Jejak Sepatu di Karpet

26 Okt

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapian rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapi dan bersih dan teratur, suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan  hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana  tidak enak akan  berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di  rumah, hal ini  mudah sekali terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia  Satir dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu: ‘Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan’ Ibu  itu kemudian menutup matanya.

‘Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang  bersih mengembang, tak  ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana  perasaan ibu?’ Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung  berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; ‘Itu artinya tidak ada  seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau  canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi’. Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya  langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya  terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada  suami dan anak-anaknya.

‘Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah,  orang-orang yang ibu  cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan  hati ibu’. Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

‘Sekarang bukalah mata ibu’ Ibu itu membuka matanya ‘Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?’ Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. ‘Aku tahu maksud anda’ ujar sang ibu, ‘Jika kita  melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak  negatif dapat  dilihat secara positif’.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang  kotor, karena setiap melihat jejak sepatu di sana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah  seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler  untuk menciptakan NLP  (Neurolinguistic Programming) . Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’  sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu  caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang:

Saya BERSYUKUR:

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie  instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain.

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia  berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat  mesum.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan  digaji tinggi

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya  cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih  mampu bekerja keras

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih  ada kebebasan berpendapat

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

10. Untuk setiap permasalahan hidup yang saya hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang  membentuk dan menempa saya untuk menjadi lebih baik lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: