Taubat

25 Feb

Beberapa bulan lalu saya ketemu dengan seorang pebisnis hebat, Pak Lukman Drajat namanya.

Dulu, dia pebisnis besar, omzetnya ratusan miliar setahun. Malah menjadi salah satu pengusaha paling kaya di Riau, katanya.

5 tahun lalu bisnisnya hancur karena salah urus. Tapi Pak Lukman malah bersyukur. Dia bilang: “Karena bisnis saya hancur, jadi banyak yang berubah di diri saya. Saya merasa lebih baik, paling tidak menurut saya..

Dulu, saya shalat cuma seminggu sekali, Jumatan doang. Itupun kalo gak tabrakan dengan rapat penting. Sekarang alhamdulillah, bukan cuma shalat wajib, tiap malam saya berusaha untuk tidak meninggalkan shalat tahajud.

“Dulu, boro-boro shalat tahajud, shalat magrib aja gak ngerti kalo jumlahnya 3 rakaat.”

Pernah terjadi peristiwa sangat memalukan, saya ketinggalan shalat magrib 1 rakaat. Waktu imamnya salam, saya ikut salam.

Lalu sebelah saya mengingatkan: “Maaf Pak, Bapak kurang 1 rakaat!”

Dengan enteng saya menjawab: “Iya, nanti saya terusin di rumah!”

Duh, kalau ingat peristiwa itu, kadang saya ketawa sendiri, malu sama orang sekompleks! Kadang saya nangis, malu sama Allah!”

“Dulu saya ketemu anak-istri 2-3 hari sekali, kadang seminggu sekali, malah pernah beberapa kali ketemunya cuma sebulan sekali. Sekarang saya selalu shalat berjamaah bersama anak istri di masjid terdekat.

Saya tidak ngoyo lagi cari uang, karena saya ngerti sekarang, dunia akan saya tinggalkan pada akhirnya.”

“Dulu saya ngejar-ngejar bisnis yang lebih besar dan lebih besar lagi. Tapi setelah saya kejar, ternyata semua hanya fatamorgana. Makin dapat yang lebih besar, saya malah makin haus, haus dan haus, nggak ada ujungnya.

Sekarang saya hidup sederhana, tapi merasa, lebih tenang, lebih nyaman, tak berurusan dengan utang lagi.”

“Dulu, saya hidup bersama harta dan bisnis saya. Sekarang, saya sedang belajar hidup bersama Allah, Tuhan saya.”

Pelan-pelan saya mulai belajar Quran. Saya sering baca-baca terjemahan Al Quran. Saya cari orang seperti apa yang paling dicintai Allah menurut Al Quran?

“Waduh, ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang taqwa, padahal saya jauh dari seperti itu.”

“Lalu saya coba cari lagi orang seperti apa yang sangat dicintai Allah berikutnya. Ternyata, saya menemukan orang yang berjihad di jalan Allah. Wah, boro-boro berjihad, puasa senin-kamis aja kadang saya berat.

Saya cari lagi, ternyata ketemunya orang sabar. Ini kayak yang gampang tapi setelah saya jalani seminggu saja ternyata jadi orang sabar itu sulitnya setengah mati!

Sampai akhirnya saya ketemu bahwa Allah sangat mencintai orang-orang kaya tapi yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.”

“Lha, coba saya tahunya sebelum bangkrut! Pasti sudah saya infakkan! Sekarang ketika semuanya sudah habis, saya hanya bisa berinfak sekedarnya saja. Coba dulu waktu usaha saya sedang maju….Tapi bener juga kata orang ya, menyesal datangnya selalu belakangan.”

Pak Lukman terus mencari dan mencari sampai akhirnya dia menemukan bahwa Allah sangat mencintai orang-orang yang bertobat. Duarrr!!!

“Rasanya ini yang cocok buat saya”, bisik Pak Lukman dalam hatinya.

Dia merasa sangat banyak dosa, terutama saat dia menjalankan bisnisnya.

Tiap malam dia mengingat-ngingat siapa saja yang pernah dicuranginya saat berbisnis dulu. Siangnya dia cari orang tersebut sampai ketemu. Begitu terus setiap hari.

Dia cari nama-nama kolega bisnisnya di hp-nya satu demi satu sambil mengingat apa kesalahan dia kepada orang-orang tersebut.

Dia pikir: “Percuma saya bertaubat kalau orang-orang yang pernah saya curangi dan saya dzolimi tidak saya mintakan maafnya.”

Malamnya Pak Lukman tak pernah lupa memohon ampun, bersujud sambil terus mencari nama orang-orang yang pernah dia sakiti dan dia rugikan. Begitulah caranya dia bertaubat.

“Semoga dengan usaha saya ini, saya jadi orang yang dicintai Allah.” Begitu kata pak Lukman.

Setelah Pak Lukman bertaubat dan meminta maaf kepada teman-teman bisnisnya, dia benar-benar merasa lega.

Teman-teman bisnisnya yang dulu hampir semuanya senang didatangi Pak Lukman. Mereka semua sudah melupakan masa lalu Pak Lukman.

Ada satu teman bisnis Pak Lukman yang bisnisnya sedang melejit, Pak Rudi Wor namanya.

Ketika didatangi, dia senang luar biasa. Dan yang mengejutkan. Pak Rudi Wor malah meminta Pak Lukman kembali terjun ke bisnis.

“Pak Lukman, ingat kata nabi, sebaik-baiknya ummatku adalah orang yang berguna buat orang banyak!

Kalau kau bertaubat dan hidup di masjid terus, ibadah terus, itu namanya kau merencanakan jalan ke surga gak ngajak-ngajak teman! Ajak aku Pak! Aku rela masuk surga biarpun harus lewat pintu belakang.

Ayo kita bisnis lagi. Sebagian keuntungannya buat bangun masjid, bangun pesantren dan membantu orang-orang yang seharusnya kita bantu!

“Masih banyak saudara kita yang harus kau tolong! Anak-anak yatim yang terpaksa putus sekolah, janda-janda jompo, orang-orang duafa yang tak berdaya, semua menunggu uluran tanganmu.

Bayangkan kalau bisnismu maju! Berapa masjid yang bisa kau bangun? Berapa banyak anak yatim yang akan terselamatkan hidupnya, terselamatkan sekolahnya? Jalan ke surgamu pasti jauh lebih bagus. Allah akan ridho membangun rumah khusus buatmu di surga nanti, Pak Lukman!”

Pikiran Pak Lukman mulai goyah. “Semua yang diomongin Rudi gak ada yang salah. Aku harus berguna buat banyak orang. Kenapa aku egois, kenapa aku menjadi orang yang mengasingkan diri?”

Takdir tak bisa ditolak. Kehadiran Pak Lukman memang seperti ditunggu Pak Rudi.

Tak lama setelah Pak Lukman membangun bisnisnya atas bantuan Pak Rudi, Pak Rudi kena serangan jantung dan tak tertolong. Pak Rudi kembali ke pangkuan Allah.

“Ya Allah, Rudi…engkau seperti sengaja menungguku datang untuk menerima amanatmu. Habis itu kau pergi selamanya.

Semoga engkau menjadi teladanku. Semoga engkau masuk surga lewat pintu terbaik pilihanmu, tidak lewat pintu belakang…” Demikian bisikan Pak Lukman di ujung doanya.

Pak Lukman menggantikan Pak Rudi di perusahaannya atas surat wasiat yang ditulis Pak Rudi.

Bisnisnya semakin besar. Dan seperti amanatnya Pak Rudi sebagian dari keuntungan perusahaannya dipakai untuk membangun masjid, pesantren, membiayai anak-anak yatim, fakir miskin, dan kaum dhuafa.

“Aku baru sadar sekarang, kenapa dulu usahaku bangkrut. Kenapa bisnisku besar tapi susah terus. Rupanya ada hak fakir miskin, hak yatim dan hak orang-orang jompo tak berdaya yang aku makan!”

“Makanan tidak halal itu mengalir deras dalam tubuhku, hingga Allah tidak ridho dengan apa pun usahaku. Ini mungkin yang sering disebut orang tidak berkah.

Sepanjang perjalanan bisnisku tak ada keberkahan di dalamnya, karena banyak hak orang lain yang aku makan,” ujar Pak Lukman matanya berkaca-kaca.

Ndang Sutisna

Iklan

Kejernihan

24 Feb

Pasangan muda yang baru menikah menempati rumah di sebuah komplek perumahan.

Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain.

“Cuciannya kelihatan kurang bersih ya,” kata sang istri. “Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus.”

Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apa pun.

Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.

Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya:

“Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya?”

Sang suami berkata, “Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita.”

Dan begitulah kehidupan.

Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya..

Jika HATI kita bersih, maka bersih pula PIKIRAN kita.

Jika PIKIRAN kita bersih, maka bersih pula PERKATAAN kita.

Jika PERKATAAN kita bersih (baik), maka bersih (baik) pula PERBUATAN kita.

Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita.

Sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa “orang benar akan bertunas seperti pohon kurma”.

Pohon kurma lazim dijumpai di kawasan Timur Tengah.

Dengan kondisi tanah yang kering, gersang, tandus dan kerap dihantam badai gurun yang dahsyat, hanya pohon kurma yang bisa bertahan hidup.

Maka, tidak berlebihan kalau pohon kurma dianggap sebagai pohon tahan banting.

Kekuatan pohon kurma ada pada akar-akarnya.

Petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu.

Mengapa biji itu harus ditutup batu? Ternyata, batu itu akan memaksa pohon kurma berjuang untuk tumbuh ke atas.

Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal.

Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan di atasnya.

“Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah.”

Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa?

Sekarang kita tahu mengapa Allah kerap mengizinkan tekanan hidup datang.

Bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, sebaliknya Allah mengizinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar semakin kuat.

Tidak sekadar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol “batu masalah” yang selama ini menekan.

Kita pun keluar menjadi pemenang kehidupan.

Allah mendesain kita seperti pohon kurma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat dan tegar menghadapi beratnya kehidupan.

Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tidak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi para pemenang kehidupan.

Nikmat Rezeki Bisa Berbagi

23 Feb

Menjelang shalat Isya, seorang wartawan duduk kelelahan di halaman sebuah masjid. Perutnya berbunyi karena keroncongan. Kepalanya clingak-clinguk mencari tukang jual makanan, tapi tak kunjung menemukannya. Dari wajahnya, tampak gurat-gurat kekecewaan.

Usut punya usut, si wartawan ini tengah kecewa berat karena gagal bertemu dengan seorang tokoh yang hendak diwawancarai.

Betapa tidak kecewa, sejak siang hari dia sudah “mengejar-ngejar” tokoh tersebut. Siang hari, mereka janji bertemu di sebuah kantor.

Beberapa saat sebelum waktu pertemuan itu berlangsung, tokoh penting ini mendadak membatalkan janji, ada acara mendadak katanya.

Militansinya sebagai seorang wartawan untuk mendapatkan berita telah membuat pria muda ini mendatangi hotel tempat si pejabat meeting.

Dua jam lamanya, dia menunggu. Namun sial, si pejabat itu keluar dari pintu samping hotel sehingga tidak sempat bertemu sang wartawan.

Tidak mau patah arang, dia segera mencari tahu di mana keberadaan pejabat itu. Dia pun mendapatkan informasi bahwa orang yang dicarinya itu sudah pulang ke rumahnya di sebuah kompleks perumahan elite.

Tanpa banyak berpikir, sang wartawan tancap gas. Dengan motornya yang sudah agak butut, dia mendatangi perumahan tersebut. Walau harus tanya sana-tanya sini, akhirnya dia bisa sampai ke rumah si pejabat.

“Aduh maaf, Mas, Bapaknya barusan pergi lagi. Ada pertemuan lagi katanya. Tapi, Bapak nggak bilang di mananya,” kata si penghuni rumah.

Lunglailah kaki si wartawan. Dia pun pergi. Berkali-kali dia coba mengontak si pejabat, tetapi berkali-kali pula ponselnya tidak diangkat. Sudah terbayang di benaknya kalau nanti malam dia akan ditegur atasannya karena tidak mampu mendapatkan berita. Perutnya yang keroncongan seakan menambah derita.

Saat duduk di masjid itulah, dia melihat seorang kakek yang baru saja menunaikan shalat maghrib. Dipandanginya kakek itu.

Tampangnya sangat tidak meyakinkan: tinggi, kurus, jambang putihnya tidak terurus, pakaiannya sangat sederhana dan sudah luntur warnanya, sandal jepitnya pun sudah butut.

Kakek itu menghampiri sebuah tanggungan kayu bakar. Lalu, mengambil topi dan duduk melepas lelah takjauh dari tempat si wartawan. Kerutan wajahnya yang hitam terbakar matahari seakan tampak makin mengerut karena kelelahan.

“Cep, peryogi suluh henteu? Peserlah suluh anu Bapa, ieu ti enjing-enjing teu acan pajeng!” kata Pak Tua kepada si wartawan. Maksudnya, dia menawarkan kayu bakar yang dibawanya karena sejak dari pagi tidak laku-laku.

“Punten Bapa, abdi di Bumi teu nganggo suluh (Maaf Bapak, saya di rumah tidak menggunakan kayu bakar),” jawabnya.

“Oh muhun, teu sawios. Mangga atuh, Bapa tipayun, (Oh iya, nggak apa-apa. Kalau begitu permisi, Bapak duluan),” ujar pak tua penjual kayu bakar itu.

Sebelum pak tua itu pergi, si wartawan segera mengambil dompet. Dilihatnya hanya ada uang sepuluh ribu, satu-satunya, plus beberapa keping uang receh. Itulah hartanya yang tersisa pada hari itu untuk makan dan membeli bensin.

Namun, semua itu dia abaikan. Dia berikan uang sepuluh ribu itu kepada pak tua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya dia menerimanya pula.

Sambil menahan tangis haru, pak tua berkata, “Hatur nuhun Kasep, tos nulungan Bapak. Mugi-mugi Gusti Alloh ngagentosan kunu langkung ageung (Terima kasih, Cakep, sudah menolong Bapak, semoga Gusti Allah menggantinya dengan yang lebih besar).”

Ternyata, bapak ini sejak pagi belum makan dan tidak punya uang untuk pulang.

Selembar sepuluh ribu telah mengubah segalanya. Dia telah sudi memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya yang tengah kesusahan, Allah pun langsung membalasnya dengan memasukkan rasa bahagia yang berlipat-lipat ke dalam hatinya.

Rasa lapar, penat, dan hati dongkol yang sebelumnya mendominasi dirinya langsung hilang sirna berganti kelapangan dan kebahagiaan.

Uang sepuluh ribu itu benar-benar memberikan kepuasan yang sensasinya sulit terlupakan. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain dari tetesan air mata bahagia.

“Terima kasih, ya Allah, engkau telah memberiku rezeki sehingga bisa berbagi,” gumamnya.

Tak lama kemudian, datanglah karunia yang kedua. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dilihatnya sebuah pesan dari atasannya kalau dia tidak perlu lagi mengejar si pejabat karena ada narasumber lain yang lebih kompeten yang siap diwawancara seorang rekannya. Dia hanya memberi penugasan untuk meliput sebuah acara syukuran di salah satu hotel berbintang.

Karunia Allah yang ketiga pun segera datang. Di sela-sela acara liputan di hotel itu, sang wartawan dipersilakan oleh panitia untuk menikmati hidangan mewah yang tersedia sepuasnya.

Menjelang pulang, dia mendapatkan sebuah doorprize dan beberapa buah bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak penyelenggara.

“Malam yang indah …,” ujarnya.

Pendidikan Terbaik Adalah Perbuatan

22 Feb

Charlie Chaplin, komedian paling terkenal tempo dulu, pernah bercerita:

“Waktu masih kecil, aku diajak oleh ayahku untuk nonton pertunjukan sirkus.

Sebelum masuk, kami antri di depan loket untuk membeli karcis. Antrian cukup panjang, dan di depan kami ada satu keluarga ikut antri. Bapak, ibu dan 4 anak.

Anak-anak itu tampak bahagia. Dari pakaian yang mereka kenakan, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang kaya. Pakaiannya sangat sederhana, meski tidak dekil.

Tiba giliran mereka harus membayar karcis. Sang bapak merogoh kantong celana, dan tampak kebingungan: uangnya tidak cukup untuk membayar 6 lembar karcis. Dia sedih dan murung, kemudian segera minggir dari antrian.

Ayahku melihatnya, dan langsung merogoh uang 20 dolar dari sakunya. Ayahku langsung menjatuhkan uang itu di samping bapak empat anak tersebut.

Ayahku menepuk pundaknya, dan berkata, “Pak, uang anda jatuh.”

Bapak itu menoleh, memandang ayahku, dan dia sadar bahwa ayahku mau membantunya supaya bisa beli 6 karcis. Matanya sembab, bibirnya tersenyum, dan dia ambil uang 20 dolar itu sambil mengucapkan terima kasih.

Ayahku pun tersenyum, lantas mundur menghampiri aku.

Aku lihat bapak itu segera beli karcis untuk keluarganya. Mereka tampak sangat bahagia.

Ayahku lantas mengajak aku pulang. Kami tidak jadi nonton pertunjukan sirkus.

Ternyata, uang ayahku hanya 20 dolar, dan sudah diberikan kepada keluarga tadi.

Dalam hidupku, itulah pemandangan yang paling menakjubkan. Pemandangan yang jauh lebih indah dibanding pertunjukan apa pun di muka bumi ini.

Sejak saat itu aku meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah tindakan, bukan kata-kata.”

It’s not about how much money you give
It’s about how much love you put in your give.

Semoga bermanfaat.

Permainan Pikiran (Teori Jeruk Nipis)

22 Mei

Saya ada sedikit percobaan
Kita bermain imajinasi.

Bayangkan ada sebuah Jeruk Nipis berwarna hijau agak ke kuning-kuningan.
Lalu Jeruk tsb anda potong jadi dua. Kemudian pegang salah satunya dan peraslah…
Sampai air tetesan nya mengucurr…

Apa yg anda rasakan..? Asam bukan..? Setiap tetesannya membuat anda menelan ludah.
Kalau imajinasi anda kuat sekarang anda sedang
Menelan air liur, saking asamnya betul?

Padahal jeruknya tidak ada…
Tapi rasa asamnya terasa hingga anda harus menelan ludah.

Jika anda merasakan kejadian serupa itulah yg disebut
TEORI JERUK NIPIS.

Bahwa tubuh manusia dirancang untuk merespon apa yg dibayangkan. Apa yg dipirkan itulah yg jadi kenyataan.

Sehingga jika kita sedang menghadapi masalah
Lalu kita berpikir yg aneh-aneh
Maka yg terjadi biasanya tubuh akan drop. Kemungkinan jatuh sakit bahkan depresi.

Padahal semua kekhawatiran itu belum tentu terjadi.
Kita sebenarnya sedang “meneteskan Jeruk nipis” di kehidupan kita. Semakin banyak tetesannya semakin berat masalahnya.

Kuncinya ada dalam pikiran.
Jika air liur saja bisa dipancing hanya dengan memikirkan sebuah jeruk. Maka sebetulnya masalahpun bisa diatasi dengan permainan pikiran.

Maaf….
Coba anda perhatikan orang yg kelainan jiwa. Secara fisik mereka sehat. Namun mereka hidup di dunia yg berbeda.

Mereka menciptakan dunianya sendiri. Jeruk Nipis yang mereka teteskan terlalu banyak sehingga muncul lawan bicara yg begitu nyata. Yang bisa diajak bicara.

Sekarang ubah Mindset anda
Jika didera masalah bertubi-tubi  anggap itu “proses pondasi”
Bahwa Tuhan hendak membangun Hotel berlantai 100.

Bayangkan sebuah proyek Hotel dengan tinggi 100 lantai.
Pondasinya pasti dalam sekali dan kuat sekali. Dan pengerjaannya pun pasti lama.

Jika pondasinya selesai dia akan mampu menopang beban
Hingga 100 lantai sekalipun…
Tuhan tidak iseng memberi kita masalah. Dia ingin kita kuat bukan ingin kita sekarat.

Maka berhati-hatilah dengan pikiran anda…Berbaik sangkalah maka kehidupan pun atas ijin Tuhan akan membaik.

Berfikir baik dan berbuat baik terhadap orang lain menjadikan kita awet muda.

Usia hanya angka….jiwa tetap semangat muda.
Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat.

Exponential Leader

19 Mei

Anda tahu siapa yang menemukan kamera digital? Namanya Steven Sasson, salah satu karyawan Kodak, perusahaan fotografi global saat itu.

Ketika, Sasson mempresentasikan temuannya, para petinggi Kodak berkata “Teknologi cetak telah hidup bersama kami selama lebih dari 100 tahun, tak ada siapa pun yang mengeluh tentang cetak. Selain itu, cetak juga murah.”

Temuan Sasson tidak mendapat tempat bahkan cenderung dilecehkan oleh para pemimpin Kodak.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 2012, Kodak dinyatakan bangkrut. Dunia fotografi film yang dibanggakan Kodak akhirnya mati, digantikan fotografi digital yang kemudian dikuasai Nikon dan Canon.

Ironisnya, Kodaklah yang menemukan kamera digital tetapi ia bangkrut karena perkembangan kamera digital. Sang penemu dikubur oleh hasil temuannya sendiri. 

Mengapa Kodak bangkrut? Salah satu sebabnya karena kesombongan para pemimpinnya. Mereka terlalu bangga dengan pencapaiannya. Mereka enggan melakukan perubahan.

Mereka kurang mengapresiasi temuan anggota timnya. Mereka kurang menyadari bahwa perubahan yang terjadi semakin cepat, bahkan cenderung eksponensial. 

Di era yang berubah begitu cepat dan terkadang tak terduga disertai VUCA (volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity) diperlukan pemimpin model baru. Kami menyebutnya EXPONENTIAL LEADER.

Seorang pemimpin yang mampu membawa tim yang dipimpinnya melakukan lompatan perubahan di pekerjaannya. Tanpa lompatan, bersiaplah perusahaan atau tim yang Anda pimpin hanya akan menjadi kenangan yang menyedihkan, terkubur, terlindas zaman.

Jangan bayangkan bahwa lompatan pastilah sesuatu yang besar, tidak harus. Ia bisa berupa sesuatu yang sederhana tetapi berdampak besar.

Contohnya, saya pernah berdiskusi dengan seorang pemimpin dari salah satu perusahaan otomotif. Lelaki itu berkata “Mas, tim saya sudah saya iming-imingi bonus dan komisi besar bila mencapai target, tetapi kenapa prestasinya stagnan?”

Setelah kami berdiskusi, sang pemimpin memutuskan mengubah cara memotivasinya, bukan dengan iming-iming bonus dan komisi, tetapi lebih menekankan value dari mobil yang dijual.

Ia sampaikan kepada anggota tim yang sebagian besar generasi milineal bahwa mobil yang dijual ramah lingkungan, menyelamatkan bumi dan sejenisnya. Ia pun menyediakan waktu dan energi secara total bagi anggota timnya.

Dan Anda tahu dampaknya? Penjualan mobil oleh tim tersebut mengalami lompatan hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu empat bulan. Padahal di saat yang sama, tren penjualan otomotif oleh tim lain sedang menurun.

Pemimpin model ini, bisa dikatakan sebagai EXPONENTIAL LEADER karena ia melakukan lompatan disertai mendapat dukungan penuh dari anggota timnya.

Setiap era memerlukan jenis pemimpin atau model yang berbeda, dan era sekarang memerlukan pemimpin model EXPONENTIAL LEADER bukan model kepemimpinan yang lain.

By Jamil Azzaini

Jamu Jati Kendi

13 Mei

Jika melihat orang lain bahagia, selalu yang ditanya “Apa sih resepnya anda berdua bisa hidup sehat & bahagia?”

Yang ditanya sepasang kakek & nenek yang sedang berolah-raga. Si nenek cuma mesem-mesem aja.

Kemudian dengan singkat si kakek jelaskan bahwa mereka bisa hidup sehat & bahagia bersama nenek karena setiap hari minum JAMU JATI KENDI. Racikannya sangat menyehatkan & membahagiakan.

SI kakek menjelaskan ramuan tersebut sebagai berikut.

JAMU = Jaga mulutmu Maksudnya, mulut dijaga agar tak keluarkan kata-kata yang tak pantas. Selain itu agar menjaga mulut untuk tak makan sembarang makanan. Makanlah makanan yang berguna bagi tubuh & Makan secukupnya, sesuai kebutuhan & jangan terlalu kenyang.

JATI = Jagalah hati
Maksudnya, isilah hati dengan perasaan yang positif & selalu bersyukur terhadap yang sudah dimiliki juga tak perlu kecewa dengan yang belum diperoleh. Jangan sampai hati dipenuhi dengan rasa iri, dengki, jahil, fitnah & segala yang dapat menyakiti orang lain.

KENDI = Kendalikan diri Maksudnya: Hiduplah secara normal, Istirahat yang cukup, serta jangan lupa olah raga yang sesuai dengan usia. Kendalikan emosi & keinginan yang bukan merupakan kebutuhan, Buang jauh-jauh ambisi yang tak terukur.

JAMU JATI KENDI Gratis, oleh sebab itu mulailah mencobanya dengan minum setiap hari.

Semoga bermanfaat…