Fitnah

3 Mar

Seorang murid meminta maaf kepada gurunya yang telah difitnahnya.

Mendengar hal itu, sang guru hanya tersenyum sambil bertanya, “Apa kamu serius?”

“Saya serius, guru” jawab sang murid.

Guru itu terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng (pembersih dari kumpulan bulu ayam)?”

“Ya guru, saya punya. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

“Berjalanlah berkeliling di jalan sambil mencabuti bulu-bulu kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.”

Esoknya, sang murid menemui guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun.

“Guru… bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga kilo sambil mengingat semua perkataan buruk saya tentang guru. Maafkan saya, guru….”

Sang guru terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang tadi kamu lalui.

Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu.

Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.”

Sepanjang perjalanan pulang, sang murid berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang dia lepaskan di sepanjang jalan.

Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu.

Bulu-bulu itu tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan Atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui.

Sang murid terus berjalan berjam-jam, dengan pakaian yang dibasahi keringat.

Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan.

Hari berikutnya, sang murid menemui sang guru dengan wajah yang murung.

“Guru, hanya ini yang berhasil saya temukan.” ucapnya.

Disodorkannya lima bulu kemoceng ke hadapan sang guru.

“Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata sang guru.

“Apa yang telah aku pelajari, guru?” tanyanya.

“Tentang fitnah itu,” jawab sang guru.

“Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah yang kamu sebarkan.

Mereka dibawa angin ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak bisa kamu duga

itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya.

Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya.

Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi.

Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Itulah sebabnya kenapa fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Renungkanlah…

Iklan

Hati yang Bening

2 Mar

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia adalah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendoakannya agar diberkahi”.

Sebagian lagi berkata, “Setiap kali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, keturunan yang baik), saya mendoakan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’”.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiap kali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga mereka disatukan hatinya di dalam ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiap kali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, ku do’akan dia agar mendapat hidayah dan bertaubat pada-Nya”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiap hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Rabb-ku, siapa pun dari kaum muslimin yang berbuat zalim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya. Oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.

Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu.

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.

Suatu malam, Al Hasan Al Bashri berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang menzalimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d (Al Hasan Al Bashri), sungguh malam ini aku mendengar engkau berdoa untuk kebaikan orang yang menzalimimu sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang menzalimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya?”

Beliau menjawab: “Firman Allah:

ﻓَﻤَﻦْ ﻋَﻔَﺎ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺢَ ﻓَﺄَﺟْﺮُﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪ

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah’”. (QS. Asy-Syuuro: 40)

Sungguh, itulah hati yang dijadikan shalih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka.

Janganlah engkau bersedih bila kebaikanmu tidak dipedulikan orang. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.

Apa pun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah.
Sebaliknya, apa pun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu.

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya.

Semoga Allah menjadikan hari-harimu bahagia dengan segala kebaikan dan keberkahan.

Rezeki Itu Ada di Langit, Bukan di Bumi

1 Mar

Saya punya sate langganan di kawasan Condet, Jakarta Timur. Ini sate paling enak di Jakarta menurut saya. Susah cari lawannya! Dagingnya empuk, dan wanginya emh…. bikin siapa pun ketagihan.

Anehnya, warung sate ini bukanya suka-suka. Tidak ada jam buka dan kadang-kadang libur mendadak, tanpa pemberitahuan. Seperti orang yang tidak butuh pelanggan. Kita harus telepon dulu kalau mau ke sana. Beberapa kali saya nekad datang ke sana tanpa telepon dulu ternyata warungnya tutup.

Saya tanya: “Kenapa cara jualannya seperti itu Pak Haji?”

Pak Haji Ramli penjual sate kondang itu menjawab dengan enteng: “Rezeki sudah ada yang ngatur, kenapa harus ngoyo? Kita kan hanya disuruh usaha, soal hasil itu urusan Allah, bukan urusan kita!”

“Bukan ngoyo Pak Haji!” jawab saya. “Bapak bisa kehilangan pelanggan kalo jualannya begitu!”

Pak Haji tersenyum mendengar komentar saya.

“Kayak situ yang ngatur rezeki aja!”Kata Pak Haji sambil senyum.

“Jangan pernah takut kehilangan rezeki…Rezeki itu kita cari bukan jumlahnya, tapi yang paling penting harus halal biar berkah!

Kalau Anda selalu mencari rezeki yang halal, makin banyak orang yang akan menikmati keberkahannya. Istri Anda, anak Anda, dan orang-orang terdekat, akan menikmati keberkahan dari rejeki Anda. Allah makin sayang sama Anda.

Coba lihat, berapa banyak orang kaya, tapi gak bisa menikmati kekayaannya?” Kata Pak Haji dengan penuh yakin.

“Tapi Pak Haji, kan gak ada salahnya juga kalau Bapak buka tiap hari! Malah kalau bisa malam juga buka karena banyak orang suka makan sate malam juga Pak!” Sergah saya, balik meyakinkan Pak Haji.

“Warung sate Bapak bisa makin rame dan makin besar!” kata saya lagi.

Pak Haji Ramli menghela napasnya agak dalam.

“Hai anak muda, Rezeki itu ada di langit bukan di bumi!”

“Anda muslim kan?” Tanya Pak Haji Ramli sambil menatap tajam wajah saya.

“Suka ngaji gak?” tanyanya.

“Coba baca, apa kata Qur’an?” lanjutnya.

“Cari nafkah itu siang bukan malam! Malam itu untuk istirahat, bukan untuk bekerja!” Kata Pak haji balas meyakinkan.

“Saya cuma mau jualan siang, kalau malam biarlah itu rezekinya tukang sate yang jualannya malam. Kalau saya lagi gak mau buka karena ada pengajian, yang penting ngaji. Biarlah orang makan yang lain, gak harus makan sate saya!”

“Dari jualan sate siang saja saya sudah merasa cukup dan bersyukur, kenapa harus buka sampe malam?” Pak Haji nyerocos sambil membakar sate.

“Pak Haji, kalau banyak ngaji berarti banyak liburnya dong?” Tanya saya lagi.

“Ya biar aja! Islam nyuruh saya ngaji tiap hari, tidak nyuruh saya jualan tiap hari!” ujarnya.

“Nih bunyinya begini kata Allah: Makin banyak waktumu engkau habiskan untuk mempelajari Al Qur’an, urusan duniamu Aku yang urus! Mau apa lagi?” Bantah Pak Haji.

“Coba liat orang-orang yang kelihatanya kaya itu. Pake mobil mewah, rumahnya mewah. Tanya mereka, emang hidupnya enak?” Pasti lebih enak hidup saya karena saya gak dikejar target, gak dikejar utang!

Saya 2 minggu sekali pulang ke Tegal, mancing, naik sepeda lewat sawah-sawah lewat kampung-kampung, bergaul dengan manusia-manusia yang menyapa dengan tulus.Tak seperti orang kota yang hanya menyapa kalau ada maunya!”, jelas Pak Haji.

“Biarpun saya naik sepeda, tapi batin saya jauh lebih enak daripada naik Jaguar!”

“Saya bisa menikmati angin yang asli, bukan AC. Bisa denger kodok, jangkrik, dan binatang-binatang lainnya, lebih nyaman di kuping daripada dengerin musik di dalam mobil!”

“Coba Anda pikir, buat apa kita ngoyo bekerja siang-malam?” tanyanya.

“Jangan-jangan kita muda kerja keras ngumpulin uang, sudah tua uangnya dipake ngobatin penyakit kita sendiri karena terlalu kerja keras waktu muda. Itu banyak terjadi kan?

Dan… jangan lupa, Tuhan sudah menakar rezeki kita! Jadi buat apa kita nguber rezeki sampe malam? Rezeki gak bakal ketuker!! Yang kerja siang ada bagiannya, begitu juga yang kerja malam!”

“Kalau kata peribahasa, waktu itu adalah uang. Tapi jangan diterjemahkan tiap waktu untuk cari uang!”

“Waktu itu adalah uang, artinya kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang. Uang bisa dicari lagi! Waktu lebih berharga dari uang. Makanya saya lebih memilih waktu daripada uang!”

“Waktu saya ngobrol dengan Anda ini jauh lebih berharga daripada saya bikin sate. Kalau saya cuma bikin sate, di mata Anda, saya hanya akan dikenang sebagai tukang sate.

Tapi dengan ngobrol begini semoga saya bisa dikenang bukan cuma tukang sate, mungkin saya bisa dikenang sebagai orang yang punya arti dalam hidup Anda sebagai pelanggan saya.

Kita bisa bersahabat! Waktu saya jadi berguna juga buat saya. Begitu juga buat Anda.”

“Kalau Anda merasa ngobrol dengan saya ini sia-sia, jangan lupa ya…Rezeki bukan ada di kantor Anda, tapi di langit! Coba buka Qur’an, itu kata Allah bukan kata saya. Gak mungkin kan Allah bohong?” Begitu kata Pak Haji Ramli menutup pembicaraan.

Semoga bermanfaat.

Lembaran yang Hilang

28 Feb

Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran sejarah.

“Nak, siapakah Barack Obama itu?”

“Penjual es krim, pak.”

Guru tersebut terkejut mendengar jawabannya.

Ia bertanya sekali lagi, si murid tetap memberi jawaban yang sama.

Ia kembali mengulang, “Nak, bukankah biografi Barack Obama ada di buku paket. Apa kamu sudah membacanya?”

“Sudah, pak. Barack Obama adalah penjual es krim!”

Sang guru semakin emosi mendengar jawaban seperti itu.

Ia perintahkan si murid mengeluarkan buku paket miliknya, dan membuka halaman tentang Obama.

Pada buku si murid, biografi Obama hanya ada satu halaman.

Kisah hidup Obama berhenti pada saat masih remaja, di usia 16 tahun ia memperoleh pekerjaan sebagai pelayan kedai es krim di kota Honolulu, negara bagian Hawaii.

Guru tersebut menyadari ternyata pada buku si murid, lembaran kedua hilang.

Mungkin tersobek tidak sengaja, atau bisa jadi salah cetak. Pantas ia tidak tahu kelanjutan sejarah hidup Obama hingga menduduki kursi presiden ke-44 di Amerika.

Guru tersebut benar, ketika ia menganggap bahwa Barack Obama adalah presiden. Karena kenyataannya memang demikian.

Tetapi muridnya juga benar karena sejauh yang ia baca, Obama adalah penjual es krim.

Jadi dalam cerita tersebut keduanya sama-sama benar.

Lalu mengapa terjadi perselisihan?

Karena sang guru tidak menyadari bahwa ada lembaran yang hilang. Begitu ia tahu, akhirnya ia memaklumi jawaban murid tersebut.

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita sejatinya juga serupa dengan kisah ini.

Hampir semua perbedaan pendapat antara dua orang, sebenarnya hanya disebabkan karena adanya “lembaran yang hilang”, adanya perbedaan pengetahuan & pemahaman.

Saat seorang suami berselisih dengan istrinya, redamlah dulu emosi. Sebab yang perlu kita cari tahu adalah di mana “lembaran yang hilang” itu.

Ketika orang tua berseberangan dengan anaknya, carilah dulu “lembaran yang hilang” tersebut. Bukan langsung melampiaskan kemarahan kepada anak.

Karena dalam perbedaan pendapat bukan selalu berarti ada yang benar dan ada yang salah.

Bisa jadi kedua pendapat benar. Namun menjadi berbeda, karena ada “lembaran yang hilang” di antara keduanya.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shad : 26)

Kisah Istri yang Minta Cerai

27 Feb

Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan ustadz Nasrullah.

+ Pak Nas, saya sudah ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja.

-: Emangnya kenapa bu?

+ Ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.

-: Oh gitu, cuma itu aja?

+ Sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.

-: Oooh… iya… mau tahu pandangan saya ga bu?

+ Boleh pak Nas.

-: Gini… ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik…

Nah… itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apa pun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas.

+ Mmm… trus apa hubungannya sama suami saya?

-: Ya… ibu berharap banget suami ibu jalankan fungsi yang sekunder, bahkan tersier barangkali. Tapi fungsi primernya ga dipakai.

+ Saya ga berharap lebih koq pak Nas. Saya cuma pengen dia nafkahi keluarga dengan baik. Saya cuma pengen dia jadi pemimpin yang baik.

-: lya… itu mah cuma fungsi sampingan dari suami. Sayang atuh suami cuma diharapkan jadi begitu aja. Fungsi primernya yang paling utama malah ga ibu harapkan dan kejar.

+ Mmm… Emang apa fungsi primernya seorang suami?

-: Fungsi primer suami ibu itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa-dosa ibu di neraka.

Saat ibu dapat ridho dari suami, maka… semua dosa-dosa ibu langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami ibu.

Jadi, seorang suami duduk diem aja, itu sangat manfaat untuk ibu, tinggal ibu aja gunakan fungsinya dgn maksimal.

Lakukan apa pun yang terbaik yang ibu bisa lakukan untuk dapatkan ridho suami.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan :

Yang artinya : “Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga”

Selebihnya, itu cuma fungsi-fungsi sekunder dari suami. Kejar dulu yang utama ini.

Suami ga kerja ya ga apa-apa… yang penting sudah jadi suami ibu. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi neraka.

Kalau cerai, nanti ibu langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa-dosa ibu ga ada yang menghapusnya, kecuali amalan ibu sangat spesial dan udah ga ada dosa sama sekali.

Ibu tinggal cari ridhonya suami. Kalau mmg ibu yang cari nafkah ya gapapa. Semua harta yg ibu berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim.

+ Koq bisa lebih mulia dari anak yatim?

-: Ya krn anak yatim ini bukan bagian dari hidup ibu. Memberikannya adalah sedekah yg hukumnya sunnah. Sementara suami, sdh terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari ibu.

Silakan dibagi sedekah untuk orang lain dengan sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yang lebih utama.

+ Tapi… kalau suami zalim bgm? Bahkan KDRT ke keluarga?

-: Ya gapapa juga… tetap pertahankan. Krn semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat KDRT yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya.

Sementara… Ibu fokus aja terus cari ridhonya suami.

Pernah dengar? Istrinya Fir’aun masuk syurga? Apa kurangnya coba Fir’aun melakukan KDRT? Bukan hanya ke sang istri, Fir’aun bahkan tega membunuh bayi-bayi.

Ke istrinya Asiyah, Fir’aun menyiksanya dan bahkan membunuhnya. Doa terakhir Asiyah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.

Dia tidak meminta Fir’aun diadzab. Dia hanya meminta imbalan atas kesabarannya, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim” (QS. 66:11)

+ Ya Allah… pak Nas… teima kasih atas diskusinya. Lalu apa yang harus saya lakukan?

-: lbu mau ikuti games dari saya?

+ Apa itu Pak Nas?

-: Lakukan ini selama 7 hari saja… setiap malam, tanyakan ke suami, “Abang, berapa persen ridhonya abang sama aku hari ini?”

Kalau dia jawab 95%… jangan tidur. Lakukan apapun untuk membuatnya menjawab sampai 100%. Mungkin dipijitin, mungkin dibuatkan makanan, teh, hidangkan buah, apapun… sampai dia mau jawab 100%. Baru setelah dia jawab “iya, aku ridho sama kamu 100%” nah silakan tidur.

Lakukan selama 7 hari dan rasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang akan ibu dapatkan.

+ Siap pak Nas.

-: Semoga Allah muliakan ibu dan suami.

+ Aaaamiin ya Rabb… terima kasih pak Nas…

BARU 5 HARI BERLALU

+ Pak Nas…. ya Allah… teeima kasih banyak… saya ga tahu mau ngomong apa sama pak Nas… teeima.kasih sudah mengubah hidup saya… hanya Allah yang bisa memuliakan pak Nas dan keluarga.

-: Alhamdulillah… gimana, gamesnya dijalankan?

+ Iya pak Nas… dan saya rasakan saya lebih bahagia sekarang. Ini suami juga sudah mulai inisiatif cari kerjaan… walaupun belum dapat, saya sudah cukup bahagia pak Nas, dia mau bantuin saya nganter ke mana2…. ya Allah… enak banget pak Nas.

-: Alhamdulillah…

+ Saya mau terusin gamesnya, ga 7 hari… mau selama-lamanya boleh pak Nas?

-: Buoleh banget… lakukan sampai salah satu dari ibu atau suami, dijemput malaikat dengan husnul khotimah.

+ Huhuhu… makasiiiiih pak Naas…

-: Sama-sama.

Semoga bermanfaat.

Keajaiban Sebuah Penghargaan

26 Feb

Jangan remehkan sekecil apa pun bentuk perhatian terhadap orang lain. Sebab, sentuhan ringan di bahu seorang kawan yang putus asa ternyata mampu membuatnya urung melompat ke jurang.

Aku belum lupa kata-kata ini. Kata-kata yang ketemui di sebuah buku Chicken Soup for The Soul saat masih SMA dulu. Maknanya sangat kuat. Menghujam dalam ke dasar memori. Bahwa sebuah perhatian dan penghargaan yang tulus bisa mengubah kehidupan seseorang.

Adalah Andrew Carnegie yang berani membayar jasa seorang Charles Schwab dengan gaji satu juta dollar atau 14 miliar rupiah per tahun untuk menjadi presiden direktur United Steel Company, di AS.

Saat ditanya apakah Schwab orang jenius, hingga harus digaji sangat besar? Atau Schwab lebih mengerti tentang jenis baja daripada yang lain? Andrew Carnegie menggeleng,

“Bukan. Bukan karena itu. IQ Schwab biasa saja. Dia juga tidak lebih tahu tentang baja daripada staf lain. Hanya saja, aku melihat Schwab memiliki kemampuan membangkitkan antusiasme kerja karyawan. Ia juga mampu mengembangkan potensi terbaik pada diri bawahan.”

Perusahaan itu nantinya benar-benar menjadi salah satu perusahaan baja sukses di Amerika.

Kelak, Charles Schwab diwawancarai wartawan. Mengenai apa rahasia suksesnya menjadi pimpinan perusahaan? Ia pun menjawab,

“Tak ada hal lain yang sangat mematikan hasrat ingin maju seseorang kecuali kritikan dari atasan. Maka saya selalu membiasakan diri untuk memuji kinerja karyawan, jika ada yang salah kita selesaikan bersama.

Ketika sebuah proyek telah diselesaikan, saya tak akan pulang ke rumah sebelum memberi ucapan terima kasih karyawan, menjabat tangan mereka satu per satu sebagai wujud penghargaan atas kerja keras mereka.”

Ah, aku jadi teringat pada satu kisah…

Kisah ini terjadi di Detroit, AS. Beberapa dekade silam. Ketika itu, seorang guru melihat seekor tikus masuk ke dalam kelas. Ia pun berucap pada salah satu muridnya yang duduk di bangku paling ujung,

“Stevie, tolong bantu Ibu menangkap tikus itu.”

Mendengar permintaan sang guru, Stevie kecil seketika terhenyak. Tak percaya ucapan itu ditujukan padanya. Tapi tidak ada murid lain yang bernama Stevie selain dirinya di kelas itu. Maka ia ingin memastikan,

“Bu,” jawab Stevie, “Apakah Ibu menyuruhku?”

“Ya. Siapa lagi? Memangnya ada dua Stevie di kelas ini?”

Lelaki berkulit hitam itu pun berkata ragu-ragu, “Tapi apakah Ibu Guru tidak sadar kalau aku ini anak buta?”

Sang Guru tersenyum. Sangat manis. Ia pun mendekati Stevie, mengusap kepalanya lalu bertutur,

“Nak, Ibu tahu engkau tak bisa melihat. Namun kelemahan itu telah Tuhan ganti dengan kelebihan lain. Kau tahu? Telingamu sangat peka. Maka, gunakan baik-baik potensi itu.”

Stevie hampir menangis mendengar ucapan sang guru. Itulah pertama kalinya ia merasa sangat dihargai orang lain.

Ia mengalami kebutaan beberapa saat setelah lahir prematur. Stevie tumbuh dengan bully-an dari teman-teman. Sang Ibu sampai capek menceramahi teman-teman Stevie agar tidak mengolok-olok fisik anaknya. Stevie tumbuh jadi pribadi pemalu, tertutup dan tak percaya diri.

Dan hari itu, Stevie mendapat energi semangat lewat ucapan sang guru. Bahwa ia istimewa. Punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Sejak saat itulah Stevie mulai mengembangkan bakat pendengarannya.

Ya, Stevie yang sedang keceritakan ini adalah Stevie Morris. Tapi dunia hiburan internasional lebih mengenalnya dengan nama Stevie Wonder. Seorang penyanyi, penulis lagu, produser rekaman sukses di Amerika.

Ia telah merekam lebih dari 30 lagu hits dan memenangi 21 Grammy Award, sebuah rekor untuk penyanyi solo. Stevie Wonder juga memenangkan piala Oscar untuk lagu terbaik serta masuk ke ‘Rock and Roll dan Songwriter Halls of Fame’.

Kini, bertahun-tahun kemudian, Stevie mengatakan bahwa penghargaan dari sang guru di dalam kelas itulah yang menjadi titik awal dari kehidupan barunya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik kita renungkan bersama,

“Jika kau seorang guru, berikan penghargaan yang tulus pada muridmu. Pujilah usaha mereka menyelesaikan tugas darimu. Apa pun hasilnya.

Atau bila kau seorang atasan, berikan penghargaan yang murni pada karyawan. Puji kerja keras mereka membantu perusahaanmu. Setelah itu, duduk dan tunggulah. Karena tak lama lagi mereka akan memberimu hasil dan keuntungan yang tak pernah engkau duga sebelumnya.”

Fitrah Ilhami

Taubat

25 Feb

Beberapa bulan lalu saya ketemu dengan seorang pebisnis hebat, Pak Lukman Drajat namanya.

Dulu, dia pebisnis besar, omzetnya ratusan miliar setahun. Malah menjadi salah satu pengusaha paling kaya di Riau, katanya.

5 tahun lalu bisnisnya hancur karena salah urus. Tapi Pak Lukman malah bersyukur. Dia bilang: “Karena bisnis saya hancur, jadi banyak yang berubah di diri saya. Saya merasa lebih baik, paling tidak menurut saya..

Dulu, saya shalat cuma seminggu sekali, Jumatan doang. Itupun kalo gak tabrakan dengan rapat penting. Sekarang alhamdulillah, bukan cuma shalat wajib, tiap malam saya berusaha untuk tidak meninggalkan shalat tahajud.

“Dulu, boro-boro shalat tahajud, shalat magrib aja gak ngerti kalo jumlahnya 3 rakaat.”

Pernah terjadi peristiwa sangat memalukan, saya ketinggalan shalat magrib 1 rakaat. Waktu imamnya salam, saya ikut salam.

Lalu sebelah saya mengingatkan: “Maaf Pak, Bapak kurang 1 rakaat!”

Dengan enteng saya menjawab: “Iya, nanti saya terusin di rumah!”

Duh, kalau ingat peristiwa itu, kadang saya ketawa sendiri, malu sama orang sekompleks! Kadang saya nangis, malu sama Allah!”

“Dulu saya ketemu anak-istri 2-3 hari sekali, kadang seminggu sekali, malah pernah beberapa kali ketemunya cuma sebulan sekali. Sekarang saya selalu shalat berjamaah bersama anak istri di masjid terdekat.

Saya tidak ngoyo lagi cari uang, karena saya ngerti sekarang, dunia akan saya tinggalkan pada akhirnya.”

“Dulu saya ngejar-ngejar bisnis yang lebih besar dan lebih besar lagi. Tapi setelah saya kejar, ternyata semua hanya fatamorgana. Makin dapat yang lebih besar, saya malah makin haus, haus dan haus, nggak ada ujungnya.

Sekarang saya hidup sederhana, tapi merasa, lebih tenang, lebih nyaman, tak berurusan dengan utang lagi.”

“Dulu, saya hidup bersama harta dan bisnis saya. Sekarang, saya sedang belajar hidup bersama Allah, Tuhan saya.”

Pelan-pelan saya mulai belajar Quran. Saya sering baca-baca terjemahan Al Quran. Saya cari orang seperti apa yang paling dicintai Allah menurut Al Quran?

“Waduh, ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang taqwa, padahal saya jauh dari seperti itu.”

“Lalu saya coba cari lagi orang seperti apa yang sangat dicintai Allah berikutnya. Ternyata, saya menemukan orang yang berjihad di jalan Allah. Wah, boro-boro berjihad, puasa senin-kamis aja kadang saya berat.

Saya cari lagi, ternyata ketemunya orang sabar. Ini kayak yang gampang tapi setelah saya jalani seminggu saja ternyata jadi orang sabar itu sulitnya setengah mati!

Sampai akhirnya saya ketemu bahwa Allah sangat mencintai orang-orang kaya tapi yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.”

“Lha, coba saya tahunya sebelum bangkrut! Pasti sudah saya infakkan! Sekarang ketika semuanya sudah habis, saya hanya bisa berinfak sekedarnya saja. Coba dulu waktu usaha saya sedang maju….Tapi bener juga kata orang ya, menyesal datangnya selalu belakangan.”

Pak Lukman terus mencari dan mencari sampai akhirnya dia menemukan bahwa Allah sangat mencintai orang-orang yang bertobat. Duarrr!!!

“Rasanya ini yang cocok buat saya”, bisik Pak Lukman dalam hatinya.

Dia merasa sangat banyak dosa, terutama saat dia menjalankan bisnisnya.

Tiap malam dia mengingat-ngingat siapa saja yang pernah dicuranginya saat berbisnis dulu. Siangnya dia cari orang tersebut sampai ketemu. Begitu terus setiap hari.

Dia cari nama-nama kolega bisnisnya di hp-nya satu demi satu sambil mengingat apa kesalahan dia kepada orang-orang tersebut.

Dia pikir: “Percuma saya bertaubat kalau orang-orang yang pernah saya curangi dan saya dzolimi tidak saya mintakan maafnya.”

Malamnya Pak Lukman tak pernah lupa memohon ampun, bersujud sambil terus mencari nama orang-orang yang pernah dia sakiti dan dia rugikan. Begitulah caranya dia bertaubat.

“Semoga dengan usaha saya ini, saya jadi orang yang dicintai Allah.” Begitu kata pak Lukman.

Setelah Pak Lukman bertaubat dan meminta maaf kepada teman-teman bisnisnya, dia benar-benar merasa lega.

Teman-teman bisnisnya yang dulu hampir semuanya senang didatangi Pak Lukman. Mereka semua sudah melupakan masa lalu Pak Lukman.

Ada satu teman bisnis Pak Lukman yang bisnisnya sedang melejit, Pak Rudi Wor namanya.

Ketika didatangi, dia senang luar biasa. Dan yang mengejutkan. Pak Rudi Wor malah meminta Pak Lukman kembali terjun ke bisnis.

“Pak Lukman, ingat kata nabi, sebaik-baiknya ummatku adalah orang yang berguna buat orang banyak!

Kalau kau bertaubat dan hidup di masjid terus, ibadah terus, itu namanya kau merencanakan jalan ke surga gak ngajak-ngajak teman! Ajak aku Pak! Aku rela masuk surga biarpun harus lewat pintu belakang.

Ayo kita bisnis lagi. Sebagian keuntungannya buat bangun masjid, bangun pesantren dan membantu orang-orang yang seharusnya kita bantu!

“Masih banyak saudara kita yang harus kau tolong! Anak-anak yatim yang terpaksa putus sekolah, janda-janda jompo, orang-orang duafa yang tak berdaya, semua menunggu uluran tanganmu.

Bayangkan kalau bisnismu maju! Berapa masjid yang bisa kau bangun? Berapa banyak anak yatim yang akan terselamatkan hidupnya, terselamatkan sekolahnya? Jalan ke surgamu pasti jauh lebih bagus. Allah akan ridho membangun rumah khusus buatmu di surga nanti, Pak Lukman!”

Pikiran Pak Lukman mulai goyah. “Semua yang diomongin Rudi gak ada yang salah. Aku harus berguna buat banyak orang. Kenapa aku egois, kenapa aku menjadi orang yang mengasingkan diri?”

Takdir tak bisa ditolak. Kehadiran Pak Lukman memang seperti ditunggu Pak Rudi.

Tak lama setelah Pak Lukman membangun bisnisnya atas bantuan Pak Rudi, Pak Rudi kena serangan jantung dan tak tertolong. Pak Rudi kembali ke pangkuan Allah.

“Ya Allah, Rudi…engkau seperti sengaja menungguku datang untuk menerima amanatmu. Habis itu kau pergi selamanya.

Semoga engkau menjadi teladanku. Semoga engkau masuk surga lewat pintu terbaik pilihanmu, tidak lewat pintu belakang…” Demikian bisikan Pak Lukman di ujung doanya.

Pak Lukman menggantikan Pak Rudi di perusahaannya atas surat wasiat yang ditulis Pak Rudi.

Bisnisnya semakin besar. Dan seperti amanatnya Pak Rudi sebagian dari keuntungan perusahaannya dipakai untuk membangun masjid, pesantren, membiayai anak-anak yatim, fakir miskin, dan kaum dhuafa.

“Aku baru sadar sekarang, kenapa dulu usahaku bangkrut. Kenapa bisnisku besar tapi susah terus. Rupanya ada hak fakir miskin, hak yatim dan hak orang-orang jompo tak berdaya yang aku makan!”

“Makanan tidak halal itu mengalir deras dalam tubuhku, hingga Allah tidak ridho dengan apa pun usahaku. Ini mungkin yang sering disebut orang tidak berkah.

Sepanjang perjalanan bisnisku tak ada keberkahan di dalamnya, karena banyak hak orang lain yang aku makan,” ujar Pak Lukman matanya berkaca-kaca.

Ndang Sutisna