat sudah mengikuti kehendak mayoritas makmumnya, sebagaimana yang ada dalam sistem demokrasi? Jawabnya tentu saja tidak! Mengapa?

Buktinya, jika mayoritas makmumnya ingin agar shalat subuh itu diganti menjadi 4 rakaat, dengan pertimbangan karena waktu subuh itu sangat cocok untuk berolahraga; sedangkan shalat dzuhurnya dikurangi saja menjadi 2 rakaat, dengan pertimbangan karena itu adalah saat-saat orang sudah lelah bekerja, apakah imamnya akan menyetujui usulan mayoritas makmumnya tersebut? Jawabannya tentu saja tidak!

Apa kesimpulannya? Sesungguhnya sistem politik Islam, yakni sistem kekhilafahan dapat diibaratkan seperti kehidupan shalat berjamaah.

Dalam sistem khilafah, seorang pemimpin, yaitu kholifah harus tahu syariat Islam yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebagaimana seorang imam juga harus tahu betul aturan syariat Islam yang berkaitan dengan shalat berjamaah.

Dalam sistem khilafah, seluruh rakyatnya juga harus tahu syariat Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya. Sebagaimana seorang makmum juga harus mengetahui syariat Islam yang berkaitan dengan shalat berjamaah. Sehingga rakyat harus benar-benar tahu, kapan saat pemimpin harus ditaati, kapan saat pemimpin harus dikoreksi dan juga tahu kapan saat pemimpin itu wajib dilengserkan. Mudah bukan?

Kesimpulannya, sistem khilafah itu bukanlah sistem diktator dan juga bukan sistem demokrasi. Sistem khilafah itu adalah sistem yang berasal dari syariat Allah dan Rasul-Nya. Bukan sistem buatan manusia. Kewajiban manusia adalah menerapkannya dan mengamalkannya, dengan sepenuh keimanan dan keikhlasan, “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami ta’at).

H. Dwi Condro Triono, Ph.D.

Iklan

Fitnah

3 Mar

Seorang murid meminta maaf kepada gurunya yang telah difitnahnya.

Mendengar hal itu, sang guru hanya tersenyum sambil bertanya, “Apa kamu serius?”

“Saya serius, guru” jawab sang murid.

Guru itu terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng (pembersih dari kumpulan bulu ayam)?”

“Ya guru, saya punya. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

“Berjalanlah berkeliling di jalan sambil mencabuti bulu-bulu kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.”

Esoknya, sang murid menemui guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun.

“Guru… bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga kilo sambil mengingat semua perkataan buruk saya tentang guru. Maafkan saya, guru….”

Sang guru terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang tadi kamu lalui.

Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu.

Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.”

Sepanjang perjalanan pulang, sang murid berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang dia lepaskan di sepanjang jalan.

Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu.

Bulu-bulu itu tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan Atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui.

Sang murid terus berjalan berjam-jam, dengan pakaian yang dibasahi keringat.

Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan.

Hari berikutnya, sang murid menemui sang guru dengan wajah yang murung.

“Guru, hanya ini yang berhasil saya temukan.” ucapnya.

Disodorkannya lima bulu kemoceng ke hadapan sang guru.

“Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata sang guru.

“Apa yang telah aku pelajari, guru?” tanyanya.

“Tentang fitnah itu,” jawab sang guru.

“Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah yang kamu sebarkan.

Mereka dibawa angin ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak bisa kamu duga

itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya.

Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya.

Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi.

Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Itulah sebabnya kenapa fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Renungkanlah…

Hati yang Bening

2 Mar

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia adalah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendoakannya agar diberkahi”.

Sebagian lagi berkata, “Setiap kali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, keturunan yang baik), saya mendoakan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’”.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiap kali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga mereka disatukan hatinya di dalam ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiap kali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, ku do’akan dia agar mendapat hidayah dan bertaubat pada-Nya”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiap hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Rabb-ku, siapa pun dari kaum muslimin yang berbuat zalim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya. Oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.

Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu.

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.

Suatu malam, Al Hasan Al Bashri berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang menzalimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d (Al Hasan Al Bashri), sungguh malam ini aku mendengar engkau berdoa untuk kebaikan orang yang menzalimimu sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang menzalimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya?”

Beliau menjawab: “Firman Allah:

ﻓَﻤَﻦْ ﻋَﻔَﺎ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺢَ ﻓَﺄَﺟْﺮُﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪ

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah’”. (QS. Asy-Syuuro: 40)

Sungguh, itulah hati yang dijadikan shalih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka.

Janganlah engkau bersedih bila kebaikanmu tidak dipedulikan orang. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.

Apa pun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah.
Sebaliknya, apa pun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu.

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya.

Semoga Allah menjadikan hari-harimu bahagia dengan segala kebaikan dan keberkahan.

Rezeki Itu Ada di Langit, Bukan di Bumi

1 Mar

Saya punya sate langganan di kawasan Condet, Jakarta Timur. Ini sate paling enak di Jakarta menurut saya. Susah cari lawannya! Dagingnya empuk, dan wanginya emh…. bikin siapa pun ketagihan.

Anehnya, warung sate ini bukanya suka-suka. Tidak ada jam buka dan kadang-kadang libur mendadak, tanpa pemberitahuan. Seperti orang yang tidak butuh pelanggan. Kita harus telepon dulu kalau mau ke sana. Beberapa kali saya nekad datang ke sana tanpa telepon dulu ternyata warungnya tutup.

Saya tanya: “Kenapa cara jualannya seperti itu Pak Haji?”

Pak Haji Ramli penjual sate kondang itu menjawab dengan enteng: “Rezeki sudah ada yang ngatur, kenapa harus ngoyo? Kita kan hanya disuruh usaha, soal hasil itu urusan Allah, bukan urusan kita!”

“Bukan ngoyo Pak Haji!” jawab saya. “Bapak bisa kehilangan pelanggan kalo jualannya begitu!”

Pak Haji tersenyum mendengar komentar saya.

“Kayak situ yang ngatur rezeki aja!”Kata Pak Haji sambil senyum.

“Jangan pernah takut kehilangan rezeki…Rezeki itu kita cari bukan jumlahnya, tapi yang paling penting harus halal biar berkah!

Kalau Anda selalu mencari rezeki yang halal, makin banyak orang yang akan menikmati keberkahannya. Istri Anda, anak Anda, dan orang-orang terdekat, akan menikmati keberkahan dari rejeki Anda. Allah makin sayang sama Anda.

Coba lihat, berapa banyak orang kaya, tapi gak bisa menikmati kekayaannya?” Kata Pak Haji dengan penuh yakin.

“Tapi Pak Haji, kan gak ada salahnya juga kalau Bapak buka tiap hari! Malah kalau bisa malam juga buka karena banyak orang suka makan sate malam juga Pak!” Sergah saya, balik meyakinkan Pak Haji.

“Warung sate Bapak bisa makin rame dan makin besar!” kata saya lagi.

Pak Haji Ramli menghela napasnya agak dalam.

“Hai anak muda, Rezeki itu ada di langit bukan di bumi!”

“Anda muslim kan?” Tanya Pak Haji Ramli sambil menatap tajam wajah saya.

“Suka ngaji gak?” tanyanya.

“Coba baca, apa kata Qur’an?” lanjutnya.

“Cari nafkah itu siang bukan malam! Malam itu untuk istirahat, bukan untuk bekerja!” Kata Pak haji balas meyakinkan.

“Saya cuma mau jualan siang, kalau malam biarlah itu rezekinya tukang sate yang jualannya malam. Kalau saya lagi gak mau buka karena ada pengajian, yang penting ngaji. Biarlah orang makan yang lain, gak harus makan sate saya!”

“Dari jualan sate siang saja saya sudah merasa cukup dan bersyukur, kenapa harus buka sampe malam?” Pak Haji nyerocos sambil membakar sate.

“Pak Haji, kalau banyak ngaji berarti banyak liburnya dong?” Tanya saya lagi.

“Ya biar aja! Islam nyuruh saya ngaji tiap hari, tidak nyuruh saya jualan tiap hari!” ujarnya.

“Nih bunyinya begini kata Allah: Makin banyak waktumu engkau habiskan untuk mempelajari Al Qur’an, urusan duniamu Aku yang urus! Mau apa lagi?” Bantah Pak Haji.

“Coba liat orang-orang yang kelihatanya kaya itu. Pake mobil mewah, rumahnya mewah. Tanya mereka, emang hidupnya enak?” Pasti lebih enak hidup saya karena saya gak dikejar target, gak dikejar utang!

Saya 2 minggu sekali pulang ke Tegal, mancing, naik sepeda lewat sawah-sawah lewat kampung-kampung, bergaul dengan manusia-manusia yang menyapa dengan tulus.Tak seperti orang kota yang hanya menyapa kalau ada maunya!”, jelas Pak Haji.

“Biarpun saya naik sepeda, tapi batin saya jauh lebih enak daripada naik Jaguar!”

“Saya bisa menikmati angin yang asli, bukan AC. Bisa denger kodok, jangkrik, dan binatang-binatang lainnya, lebih nyaman di kuping daripada dengerin musik di dalam mobil!”

“Coba Anda pikir, buat apa kita ngoyo bekerja siang-malam?” tanyanya.

“Jangan-jangan kita muda kerja keras ngumpulin uang, sudah tua uangnya dipake ngobatin penyakit kita sendiri karena terlalu kerja keras waktu muda. Itu banyak terjadi kan?

Dan… jangan lupa, Tuhan sudah menakar rezeki kita! Jadi buat apa kita nguber rezeki sampe malam? Rezeki gak bakal ketuker!! Yang kerja siang ada bagiannya, begitu juga yang kerja malam!”

“Kalau kata peribahasa, waktu itu adalah uang. Tapi jangan diterjemahkan tiap waktu untuk cari uang!”

“Waktu itu adalah uang, artinya kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang. Uang bisa dicari lagi! Waktu lebih berharga dari uang. Makanya saya lebih memilih waktu daripada uang!”

“Waktu saya ngobrol dengan Anda ini jauh lebih berharga daripada saya bikin sate. Kalau saya cuma bikin sate, di mata Anda, saya hanya akan dikenang sebagai tukang sate.

Tapi dengan ngobrol begini semoga saya bisa dikenang bukan cuma tukang sate, mungkin saya bisa dikenang sebagai orang yang punya arti dalam hidup Anda sebagai pelanggan saya.

Kita bisa bersahabat! Waktu saya jadi berguna juga buat saya. Begitu juga buat Anda.”

“Kalau Anda merasa ngobrol dengan saya ini sia-sia, jangan lupa ya…Rezeki bukan ada di kantor Anda, tapi di langit! Coba buka Qur’an, itu kata Allah bukan kata saya. Gak mungkin kan Allah bohong?” Begitu kata Pak Haji Ramli menutup pembicaraan.

Semoga bermanfaat.

Lembaran yang Hilang

28 Feb

Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran sejarah.

“Nak, siapakah Barack Obama itu?”

“Penjual es krim, pak.”

Guru tersebut terkejut mendengar jawabannya.

Ia bertanya sekali lagi, si murid tetap memberi jawaban yang sama.

Ia kembali mengulang, “Nak, bukankah biografi Barack Obama ada di buku paket. Apa kamu sudah membacanya?”

“Sudah, pak. Barack Obama adalah penjual es krim!”

Sang guru semakin emosi mendengar jawaban seperti itu.

Ia perintahkan si murid mengeluarkan buku paket miliknya, dan membuka halaman tentang Obama.

Pada buku si murid, biografi Obama hanya ada satu halaman.

Kisah hidup Obama berhenti pada saat masih remaja, di usia 16 tahun ia memperoleh pekerjaan sebagai pelayan kedai es krim di kota Honolulu, negara bagian Hawaii.

Guru tersebut menyadari ternyata pada buku si murid, lembaran kedua hilang.

Mungkin tersobek tidak sengaja, atau bisa jadi salah cetak. Pantas ia tidak tahu kelanjutan sejarah hidup Obama hingga menduduki kursi presiden ke-44 di Amerika.

Guru tersebut benar, ketika ia menganggap bahwa Barack Obama adalah presiden. Karena kenyataannya memang demikian.

Tetapi muridnya juga benar karena sejauh yang ia baca, Obama adalah penjual es krim.

Jadi dalam cerita tersebut keduanya sama-sama benar.

Lalu mengapa terjadi perselisihan?

Karena sang guru tidak menyadari bahwa ada lembaran yang hilang. Begitu ia tahu, akhirnya ia memaklumi jawaban murid tersebut.

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita sejatinya juga serupa dengan kisah ini.

Hampir semua perbedaan pendapat antara dua orang, sebenarnya hanya disebabkan karena adanya “lembaran yang hilang”, adanya perbedaan pengetahuan & pemahaman.

Saat seorang suami berselisih dengan istrinya, redamlah dulu emosi. Sebab yang perlu kita cari tahu adalah di mana “lembaran yang hilang” itu.

Ketika orang tua berseberangan dengan anaknya, carilah dulu “lembaran yang hilang” tersebut. Bukan langsung melampiaskan kemarahan kepada anak.

Karena dalam perbedaan pendapat bukan selalu berarti ada yang benar dan ada yang salah.

Bisa jadi kedua pendapat benar. Namun menjadi berbeda, karena ada “lembaran yang hilang” di antara keduanya.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shad : 26)

Kisah Istri yang Minta Cerai

27 Feb

Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan ustadz Nasrullah.

+ Pak Nas, saya sudah ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja.

-: Emangnya kenapa bu?

+ Ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.

-: Oh gitu, cuma itu aja?

+ Sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.

-: Oooh… iya… mau tahu pandangan saya ga bu?

+ Boleh pak Nas.

-: Gini… ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik…

Nah… itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apa pun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas.

+ Mmm… trus apa hubungannya sama suami saya?

-: Ya… ibu berharap banget suami ibu jalankan fungsi yang sekunder, bahkan tersier barangkali. Tapi fungsi primernya ga dipakai.

+ Saya ga berharap lebih koq pak Nas. Saya cuma pengen dia nafkahi keluarga dengan baik. Saya cuma pengen dia jadi pemimpin yang baik.

-: lya… itu mah cuma fungsi sampingan dari suami. Sayang atuh suami cuma diharapkan jadi begitu aja. Fungsi primernya yang paling utama malah ga ibu harapkan dan kejar.

+ Mmm… Emang apa fungsi primernya seorang suami?

-: Fungsi primer suami ibu itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa-dosa ibu di neraka.

Saat ibu dapat ridho dari suami, maka… semua dosa-dosa ibu langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami ibu.

Jadi, seorang suami duduk diem aja, itu sangat manfaat untuk ibu, tinggal ibu aja gunakan fungsinya dgn maksimal.

Lakukan apa pun yang terbaik yang ibu bisa lakukan untuk dapatkan ridho suami.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan :

Yang artinya : “Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga”

Selebihnya, itu cuma fungsi-fungsi sekunder dari suami. Kejar dulu yang utama ini.

Suami ga kerja ya ga apa-apa… yang penting sudah jadi suami ibu. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi neraka.

Kalau cerai, nanti ibu langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa-dosa ibu ga ada yang menghapusnya, kecuali amalan ibu sangat spesial dan udah ga ada dosa sama sekali.

Ibu tinggal cari ridhonya suami. Kalau mmg ibu yang cari nafkah ya gapapa. Semua harta yg ibu berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim.

+ Koq bisa lebih mulia dari anak yatim?

-: Ya krn anak yatim ini bukan bagian dari hidup ibu. Memberikannya adalah sedekah yg hukumnya sunnah. Sementara suami, sdh terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari ibu.

Silakan dibagi sedekah untuk orang lain dengan sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yang lebih utama.

+ Tapi… kalau suami zalim bgm? Bahkan KDRT ke keluarga?

-: Ya gapapa juga… tetap pertahankan. Krn semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat KDRT yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya.

Sementara… Ibu fokus aja terus cari ridhonya suami.

Pernah dengar? Istrinya Fir’aun masuk syurga? Apa kurangnya coba Fir’aun melakukan KDRT? Bukan hanya ke sang istri, Fir’aun bahkan tega membunuh bayi-bayi.

Ke istrinya Asiyah, Fir’aun menyiksanya dan bahkan membunuhnya. Doa terakhir Asiyah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.

Dia tidak meminta Fir’aun diadzab. Dia hanya meminta imbalan atas kesabarannya, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim” (QS. 66:11)

+ Ya Allah… pak Nas… teima kasih atas diskusinya. Lalu apa yang harus saya lakukan?

-: lbu mau ikuti games dari saya?

+ Apa itu Pak Nas?

-: Lakukan ini selama 7 hari saja… setiap malam, tanyakan ke suami, “Abang, berapa persen ridhonya abang sama aku hari ini?”

Kalau dia jawab 95%… jangan tidur. Lakukan apapun untuk membuatnya menjawab sampai 100%. Mungkin dipijitin, mungkin dibuatkan makanan, teh, hidangkan buah, apapun… sampai dia mau jawab 100%. Baru setelah dia jawab “iya, aku ridho sama kamu 100%” nah silakan tidur.

Lakukan selama 7 hari dan rasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang akan ibu dapatkan.

+ Siap pak Nas.

-: Semoga Allah muliakan ibu dan suami.

+ Aaaamiin ya Rabb… terima kasih pak Nas…

BARU 5 HARI BERLALU

+ Pak Nas…. ya Allah… teeima kasih banyak… saya ga tahu mau ngomong apa sama pak Nas… teeima.kasih sudah mengubah hidup saya… hanya Allah yang bisa memuliakan pak Nas dan keluarga.

-: Alhamdulillah… gimana, gamesnya dijalankan?

+ Iya pak Nas… dan saya rasakan saya lebih bahagia sekarang. Ini suami juga sudah mulai inisiatif cari kerjaan… walaupun belum dapat, saya sudah cukup bahagia pak Nas, dia mau bantuin saya nganter ke mana2…. ya Allah… enak banget pak Nas.

-: Alhamdulillah…

+ Saya mau terusin gamesnya, ga 7 hari… mau selama-lamanya boleh pak Nas?

-: Buoleh banget… lakukan sampai salah satu dari ibu atau suami, dijemput malaikat dengan husnul khotimah.

+ Huhuhu… makasiiiiih pak Naas…

-: Sama-sama.

Semoga bermanfaat.

Keajaiban Sebuah Penghargaan

26 Feb

Jangan remehkan sekecil apa pun bentuk perhatian terhadap orang lain. Sebab, sentuhan ringan di bahu seorang kawan yang putus asa ternyata mampu membuatnya urung melompat ke jurang.

Aku belum lupa kata-kata ini. Kata-kata yang ketemui di sebuah buku Chicken Soup for The Soul saat masih SMA dulu. Maknanya sangat kuat. Menghujam dalam ke dasar memori. Bahwa sebuah perhatian dan penghargaan yang tulus bisa mengubah kehidupan seseorang.

Adalah Andrew Carnegie yang berani membayar jasa seorang Charles Schwab dengan gaji satu juta dollar atau 14 miliar rupiah per tahun untuk menjadi presiden direktur United Steel Company, di AS.

Saat ditanya apakah Schwab orang jenius, hingga harus digaji sangat besar? Atau Schwab lebih mengerti tentang jenis baja daripada yang lain? Andrew Carnegie menggeleng,

“Bukan. Bukan karena itu. IQ Schwab biasa saja. Dia juga tidak lebih tahu tentang baja daripada staf lain. Hanya saja, aku melihat Schwab memiliki kemampuan membangkitkan antusiasme kerja karyawan. Ia juga mampu mengembangkan potensi terbaik pada diri bawahan.”

Perusahaan itu nantinya benar-benar menjadi salah satu perusahaan baja sukses di Amerika.

Kelak, Charles Schwab diwawancarai wartawan. Mengenai apa rahasia suksesnya menjadi pimpinan perusahaan? Ia pun menjawab,

“Tak ada hal lain yang sangat mematikan hasrat ingin maju seseorang kecuali kritikan dari atasan. Maka saya selalu membiasakan diri untuk memuji kinerja karyawan, jika ada yang salah kita selesaikan bersama.

Ketika sebuah proyek telah diselesaikan, saya tak akan pulang ke rumah sebelum memberi ucapan terima kasih karyawan, menjabat tangan mereka satu per satu sebagai wujud penghargaan atas kerja keras mereka.”

Ah, aku jadi teringat pada satu kisah…

Kisah ini terjadi di Detroit, AS. Beberapa dekade silam. Ketika itu, seorang guru melihat seekor tikus masuk ke dalam kelas. Ia pun berucap pada salah satu muridnya yang duduk di bangku paling ujung,

“Stevie, tolong bantu Ibu menangkap tikus itu.”

Mendengar permintaan sang guru, Stevie kecil seketika terhenyak. Tak percaya ucapan itu ditujukan padanya. Tapi tidak ada murid lain yang bernama Stevie selain dirinya di kelas itu. Maka ia ingin memastikan,

“Bu,” jawab Stevie, “Apakah Ibu menyuruhku?”

“Ya. Siapa lagi? Memangnya ada dua Stevie di kelas ini?”

Lelaki berkulit hitam itu pun berkata ragu-ragu, “Tapi apakah Ibu Guru tidak sadar kalau aku ini anak buta?”

Sang Guru tersenyum. Sangat manis. Ia pun mendekati Stevie, mengusap kepalanya lalu bertutur,

“Nak, Ibu tahu engkau tak bisa melihat. Namun kelemahan itu telah Tuhan ganti dengan kelebihan lain. Kau tahu? Telingamu sangat peka. Maka, gunakan baik-baik potensi itu.”

Stevie hampir menangis mendengar ucapan sang guru. Itulah pertama kalinya ia merasa sangat dihargai orang lain.

Ia mengalami kebutaan beberapa saat setelah lahir prematur. Stevie tumbuh dengan bully-an dari teman-teman. Sang Ibu sampai capek menceramahi teman-teman Stevie agar tidak mengolok-olok fisik anaknya. Stevie tumbuh jadi pribadi pemalu, tertutup dan tak percaya diri.

Dan hari itu, Stevie mendapat energi semangat lewat ucapan sang guru. Bahwa ia istimewa. Punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Sejak saat itulah Stevie mulai mengembangkan bakat pendengarannya.

Ya, Stevie yang sedang keceritakan ini adalah Stevie Morris. Tapi dunia hiburan internasional lebih mengenalnya dengan nama Stevie Wonder. Seorang penyanyi, penulis lagu, produser rekaman sukses di Amerika.

Ia telah merekam lebih dari 30 lagu hits dan memenangi 21 Grammy Award, sebuah rekor untuk penyanyi solo. Stevie Wonder juga memenangkan piala Oscar untuk lagu terbaik serta masuk ke ‘Rock and Roll dan Songwriter Halls of Fame’.

Kini, bertahun-tahun kemudian, Stevie mengatakan bahwa penghargaan dari sang guru di dalam kelas itulah yang menjadi titik awal dari kehidupan barunya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik kita renungkan bersama,

“Jika kau seorang guru, berikan penghargaan yang tulus pada muridmu. Pujilah usaha mereka menyelesaikan tugas darimu. Apa pun hasilnya.

Atau bila kau seorang atasan, berikan penghargaan yang murni pada karyawan. Puji kerja keras mereka membantu perusahaanmu. Setelah itu, duduk dan tunggulah. Karena tak lama lagi mereka akan memberimu hasil dan keuntungan yang tak pernah engkau duga sebelumnya.”

Fitrah Ilhami